Ketuk Pintu Langit dari Jalanan, Kini Genggam Kunci KPR BTN Impian
- 23 Feb 2026 03:18 WIB
- Pusat Pemberitaan
Di Indonesia...
RRI.CO.ID, Jakarta - Empat kali Heri Purwanto mengajukan kredit rumah. Empat kali pula pengajuannya ditolak bank.
“Nggak kebayang banget sih, Mas. Dari dulu pengen punya rumah, ya,” ujar Heri yang kini sehari-hari mencari nafkah sebagai mitra pengemudi Gojek di kawasan Kampung Pentul, Tinjomoyo, Semarang, Senin, 16 Februari 2026.
Dorongan terbesar Heri kala itu adalah sang istri yang sangat mendambakan tempat bernaung sendiri. Apalagi, ia masih menumpang di rumah mertuanya di Jatingaleh.
“Soalnya kan dia sudah pengen. Keluarganya banyak, pengen, pengen punya rumah sendiri itu dari dulu,” katanya saat menceritakan kembali perjalanannya kepada RRI.
Demi mewujudkan impian itu, Heri mencoba jalur konvensional. Namun, rentetan penolakan itu terjadi bukan saat ia menjadi pengemudi ojek daring.
Penolakan tersebut datang justru ketika ia masih menjalani pekerjaan formal dengan jabatan menjanjikan, yakni sebagai supervisor. Meski berstatus karyawan tetap, bank tetap menolak pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR)-nya.
"Dulu supervisor di Breadtalk. Gaji padahal kan lima juta ke atas. Itu aku tanggung istri, anak dua," ujarnya saat mengenang kembali pengalamannya bekerja di tahun 2016.
“Makanya, aku yang nggak subsidi itu udah ngajuin beberapa. Hilang uang buat tanda jadi udah empat kali apa berapa, Mas. Lima jutaan dulu,” kata Heri mengingat pengalamannya yang berujung frustrasi.
“Empat perumahan tuh tanda jadi, Mas. Terus, kalau nggak ACC, hilang ternyata.”
Belum sempat Heri mendapatkan rumah impiannya, pandemi Covid-19 pun melanda. Kondisi ekonomi yang lesu memaksa perusahaan tempat Heri bernaung melakukan efisiensi dan penghasilannya ikut terdampak.
“Covid dua tahun itu gajinya cuma setengah, Mas. (Kebijakan-red) dari perusahaan, daripada pengurangan, gaji dibagi-bagi sama yang lain, disamaratakan. Makanya, aku keluar dulu," katanya.
Sejak 2016, Heri sebenarnya sudah memiliki akun Gojek sebagai pekerjaan "sambilan" dengan penghasilan “lumayan” dari bonus-bonus yang diterimanya. Namun, sejak tahun 2020, ia akhirnya memutuskan banting setir, memantapkan diri menjadi pengemudi ojek daring purnawaktu.
Namun, tanpa memiliki slip gaji bulanan, peluang mengajukan KPR nyaris tertutup rapat. Heri seolah dipaksa untuk pasrah dan mengubur mimpinya memiliki rumah dalam-dalam.

“Aku tuh udah nggak tak pikir (sudah tidak dipikirkan lagi-red), Mas. Udah nggak punya harapannya. Kayak, udah kemarin-kemarin kan ditolak.”
Soni Yuliawan yang memilih jalan berbeda juga merasakan pengalaman serupa. Sebagai mitra Gocar yang sama-sama tinggal di Kota Semarang, Soni merasakan tanggung jawab besar sebagai kepala keluarga.
“Karena harapan kalau sudah menjadi kepala keluarga kan, pengennya ngasih kenyamanan sama anak dan istri kan, Mas. Tanggung jawab seorang ayah mungkin tumbuh dari situ, Mas,” kata Soni kepada RRI, Jumat, 13 Februari 2026.
Awal perkenalannya dengan aspal jalanan bermula pada tahun 2016, saat transportasi daring mulai masuk ke Semarang. Sebelum menggantungkan hidup di balik kemudi taksi daring, ia sempat mencicipi pekerjaan formal selama 1,5 tahun.
