Pahlawan tanpa Seragam: Pemulung Dibalik Roda Ekonomi Sirkular

  • 29 Mar 2026 06:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Kala langit Jakarta mulai berwarna oranye, saat matahari mulai turun, sebagian besar pekerja kantoran bersiap untuk pulang, perjuangan Rio justru baru saja dimulai. Menjelang pukul 17.00 WIB Pria berperawakan kurus itu merapikan plastik hitam besar dan karung bersiap mencari rezeki.

“Perginya sore, soalnya kalau siang saingannya banyak,“ ujarnya sembari melempar senyum tipis. Rio tinggal di sebuah pemukiman semi-permanen tepat di belakang keriuhan Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Di sana, ia berbagi ruang sempit dengan istrinya dan beberapa rekan seprofesi. Bagi mereka, suara bising kereta api yang melintas adalah alarm kehidupan yang tak pernah berhenti berdenyut. Sejak pertama kali datang ke Jakarta di tahun 2024 tempat tersebut menjadi tempatnya berlindung.

Menembus Gunungan Sampah, Menjaga Lingkungan

Rio datang bersama adiknya Andre pada tahun 2024, maksud kedatangan mereka adalah untuk mengadu nasib di Ibu kota, namun sulitnya mendapatkan pekerjaan membawa Rio dan Andre menjadi Pemulung. Kini, sudah 2 tahun lamanya Rio mengerjakan pekerjaan ini.

Tujuan pertama Rio sore itu adalah tempat pembuangan sampah (TPS) yang terletak tak jauh dari kediamannya, persis di bawah jembatan penyebrangan orang. Dibalik bau menyengat dan tumpukan limbah yang menggunung, tangan-tangan lincah Rio memilah satu per satu botol plastik, gelas plastik, hingga alumunium atau kaleng bekas.

Tanpa disadari banyak orang, apa yang dilakukan Rio adalah urat nadi dari ekonomi sirkular. Di saat dunia berteriak tentang krisis sampah, Rio dan kawan-kawannya adalah Pahlawan Tanpa Seragam yang memastikan barang-barang yang dianggap sampah bisa masuk kembali ke rantai industri untuk didaur ulang.

“Awalnya, rasa malu masih tinggi. Namun, setelah satu hingga dua bulan terjun langsung, saya mulai berpikir, mengapa harus malu,” ucapnya sambil memasukkan botol plastik ke dalam kantongnya.

Tidak hanya memilah sampah yang sudah tercampur di TPS, untuk mendapatkan pundi-pundi uang Rio harus menyortir, membersihkan, lalu menjualnya ke Pengepul. Penghasilannya mungkin tidak banyak, tapi dari sampah tersebut ia bisa menghidupi istri dan anaknya.

Harapan di Balik Debu

Bagi Rio, setiap botol yang ia temukan bukan sekadar sampah, melainkan harapan. Hasil dari berkeliling hingga tengah malam bahkan dini hari akan dikumpulkan untuk biaya hidup bersama istri dan juga anaknya.

Ditengah himpitan ekonomi ibu kota, Rio tetap memilih jalan jujur, meski harus berkawan dengan bau dan kotoran. “Yang penting halal, kita tidak mengambil barang orang, justru mengambil apa yang dibuang orang,” katanya.

Rio memang tidak memakai seragam dinas yang rapi atau tanda jasa di dada. Namun, lewat langkah kakinya yang menyusuri sudut-sudut kawasan Tanah Abang, Rio membuktikan bahwa pahlawan lingkungan sering kali datang dalam wujud yang paling sederhana.

Mereka yang bekerja dalam diam demi bumi yang lebih bersih dan dapur yang tetap mengepul. Saat malam semakin larut dan lampu-lampu gedung pencakar langit mulai menyala, Rio masih terus melangkah.

Roda ekonomi sirkular terus berputar, dan ia adalah salah satu penggerak utama yang paling tangguh. Rio berharap nantinya ada perhatian dari pemerintah untuk pekerja pemulung yang sudah berperan besar menjaga lingkungan.

Ekonomi Sirkular

Ekonomi sirkular adalah model ekonomi yang memaksimalkan penggunaan sumber daya dan meminimalkan limbah. Tentunya, konsep ini berbeda dengan ekonomi linear yang berprinsip “ambil, pakai, buang” karena ekonomi sirkular berfokus pada memperpanjang daur hidup sebuah produk agar bisa memiliki nilai guna dalam waktu yang lama.

Akademisi Ekonomi Sirkular dari Universitas Indonesia, Dr.Eng Astryd Viandila Dahlan dalam wawancara bersama RRI pada Senin, 16 Maret 2026 mengatakan Pemulung merupakan tulang punggung dari roda ekonomi sirkular. Statusnya informal, tetapi perannya sangat penting untuk memasok sampah menjadi bahan baku.

“Antara sampah dengan pemasok untuk didaur ulang, disitulah pemulung memiliki peranan yang sangat penting," ucap Astryd. Tanpa adanya pemulung, ekonomi sirkular tidak akan bisa berjalan.

Menurut Astryd, Industri daur ulang cukup bergantung pada pemulung walaupun selain pemulung saat ini sudah ada banyak bank sampah. Berdasarkan data dalam jurnal Waste Management & Research tahun 2022, Jumlah sampah yang dikumpulkan oleh pemulung individu adalah 43,87 kg/orang/hari, dengan tingkat daur ulang sekitar 12%.

Meskipun persentasenya relatif kecil, tanpa kontribusi pemulung, sebagian besar sampah di perkotaan maupun tingkat nasional berpotensi tercampur dan berakhir di TPS hingga TPA tanpa proses pemilahan. Astryd berharap pemerintah dapat memperkuat pendekatan terhadap pemulung, sekaligus memberikan perhatian yang lebih adil pada kesejahteraan finansial mereka.

“Harapannya (Pemerintah) bisa melakukan pendekatan yang lebih lagi melalui orang sosial. Kalau bisa juga pemerintah tetap memperhatikan mereka di bagian keuangan,“ katanya.

Meskipun setiap hari berperan langsung dalam mengumpulkan sampah, pemulung justru memiliki penghasilan paling rendah dibandingkan aktor lain dalam rantai pengelolaan, seperti pengepul. Oleh karena itu, sudah saatnya peran penting pemulung diakui dan diiringi dengan dukungan kebijakan yang lebih berpihak demi terciptanya sistem pengelolaan sampah yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu meneladani peran pemulung dengan mulai memilah dan mengelola sampah dari rumah. Sebagai langkah nyata untuk membantu mengatasi permasalahan sampah dan mendorong roda ekonomi sirkular bisa terus berjalan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....