Kisah Menteri Abdul Mu’ti Jaga Tradisi, dari 'Nunggu Ndul' hingga Menulis di Ramadan

  • 08 Mar 2026 23:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta -- Bagi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti, bulan Ramadan bukan sekadar rutinitas ibadah tahunan. Di balik kesibukannya sebagai pejabat negara, tersimpan kenangan masa kecil yang membentuk cara pandangnya tentang kebersamaan dan pendidikan.

Ketika ditemui dalam podcast di PRO3 Siniar Radio Republik Indonesia, Mu’ti membuka cerita dengan santai. Ia mengaku aktivitas Ramadan kini tidak banyak berubah, meski bentuk dakwahnya berbeda dibandingkan masa sebelum menjadi menteri.

“Kalau sebelum jadi menteri kan saya banyak ceramah. Sekarang selama jadi menteri saya usahakan malah lebih banyak menulis,” ujarnya.

Menurutnya, menulis menjadi cara lain untuk tetap memberikan pencerahan kepada masyarakat. Terutama terkait pemahaman keagamaan selama Ramadan.

Kesibukan sebagai menteri juga membuat beberapa rutinitas pribadinya harus menyesuaikan. Salah satunya olahraga yang biasanya rutin dilakukan di luar bulan puasa.

“Kalau tidak puasa biasanya saya jalan pagi dan seminggu sekali badminton di kantor. Tapi selama puasa ini jalan paginya belum lagi,” kata Mu’ti sambil tersenyum.

Namun ada satu kebiasaan Ramadan yang sulit ditinggalkan: gorengan. Ia mengaku makanan tersebut sudah melekat sejak masa kecilnya.

“Ya itu karena kebiasaan masa kecil. Tapi sekarang sudah jauh dikurangi karena alasan kesehatan,” ucapnya.

Ramadan di Kudus

Kenangan Ramadan Mu’ti banyak terbentuk di kampung halamannya di Kudus. Kota yang dikenal religius itu menghadirkan tradisi Ramadan yang sederhana, namun penuh kebersamaan.

Saat kecil, Ramadan berarti libur sekolah sebulan penuh dari madrasah tempatnya belajar. Hari-hari diisi dengan kegiatan ibadah dan aktivitas bersama teman sebaya.

Salah satu rutinitasnya adalah tadarus Al-Qur’an. Ayahnya bahkan memberi motivasi khusus agar ia bisa mengkhatamkan Al-Qur’an selama Ramadan.

“Bapak saya memberi motivasi kalau Ramadan bisa khatam 30 juz. Nanti saya diberi hadiah,” kenangnya.

Motivasi itu membuatnya berusaha membaca Al-Qur’an setiap hari. Targetnya sederhana, satu hari satu juz.

Selain tadarus, sore hari menjadi waktu yang paling ditunggu. Jika di Jakarta dikenal sebagai ngabuburit, di Kudus istilahnya berbeda: Nunggu Ndul.

Tradisi ini dilakukan dengan berkumpul di pinggir kampung menjelang magrib. Anak-anak menunggu tanda waktu berbuka yang ditandai suara petasan besar dari kejauhan.

“Kami nunggu di ufuk timur. Sambil bawa air putih sama tebu yang sudah dikupas,” katanya.

Yang menarik, mereka selalu berlomba siapa yang pertama melihat kilatan cahaya petasan. Baru setelah itu terdengar suara ledakannya.

Belakangan, Mu’ti menyadari fenomena itu berkaitan dengan ilmu fisika. “Cahayanya sampai dulu, baru suaranya belakangan,” ujarnya.

Tarawih, Semaan, dan Rebutan Makanan

Malam Ramadan di kampung juga punya cerita tersendiri. Setelah salat tarawih, warga biasanya mengadakan semaan, yaitu membaca Al-Qur’an bersama secara bergiliran.

Suasana menjadi hidup karena setiap orang saling menyimak bacaan temannya. Kadang diselingi komentar atau respons spontan ketika ayat tertentu dibaca.

Namun bagi anak-anak, bagian paling seru justru datang setelahnya. Setiap malam, warga membawa makanan ke masjid dalam tradisi yang disebut mejalen.

Makanan diletakkan di tampah besar dan dibagikan bersama. “Saya sering tidak dapat karena paling kecil di antara teman-teman,” katanya sambil tertawa.

Tradisi lain yang tak kalah berkesan adalah tarheem, yaitu bacaan atau bunyi beduk untuk membangunkan warga sahur. Mu’ti bahkan termasuk anak yang senang memukul beduk di masjid.

“Masjidnya punya menara tinggi. Jadi kalau beduk dipukul suaranya jauh,” ujarnya mengenang.

Ia juga sering diminta membaca tarheem lewat pengeras suara menjelang sahur. Biasanya dimulai sekitar pukul tiga pagi hingga menjelang imsak.

Kerinduan pada Ramadan Kampung

Pengalaman Ramadan di kampung itu ia rasakan hingga masa kuliah. Setelah menjadi mahasiswa di Semarang, frekuensi pulang kampung mulai berkurang.

Meski begitu, kenangan tersebut tetap membekas hingga kini. Bahkan, ia mengaku terkadang merindukan suasana Ramadan seperti masa kecil dulu.

“Kita merindukan suasana itu. Itu karena kedekatan dengan teman sekampung sangat kuat,” ujarnya.

Menurut Mu’ti, pengalaman sosial seperti itu semakin jarang dirasakan anak-anak masa kini. “Anak sekarang punya teman sekelas, tapi tidak punya teman sekampung,” kata Mu'ti.

Ia menilai perubahan gaya hidup dan teknologi membuat anak-anak lebih sering menghabiskan waktu dengan gawai. Padahal, interaksi sosial di lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam pembentukan karakter.

Bagi Mu’ti, Ramadan masa kecil di kampung bukan hanya soal ibadah. Ia adalah ruang belajar tentang kebersamaan, kesederhanaan, dan nilai-nilai kehidupan yang bertahan hingga hari ini.

Rekomendasi Berita