Berawal Iseng Menjadi Sebuah Rumah Impian
- 25 Feb 2026 18:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Sapto sedang duduk di teras menikmati segelas kopi pagi ketika RRI menyambangi di rumah tipe 60 yang dimilikinya. Sudah 10 tahun rumah itu menaungi ia dan keluarganya, yang bahkan dulu jauh dari khayalannya.
"Dulu waktu masih muda sih menghayalnya punya rumah yang bisa menghirup udara sejuk, jauh dari polusi, sambil sesekali menyapa para tetangga yang lewat. Ngga terbayang akan kesampaian apalagi belum kerja saat muda dulu," kata Sapto, pria berusia di 38 tahun.
Setelah menikah dan memiliki anak satu, Sapto dan istrinya yang juga bekerja mulai ingin mewujudkan mimpi Sapto. Namun mengingat harga tanah dan rumah yang mahal, sulit bagi mereka berdua untuk memiliki rumah di Jakarta.
Sapto dan istrinya mengubur sementara keinginan dan impian mereka. Hingga suatu hari ia datang ke rumah salah satu keluarganya yang berada di Depok.
"Kebetulan waktu itu ada acara keluarga di Depok, di rumah tante saya. Kok saya liat bagus juga tempatnya, saya tertarik sama perumahan itu," ucap Sapto.
Akses menuju perumahan yang terletak di Kabupaten Bogor terbilang mudah dijangkau karena dekat dengan stasiun kereta dan angkutan umum. Fasilitas kesehatan dan pasar tidak terlalu jauh bahkan stasiun kereta bisa ditempuh dalam waktu tujuh menit menggunakan motor.
"Awalnya saya iseng tanya ke Tante, ada rumah yang mau dijual nggak di daerah sana karena saya tertarik sama aksesnya yang gampang, klinik, pasar, stasiun deket jadi gampang kemana-mana. Eh ternyata memang rezeki saya, ternyata dikasih tahu tante ada rumah dijual," kata Sapto ketika diwawancarai RRI, Minggu, 8 Februari 2026.
Sepertinya semesta mendukung mimpi dan keinginan Sapto untuk memiliki rumah, ada sebuah rumah yang akan dijual. Ia bertemu langsung dengan pemilik rumah, Lili yang setuju untuk menjual rumahnya pada Sapto.
"Jadi waktu itu saya dianter sama tante buat ketemu langsung pemilik rumah. Ngobrol lah kami dan saya diajak untuk lihat keadaan rumah, akhirnya saya setuju untuk beli rumah itu," ujar Sapto.
"Saya beli dengan cara KPR. Soalnya saat itu saya sanggupnya seperti itu."
Proses pengajuan KPR terbilang mudah dengan cara mengisi aplikasi pengajuan dan persyaratan yang dibutuhkan. Saat itu Sapto mengajukan KPR sebesar Rp250.000.000.
"Saya dateng beberapa minggu kemudian ke BTN bawa semua persyaratan yang dibutuhkan, aplikasi pengajuan KPR, dokumen pribadi. Ada juga dokumen penghasilan, dan dokumen rumah yang akan dibeli," ucap Sapto.
BTN melakukan penilaian ulang rumah (apraisal) dan menganalisis kemampuan keuangan Sapto. Dua minggu kemudian, Sapto mendapatkan kabar baik bahwa BTN menyetujui pengajuan KPR-nya.
Sapto tidak menyangka proses pengajuan dan penyeyujuan KPR di BTN begitu mudah dan cepat. Ia mengaku sangat terbantu dengan semua fasilitas yang diberikan BTN.
"Proses di BTN tuh nggak lama kok, saya setelah ngobrol sama pemilik rumah, terus selang beberapa minggu pengajuan ke BTN. Kaget juga ternyata setelah pengajuan, apraisal sama survei tuh jaraknya cuma dua minggu, terus disetujuin pengajuan saya Rp210.000.000. Alhamdulillah banget saya makanya," ucap Sapto penuh syukur.
Semua kemudahan tidak hanya saat Sapto mengajukan KPR, namun juga ketika masa pandemi Covid-19 terjadi. BTN memberikan restrukturisasi pembayaran rumah selama tiga tahun bagi para nasabahnya, salah satu yang beruntung adalah Sapto.
BTN memberikan program restrukturisasi pembayaran, para nasabah hanya wajib membayar bunga angsuran saja. Namun untuk mendapatkan keringanan pembayaran tersebut, nasabah harus memilih salah satu dari program restrukturisasi yang diberikan BTN.
"Waktu zaman Covid-19 kan semua juga susah, mau ke mana-mana enggak bisa. Mungkin bukan cuma saya yang takut enggak bisa bayar cicilan, tapi setelah instruksi Presiden soal restrukturisasi, BTN ngasih kami nasabah KPR restrukturisasi," ujar Sapto.
Nasabah harus memilih untuk menambah tenor angsuran atau menambah jumlah nominal angsuran. Sapto memilih pilihan kedua karena menurutnya itu lebih meringankan.
"Saya pilih tambah angsuran aja dari Rp2,6 juta per bulan jadi Rp3,3. Nggak apa-apa nambah angsuran, asal jangan nambah tenor, berat buat saya,"
Sampai saat ini sudah sepuluh tahun Sapto menjadi nasabah KPR. Selain mudahnya pengajuan KPR, BTN juga memberikan kemudahan akses pembayaran digital bagi semua nasabahnya.
Superapps Bale by BTN terintegrasi dengan Bale Properti membantu masyarakat memilih rumah dan dapat mengajukan KPR secara online. Hal ini senada dengan kalimat yang disampaikan oleh Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu pada salah satu acara.
“Ekosistem perumahan dan transaksi perbankan yang komprehensif dapat diakses hanya dalam genggaman tangan melalui satu aplikasi saja secara end-to-end. Dengan upaya ini, BTN beraspirasi menjadi bank transaksional sehingga BTN dapat memiliki mesin funding atau pendanaan yang berkelanjutan untuk mendukung program pembangunan perumahan nasional,” ucap Nixon di Jakarta, Rabu, 4 November 2025.
Bukan hanya Sapto nasabah yang diberikan kemudahan dalam proses KPR oleh BTN. Ada sekitar 220.000 nasabah pada tahun 2025 yang diberikan kemudahan dalam akad rumah pada program "Tiga Juta Rumah".
"BTN mengakadkan 220.000 unit KPR FLPP pada tahun ini. Kalau dibagi dengan hari kerja, setiap hari kita bisa mengakadkan sekitar 1.000 rumah," katanya seperti dikutip dari btn.co.id.
"Jadi BTN menjalankan mesin terbesar di Indonesia. Terutama untuk mendukung pemenuhan kebutuhan rumah."