Ia bekerja sebagai concierge front office di Hotel Ibis. Kala itu, Soni tidak langsung meninggalkan pekerjaannya.
Ia memilih menjalani peran ganda. Selepas menuntaskan shift pagi di hotel dari jam 04.30 hingga pukul 13.00 siang, ia tidak langsung pulang beristirahat.
Soni lanjut "narik" menggunakan mobil pinjaman milik temannya. Lelah fisiknya terbayar ketika melihat hasil yang didapat.
“Wah, kok enak gitu kan. Karena juga teriming-iming uang, nyari uang mudah dengan bonusnya kan dulu masih gede ya, Mas. Satu trip itu sampai Rp300 ribu,” kata Soni mengenang masa-masa awalnya bergabung di Gocar.
Keinginan untuk memiliki usaha sendiri dan waktu yang lebih fleksibel mendorongnya mengambil keputusan besar. Soni menjual motornya untuk dijadikan uang muka membeli mobil sendiri dan memutuskan berhenti dari pekerjaan hotelnya.
“Setelah itu jalan 1,5 tahun itu saya resign. Resign dari hotel karena ya itu tadi, wah kok enak pendapatannya gede kalau di online,” ujarnya.
Menjadi mitra Gocar penuh waktu pada 2018 ini membawa konsekuensi tersendiri bagi impiannya memiliki rumah. Menambah cicilan rumah di atas cicilan mobil adalah hal yang mustahil dilakukan bersamaan.
“Ndak pernah (mimpi dapat rumah-red). Karena ini sih Mas, mungkin mindset saya itu kalau dulu kan mobilnya masih utang, masih nyicil,” kata Soni.
“Kan kalau punya cicilan mobil, belum bisa nyicil lagi untuk rumah. Ya di situ mindset saya, ‘wah nunggu mobil lunas’,” katanya lagi.
Karena itu, Bank BTN dan Gojek...
Di Indonesia, Heri dan Soni masuk dalam kategori pekerja informal dan bukan kelompok minoritas. Jumlah mereka justru mayoritas dalam struktur angkatan kerja nasional.
Lembaga riset International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) menguraikannya dalam dokumen Analisis Ringkas edisi Oktober 2025. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, INFID mencatat terdapat 153,05 juta angkatan kerja secara nasional.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 86,57 juta orang (59,40 persen) merupakan pekerja di sektor informal. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan pekerja formal yang berada di angka 59,19 juta orang (40,60 persen).
Ekspansi sektor informal ini sejalan dengan meningkatnya angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Data Satudata Kementerian Ketenagakerjaan mencatat terjadi peningkatan jumlah korban PHK dalam kurun dua tahun.
Angkanya melonjak dari 25.114 orang pada 2022 menjadi 77.965 orang pada 2024. Pekerja formal yang kehilangan pekerjaan ini kemudian beralih ke sektor informal.
Salah satu subsektor utamanya adalah pekerja berbasis platform digital atau pengemudi ojek daring. Estimasi berbagai lembaga riset menempatkan jumlah pengemudi ojek daring di Indonesia saat ini lebih dari empat juta orang.
Dari sisi industri, sektor transportasi dan logistik daring memiliki pangsa pasar yang kuat. Laporan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) pada akhir tahun 2022 menunjukkan tingginya permintaan konsumen.
Frekuensi pemakaian layanan ini mencapai rata-rata 4 hingga 12 kali setiap minggunya per pengguna. Aplikasi Gojek mendominasi pasar ini, dipilih oleh 82 persen pengguna transportasi daring dan 64 persen pengguna logistik daring.
Namun, tingginya permintaan konsumen tidak serta-merta menjamin stabilitas ekonomi mitranya. Analisis INFID yang mengutip studi The Prakarsa menunjukkan rata-rata pendapatan pengemudi ojek daring.

Angkanya turun secara signifikan setelah pandemi Covid-19. Dari sekitar Rp309 ribu per hari (periode 2018-2019) menjadi Rp175 ribu per hari pada 2022-2023.
Dari sini muncul sebuah persoalan mendasar. Secara umum, 86 juta orang lebih pekerja informal ini memiliki pendapatan tunai setiap harinya untuk bertahan hidup.
