Jalan Panjang Pengabdian, Mimpi Sitimah di Dunia Pendidikan Terkabul

  • 15 Mei 2026 14:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sitimah adalah guru dari SDN Getassrabi, di Kabupaten Kudus. Enam tahun ia mengabdi sebagai guru honorer, kini ia resmi menjadi guru PNS di SDN Getassabri
  • Menjadi guru merupakan pengabdian panjang Sitimah. Mengajar merupakan panggilan jiwa baginya yang dipegangnya sejak lama
  • Namun, usia dan kondisi kesehatan Sitimah menjadi tebing tinggi jalan pengabdiannya. Sitimah berharap suatu hari dapat mengajar di sekolah yang lebih dekat dengan rumahnya

RRI.CO.ID, Jakarta - Jalan panjang pengabdian untuk mencetak generasi muda cerdas tak pernah padam dari benak Sitimah. Ia adalah guru dari SDN Getassrabi, di Kabupaten Kudus.

Saat langit masih gelap dan embun pagi masih berjatuhan, Sitimah justru sudah memanaskan mesin motornya. Berbeda dengan mayoritas kegiatan manusia pada umumnya, pagi buta ia sudah berangkat mengajar.

Kurang lebih empat jam ia habiskan untuk perjalanan menuju ke sekolah. Itu semua ia lakukan, demi bisa berdiri di depan kelas mengajar anak-anak.

"Kurang lebih saya menghabiskan waktu 4 jam di jalan. Pagi hari saya jalan habis subuh, lalu pulang setelah dzuhur dan sampai di rumah pukul 16," ujar Sitimah, dikutip rri.co.id, pada Jumat 15 Mei 2026.

Lika-liku dan lamanya waktu perjalanan tak mematahkan semangatnya. Bagi Sitimah, menjadi guru tidak hanya pekerjaan, namun lebih kepada panggilan jiwa yang ia pegang teguh sejak lama.

Kecintaannya kepada anak-anak membuatnya tetap bertahan. Walaupun itu membuatnya harus menempuh jarak lintas kabupaten setiap hari.

"Kalau saya melanggar sumpah pegawai, saya merasa beban mental," ucapnya lirih. Sorot matanya pun menerawang, suara dan nafasnya seakan tercekat, untuk bisa berkata lebih panjang.

Kisah Sitimah merupakan gambaran perjuangan banyak guru di Indonesia yang tetap mengajar dengan penuh dedikasi di tengah keterbatasan. Selama 22 tahun mengabdi, Sitimah telah melewati berbagai tantangan sebagai tenaga pendidik.

Pada tahun 2004 hingga 2010, Sitimah mengajar dengan status Guru Wiyata Bakti atau guru honorer. Dari mengajar itu, bayaran yang didapatnya tidak sebanding dengan dedikasinya.

"Tahun 2004 saya mulai mengajar, dua tahun kemudian dapat bayaran Rp50 ribu per bulan. Lalu tahun 2008–2010 dapat bayaran Rp220 ribu," kata Sitimah mengenang momen itu.

Namun, Sitimah tak menyangka, datangnya secercah harapan dari pembukaan CPNS tahun 2010. Setelah lulus, setahun kemudian, ia resmi diangkat menjadi abdi negara untuk mencetak anak-anak generasi penerus bangsa.

Sitimah resmi menjadi guru di SDN 7 Getassabri, di mana ia mengajar 72 murid dengan enam ruang kelas. Ia menjadi wali kelas 1 yang merupakan fase penting bagi anak-anak yang baru memasuki dunia sekolah dasar.

Baginya, mengajar kelas 1 harus ekstra sabar karena anak-anak masih dalam masa transisi dari PAUD. Tidak sedikit murid yang masih kesulitan membaca dan menulis.

Karenanya, Sitimah tak jarang memberikan waktu tambahan kepada anak-anak secara sukarela. Tujuannya, agar anak-anak tidak tertinggal pelajaran.

"Saya mengulang anak yang belum bisa membaca atau nelateni yang ketinggalan menulis. Sebelumnya, saya sudah izin kepada orang tua anak," katanya.

Waktu lebih ia berikan untuk mengajar anak-anak, tanpa ada pungutan biaya. Baginya, keberhasilan guru bukan hanya ketika murid mendapatkan nilai baik, tetapi ketika tidak ada anak yang tertinggal pelajaran.

Lantas, Sitimah mengaku bersyukur karena pemerintah memperhatikan nasib dan kesejahteraan para guru. Hal itu terlihat dari kesejahteran para guru yang meningkat.

Salah satunya Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 10 Tahun 2026. Peraturan tersebut mengatur penyaluran tunjangan profesi guru secara langsung setiap bulan ke rekening penerima.

"Sebelumnya tunjangan cair per tiga bulan. Kalau tahun 2026 ini tiap bulan sesuai gaji pokok," katanya sambil tersenyum.

Tambahan penghasilan tersebut tidak hanya membantu Sitimah dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Tetapi juga menjadi jalan bagi Sitimah untuk berbagi kepada sesama.

Ia rutin membantu anak yatim, kaum duafa, hingga murid-murid dari keluarga kurang mampu. Bahkan, ia bisa berkurban dan berbagi kepada anak-anak kurang mampu.

"Alhamdulillah berkah, saya bisa tiap tahun menyantuni anak yatim dan duafa, serta bisa ikut kurban di kampung. Terkadang bisa membantu perekonomian murid yang benar-benar minim ekonominya," katanya.

Sayangnya, usia dan kondisi kesehatan Sitimah menjadi tebing tinggi jalan pengabdiannya. Sitimah berharap suatu hari dapat mengajar di sekolah yang lebih dekat dengan rumahnya.

"Njih niku, saya ingin mutasi karena kondisi usia dan kesehatan," ujarnya pelan. Ini disampaikannya kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti.

Sitimah mengaku telah dua kali mengajukan mutasi. Namun ternyata belum dapat terealisasi karena sekolah tempatnya mengajar masih kekurangan tenaga pendidik.

Di hadapan jajaran pemerintah daerah, Mendikdasmen meminta agar persoalan tersebut segera dicarikan solusi. Ia memahami betul kondisi Sitimah.

"Dilepas saja jika ada sekolah yang sudah bersedia menerima Ibu pindah. Kasihan terlalu jauh," kata Abdul Mu’ti kepada perwakilan Dinas Pendidikan yang hadir.

Pemerintah telah menerbitkan Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2025 tentang Redistribusi Guru ASN. Kebijakan ini diharapkan dapat membantu pemerataan kebutuhan guru sekaligus memberi ruang bagi penataan yang lebih manusiawi.

Di tengah perjalanan panjang yang setiap hari ia tempuh, Sitimah tetap percaya, menjadi guru adalah jalan pengabdian. Ia tidak berbicara tentang seberapa jauh jarak yang dilalui. Namun seberapa besar ketulusan yang diberikan demi masa depan anak-anak Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....