Kala Lantunan Khas Gayo Menggema di London, Kisah Azan yang Tak Terduga
- 22 Mar 2026 10:22 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Lantunan khas Gayo itu menggema khidmat, menandai berakhirnya puasa Ramadan bagi umat Muslim
- Bagi Yusradi, pengalaman tersebut menjadi momen berharga yang tak terlupakan selama berada di perantauan
- Setelah azan selesai, suasana hening sejenak sebelum disambut pujian
SENJA di Croydon, London, Inggris perlahan turun dengan langit menguning saat umat Muslim menanti waktu berbuka. Di Grand Sapphire Hotel dan Banqueting, ratusan orang berkumpul merasakan hangatnya kebersamaan pada penghujung Ramadan tahun ini bersama.
Yusradi Usman al-Gayoni, diaspora asal Takengon, Aceh Tengah, Provinsi Aceh, hadir mengikuti Festival Ramadan yang digelar selama dua hari di London. “Alhamdulillah, bisa azan dalam festival Ramadan yang digelar selama dua hari,” ujarnya melalui pesan singkat dari London, dikutip dari laman, RRI.CO.ID, Takengon, Minggu, 22 Maret 2026.
Ia datang sebagai tamu biasa tanpa rencana tampil, menikmati rangkaian acara sambil menunggu waktu berbuka bersama peserta lainnya. “Terlebih, kemarin hari puasa terakhir di UK, Kamis, 19 Maret 2026," kata Yusradi menjelaskan momen tersebut yang terasa semakin istimewa.
Menjelang waktu berbuka, sekitar dua belas menit sebelum azan Magrib, imam yang dijadwalkan belum juga hadir di lokasi. “Saya kemudian menjumpai pimpinan hotel dan menyebutkan bisa azan kalau imam tidak hadir,” ucapnya, mengenang situasi.
Situasi itu membuat panitia mulai cemas, sementara waktu terus berjalan mendekati detik berbuka puasa bagi seluruh peserta. “lTak disangka, pimpinan langsung menyampaikan kepada bagian acara agar Yustadi melakukan azan magrib,
Tidak lama kemudian, panitia memutuskan meminta Yusradi menjadi muazin untuk azan Magrib di hadapan ratusan peserta festival tersebut. Saat waktu berbuka tiba pukul delapan belas lewat lima belas GMT, suara azan pun mengalun memenuhi ruangan hotel tersebut.
Lantunan khas Gayo itu menggema khidmat, menandai berakhirnya puasa Ramadan bagi umat Muslim yang hadir sore itu. “Alhamdulillah, azan berlangsung lancar dan khidmat,” ujar Yusradi menceritakan momen yang penuh haru tersebut.
Setelah azan selesai, suasana hening sejenak sebelum disambut pujian dan apresiasi dari para peserta dan staf hotel. “You have very good voice, it was beautiful azan,” ucap beberapa peserta memberikan apresiasi atas lantunan tersebut.
Bagi Yusradi, pengalaman tersebut menjadi momen berharga yang tak terlupakan selama berada di perantauan jauh dari kampung halaman. Ia sebelumnya juga pernah mengumandangkan azan di Bandara Luton dan Sutton Central Masjid selama tinggal di Inggris.
Namun, pengalaman di Croydon terasa berbeda karena terjadi tanpa rencana dan di tengah situasi yang membutuhkan keberanian. Dari dataran tinggi Gayo hingga London, suaranya menjadi penghubung identitas, menghadirkan kisah sederhana yang penuh makna mendalam.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....