Namun, fluktuasi pendapatan dan status kemitraan membuat mereka tidak memiliki dokumen penghasilan resmi. Akibatnya, mereka terblokir dari sistem kredit perbankan.
Ketua Umum DPP Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengonfirmasi realitas pasar tersebut. Ia menyatakan mayoritas masyarakat adalah pekerja dengan penghasilan yang tidak diakui secara administratif.
"Artinya pasar masyarakat Indonesia itu 60 persen itu adalah pekerja informal," kata Junaidi dalam wawancara bersama RRI, Jumat, 13 Februari 2026.
Junaidi merinci kendala terbesar pekerja informal bukanlah ketiadaan uang. Syarat kelayakan perbankan, seperti Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), merupakan salah satunya.
"Nah, permasalahannya, pekerja informal itu sekarang banyak tersandung kaitan persyaratan, yaitu SLIK. Nah, itu banyak terkendala di situ. Kenapa? Karena memang banyak teman-teman mungkin masa lalunya pernah pinjam-meminjam," ujar Junaidi.
"Seperti tidak memiliki slip gaji, ya kan? Penghasilan tidak tetap, tapi dia daya angsurnya ada kemampuan. Nah, perbankan kan perlu memberikan relaksasi untuk masyarakat seperti ini," katanya lagi.
Keterbatasan administratif ini diakui Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (BTN) Nixon L.P. Napitupulu. Nixon bahkan membenarkan bahwa perbankan konvensional terhambat oleh aturan slip gaji untuk mendukung mereka.
"Ketiadaan slip gaji atau penghasilan yang tidak tetap memang sering menjadi hambatan untuk seseorang dapat mengajukan kredit terutama yang bersifat jangka panjang seperti KPR," kata Nixon kepada RRI, Selasa, 10 Februari 2026.
"Hal ini membuat pekerja sektor informal tidak memiliki aset berupa rumah melainkan seringkali harus menyewa tempat tinggal. Uang sewa atau kontrak tempat tinggal yang dibayarkan setiap bulan atau tahunan itu tidak akan menjadi kepemilikan rumah atau harta di masa depan, ketimbang mereka menabung kepemilikan rumah melalui KPR," kata Nixon memaparkan.
Dan akhirnya, pada tahun 2021...
Karena itu, Bank BTN dan Gojek merancang skema cicilan yang berbeda dari KPR konvensional. Skema ini diharapkan dapat menjawab kebutuhan pekerja informal untuk memiliki rumah sendiri.
"BTN berinisiatif mengembangkan skema cicilan yang menyesuaikan dengan pola pendapatan harian seperti yang telah dikerjasamakan dengan Gojek untuk mitra driver mereka," kata Direktur Utama Bank BTN Nixon L.P. Napitupulu.
Di lapangan, skema ini sempat menghadapi hambatan persyaratan administrasi. Dian, Marketing Puri Delta Asri 9, Kendal, Jawa Tengah, menjelaskan tantangan yang dihadapi mereka.
"Tantangannya di persyaratan aja sih Kak, kayaknya kalau dari Gojek kemarin. Iya, agak susah untuk mengeluarkan surat keterangan kerja dari perusahaan Gojek. Jadi bank-nya minta surat keterangan kerja, tapi dari Gojek-nya sendiri tidak bisa mengeluarkan," ujar Dian saat diwawancarai RRI, Jumat, 13 Februari 2026.
“Terus akhirnya bank-nya memberikan (keringanan-red), okelah tidak usah pakai surat keterangan kerja tidak apa-apa karena kan konsumen-konsumennya sudah rekomendasi atau sudah pilihan dari Gojek-nya sendiri," kata Dian menjelaskan solusi atas kendala tersebut.
Mitra Gojek yang terpilih mendaftar harus memenuhi persyaratan khusus. Persyaratannya antara lain adalah belum pernah menerima subsidi perumahan pemerintah dan berusia 21–45 tahun.
Mereka juga harus memiliki masa kerja sebagai pengemudi Gojek minimal dua tahun. Untuk mengimbangi pelonggaran administrasi, Gojek menerapkan penyaringan ketat.
