Berangkat Berdua dalam Niat, Tiba Sendiri dalam Takdir

  • 01 Mei 2026 21:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sunasih berangkat haji tanpa suami yang wafat
  • Kuota suami dialihkan kepada anak
  • Jemaah tetap bersyukur dan khusyuk beribadah

LANGIT Madinah pagi itu terasa teduh, seolah memberi ruang bagi setiap doa yang diam-diam dipanjatkan. Di antara deretan jemaah yang baru saja tiba, langkah Sunasih tampak mantap, meski hatinya menyimpan cerita yang tak sederhana.

Perempuan asal Indramayu itu menunaikan ibadah haji tahun ini tanpa sosok yang dulu berjalan bersamanya dalam niat. Suami tercinta yang telah lebih dulu berpulang.

Ia masih mengingat jelas awal perjalanan ini dimulai. Pada 2013, mereka mendaftar haji bersama, menyimpan harapan yang sama untuk suatu hari menjejakkan kaki di Tanah Suci berdua. Namun waktu berkata lain.

Pada 2025, suaminya meninggal dunia, menyisakan rindu yang kini ia bawa dalam setiap langkah ibadahnya. “Daftar haji tahun 2013 bareng suami, tapi suami meninggal tahun kemarin,” ujarnya pelan di bandara Madinah, Rabu, 22 April 2026.

Perjalanan yang dulu dirancang berdua kini harus ia jalani sendiri. Meski begitu, Sunasih tidak benar-benar sendiri.

Ada doa-doa yang ia titipkan. Ada kenangan yang tetap hidup di dalam hati.

Kuota haji milik sang suami kini dialihkan kepada anak mereka. Kelak, sekitar lima tahun mendatang, anak itu akan berangkat bersama pasangannya, melanjutkan jejak yang sempat terhenti.

Di wajah Sunasih, tersirat perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Bahagia dan duka hadir bersamaan, berpadu dalam keheningan yang justru terasa hangat.

“Alhamdulillah, senang. Rasanya campur aduk,” ujarnya lirih.

Ibadah haji kali ini bukan sekadar perjalanan spiritual, melainkan juga perjalanan batin. Setiap doa yang ia panjatkan akan membawa nama suaminya, setiap langkah menjadi bentuk cinta yang tak pernah benar-benar usai.

Ia bertekad menjalani setiap rangkaian ibadah dengan sepenuh hati. Dari Tanah Suci, ia ingin menghadiahkan doa terbaik bagi almarhum, seolah menyempurnakan perjalanan yang dulu mereka rencanakan bersama.

Di antara para jemaah, kisah serupa juga datang dari Tarwono, kerabat yang menemaninya. Ia pun berangkat dengan cerita kehilangan.

Istrinya meninggal dunia pada 2023, meninggalkan ruang kosong yang kini ia isi dengan doa. “Daftar bareng istri, tapi meninggal tiga tahun lalu, dan sekarang digantikan anak,” katanya.

Dua kisah itu bertemu dalam satu perjalanan yang sama. Perjalanan menuju keikhlasan.

Di Tanah Suci, rindu tak lagi hanya menjadi duka. Ia menjelma doa, mengalir pelan bersama harapan. Bahwa mereka yang telah pergi tetap dekat, hadir dalam setiap sujud, dan hidup dalam setiap doa yang tak pernah putus.

Dan di antara jutaan langkah menuju Tuhan, langkah-langkah itu menjadi saksi, bahwa cinta tak benar-benar berakhir. Ia hanya berubah cara untuk tetap tinggal.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....