Merengkuh Denyut Napas Bumi dalam Doa Kenaikan Yesus Kristus di Katedral
- 14 Mei 2026 12:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Romo Yohanes Deodatus SJ mengajak umat menjaga kemanusiaan dan keutuhan alam dalam Misa Kenaikan Yesus Kristus.
- Tema lingkungan hidup disorot melalui penilaian terhadap polusi udara dan persoalan sampah di Jakarta.
- Jemaat Katedral Jakarta memaknai iman melalui tindakan sederhana menjaga bumi dan menghemat energi.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kabut tipis Jakarta melayang lirih di langit pagi Gereja Katedral Jakarta, Kamis, 14 Mei 2026. Di antara denting doa Hari Raya Kenaikan Tuhan, umat diajak merengkuh bumi yang perlahan kehilangan denyut napasnya.
Di bawah cahaya kaca patri yang jatuh lembut ke bangku-bangku gereja, umat menundukkan kepala dalam hening panjang. Doa-doa yang melangit seperti bertemu di altar, membawa kegelisahan tentang manusia dan alam yang kian rapuh.
Pastor di Gereja Katedral Jakarta, Romo Yohanes Deodatus SJ, memaknai Kenaikan Tuhan Yesus melalui tiga pesan penting. Baginya, perayaan suci itu bukan sekadar kisah langit, melainkan perjalanan manusia membersihkan hati, mendengarkan nurani, dan menjaga sesama dengan kasih.
Romo Deo menjelaskan, Yesus tidak langsung naik ke surga setelah kebangkitan terjadi. Selama 40 hari, Yesus hadir menemani para murid, menyalakan keberanian, dan meninggalkan damai di tengah ketakutan manusia.
“Maka Yesus tidak pernah berlaku keras, tetapi membawa damai kepada setiap makhluk. Lalu yang kedua, kita tahu bagaimana Yesus sungguh mencintai orang-orang kecil, orang-orang miskin, orang-orang yang menderita,” kata Romo Deo di Gereja Katedral, Jakarta, Kamis, 14 Mei 2026.
Ia menilai Roh Kudus menjadi kompas sunyi dalam batin manusia, yang menuntun langkah menuju keadilan dan kemanusiaan. Ketika nurani mulai redup, manusia perlahan kehilangan arah dan mudah melukai sesamanya sendiri.
“Kalau manusia sudah dikatakan kehilangan hati nurani ya, pada keadilan, pada kemanusiaan, itu artinya apa? Tidak mendengarkan dorongan roh kudus ya, tapi mendengarkan suara roh jahat,” ujar Romo Deo.
Bagi Romo Deo, tugas umat Katolik tidak berhenti di balik lilin dan doa-doa liturgi. Iman harus menjelma menjadi tangan yang merangkul yang lemah, sekaligus menjaga bumi yang semakin letih menanggung luka manusia.
Tema keutuhan alam ciptaan dalam Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus 2026 pun disorot tajam dalam khotbah misa. Romo Deo mengaitkannya dengan langit Jakarta yang semakin kelabu oleh polusi dan udara yang kian sesak dihirup setiap hari.
“Maka keutuhan alam ciptaan yang akhir-akhir ini kita lihat, dengan polusi ya di Jakarta. Kalau lihat aplikasi kan sudah itu merah gitu ya,” kata Romo Deo.
Ia menilai persoalan sampah dan kualitas udara bukan lagi sekadar isu kota besar, melainkan tanda bumi sedang meminta manusia berhenti abai. Jakarta, menurutnya, membutuhkan lebih banyak hati yang peduli.
Perayaan Misa Kenaikan Tuhan di Gereja Katedral Jakarta berlangsung dalam empat sesi ibadah berbeda. Ribuan umat memenuhi area dalam dan luar gereja dengan langkah tenang serta doa-doa yang mengalir khusyuk sepanjang misa.
Romo Deo menjelaskan misa berlangsung tanpa tenda tambahan seperti perayaan Natal dan Paskah sebelumnya. Pembagian empat sesi membuat kapasitas umat dinilai tetap terkendali dan ibadah berjalan tertib.
Salah satu jemaat Gereja Katedral Jakarta, Eva, memaknai perayaan itu lewat tindakan kecil yang menjaga bumi tetap bernapas. Ia memilih membuang sampah pada tempatnya dan lebih sering menggunakan transportasi umum.
“Mungkin menghemat energi. Kemudian kalau misalnya jaraknya tidak terlalu jauh, masih bisa jalan kaki,” ujar Eva.
Di tengah kesibukan pekerjaan yang kerap menyita hari-harinya, Eva tetap berusaha datang ke gereja setiap pekan. Ia berharap generasi muda tidak hanya menjaga iman di dalam hati, tetapi juga menjaga bumi sebagai rumah yang dititipkan Tuhan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....