Seleksi tersebut berdasarkan tingkat keaktifan dan stabilitas penghasilan di platform mereka sebelum dilanjutkan ke verifikasi perbankan. Cicilan dibayar melalui Gojek Swadaya dengan sistem potong otomatis dari pendapatan harian mitra.
“Skema cicilan harian menjadi keunggulan utama karena membantu mitra mengelola pembayaran secara ringan dan konsisten tanpa beban besar di akhir bulan. Potongan harian langsung ditransfer ke rekening tabungan mitra sebagai pembayaran KPR,” tulis Manajemen Gojek dalam keterangan resminya kepada RRI, Jumat, 9 Januari 2026.
Di proyek perumahan subsidi, nominal pemotongan ini disesuaikan dengan tenor masing-masing konsumen. Di perumahan tempat Soni menempati rumahnya, nominal potongan harian berkisar di angka tiga puluh ribuan rupiah.
"Tenornya masing-masing bisa berbeda ya. Kurang lebih Rp1 jutaan per bulan. Jadi kalau dibagi 30 hari, itu kan mungkin kepotongnya antara Rp30 sampai Rp35 ribu ya sehari gitu," kata Dian memberikan rincian eksekusi biaya angsurannya.
Gojek Swadaya...
Dan akhirnya, pada tahun 2021, notifikasi itu masuk ke aplikasi Gojek milik Heri Purwanto. Padahal, niat menekan tombol untuk mengikuti Gojek Swadaya pada awalnya bukan karena berharap, tapi karena tidak ada ruginya.
"Aku tuh udah nggak tak pikir tuh lo, Mas. Maksudnya, ini cuma iseng-iseng mencet aplikasinya. Kan udah nggak punya harapannya. (Karena-red) kayak udah kemarin-kemarin kan ditolak,” kata Heri
“Tak coba iseng-iseng, nggak tak pikir, ah tak jalan aja (Saya coba iseng-iseng, nggak saya pikirkan, jalan saja-red). Itu malah ini, dapat (KPR BTN-red) ini toh Mas," ujar Heri.
Meskipun demikian, munajat istrinya di rumah selalu menyertai perjalanan Heri mencari nafkah. Ia tidak menampik pintu rezekinya terbuka dari sana.
"Istri yang tiap malam tahajud. Doa istri udah pasrah itu, soalnya udah beberapa kali ditolak terus,” kata Heri.
“Sama gajinya nggak di hati tuh, nggak berharap banget (memiliki rumah-red), malah dapat. Dengan Gojek kok malah dipermudah, nggak nyangka lewat yang kerja jadi ojek kok malah dapat rumah, Mas."
Jawaban dari ‘langit’ akhirnya terwujud. Ia berbentuk rumah Tipe 30/60 dengan dua kamar tidur dan satu kamar mandi.
"Angsuran saya Rp1.109.000 kali lima belas tahun," kata Heri mengenai tenornya.

Soni Yuliawan lain cerita. Ia mengenal lokasi perumahan yang ditempatinya di Puri Delta Asri 9 itu jauh sebelum mendaftar.
"Dulu saya setiap libur kerja itu ngajak anak-anak sama istri makan soto di daerah yang sering kita lewati perumahan ini. Sampai sama istri itu pertamanya ini kagum, ‘Wah Mas, kok rumah bagus-bagus ya’," kata Soni yang kini tinggal satu perumahan dengan Heri Purwanto.
“Lah, terus saya bilang sama istri, ‘Ya disolawatin wae’.”
Belum setahun sejak pertama mengagumi perumahan tersebut, pada tahun 2024, notifikasi Program Gojek Swadaya masuk. Kurang dari sebulan kemudian, kunci KPR BTN sudah dalam genggaman tangan.
"Tidak menyangka saya sekarang bisa membeli rumah. Prosesnya juga mudah dan cepat sekali, kurang dari satu bulan sudah serah terima kunci. Kalau bukan karena program ini mungkin prosesnya bisa berbulan-bulan,” katanya lagi.
“Jebule iki kok perumahan sing kerep dilewati dewe pas ning Soto Sawah kae ya, Mas. (Ternyata ini kok perumahan yang sering dilewati sewaktu ke Soto Sawah itu ya, Mas-red)," kata Soni menirukan perkataan istrinya.
Ikhtiar dan lantunan salawat akhirnya membuka jalan bagi keluarga kecil Soni menikmati rumah sendiri. Hunian subsidi yang diambilnya adalah Tipe 27/60 dengan spesifikasi satu kamar, toilet, ruang tamu, taman, hingga garasi.
"Satu bulannya itu Rp960 ribu, selama 20 tahun," ujar Soni tentang angsuran bulanannya.
Gojek Swadaya, yang berkolaborasi dengan KPR Sejahtera BTN, berjalan di bawah pilar ketiga program tersebut, yakni "Merencanakan." Gede Manggala, Head of Indonesia Regions Gojek, merinci makna pilar tersebut bersama dua pilar lainnya.
"Komitmen ini diwujudkan melalui program Swadaya dengan tiga pilar utama: Meringankan biaya operasional mitra, Memfasilitasi mitra dan keluarga kepada layanan asuransi terjangkau, serta Merencanakan kehidupan jangka panjang mitra melalui akses finansial dan pelatihan," kata Gede pada 29 Oktober 2024.
Manajemen Gojek mengungkap sebanyak 884 mitra pengemudi telah mendaftar program ini hingga Desember 2025. Dari jumlah tersebut, 56 mitra telah menyelesaikan akad kredit di delapan kota.
Solo, Bogor, Semarang, Bekasi, Karawang, Palembang, Makassar, dan Bandung menjadi wilayah yang menerima kemudahan tersebut. Dan, Gojek menyediakan kuota 2.000 unit khusus bagi mitra dengan keringanan uang muka hingga 50 persen.
Perbankan dan pelaku industri melihat program ini sebagai langkah menjalankan mandat negara. Ketua Umum DPP Apersi Junaidi Abdillah mengapresiasi kolaborasi tersebut sebagai upaya memenuhi hak dasar warga negara.
"Dan kita melihat bahwa antusiasnya pemerintah patutlah didukung, patutlah di-support. Niat baiknya dalam rangka menjalankan amanat Undang-Undang Dasar (1945 pasal-red) 28 huruf H," kata Junaidi dalam wawancara bersama RRI, Jumat (13/2/2026).
UUD 1945 Pasal 28 huruf H ayat 1 berbunyi: “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.”
Sementara, UUD 1945 Pasal 28 huruf H ayat 4 berbunyi: “Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapa pun.”
Dirut BTN Nixon meyakini KPR Sejahtera menjadi salah satu ujung tombak menyukseskan Program 3 Juta Rumah. Kolaborasi ini juga mengurangi hambatan sosial dan ekonomi mitra pengemudi sehingga menciptakan peluang berkelanjutan agar segera naik kelas.
“Pembiayaan yang BTN berikan untuk para pelaku industri perumahan akan memberikan multiplier effect atau dampak turunan kepada ratusan subsektor ekonomi lainnya, sehingga BTN turut berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi negara," kata Nixon.
BTN Housing Finance Center mencatat kepemilikan rumah berdampak pada pengelolaan keuangan keluarga penerimanya secara keseluruhan. Nixon menyebut peserta program melaporkan rasa puas terhadap program ini.
"Masyarakat berpenghasilan rendah melihat KPR telah membantu mereka untuk mengelola keuangan keluarga lebih baik dan mereka merasa puas karena memiliki daya atau mampu memiliki rumah dari hasil jerih payah mereka," kata Nixon.
PT Dwi Wahana Delta Megah selaku pengembang Puri Delta Asri kini sudah masuk tahap keempat pembangunan. Dian, marketing perusahaan tersebut, melihat skema relaksasi administrasi ini berpotensi diterapkan untuk pekerja-pekerja informal yang mengalami hambatan serupa.
"Semoga bisa menambah program, mungkin dengan para pedagang atau UMKM-lah. UMKM itu banyak tuh yang nggak bisa, karena nggak punya gaji bulanan. UMKM banyak yang minat," kata Dian.

Soni kini tinggal bersama keluarganya di rumah impian. Sementara, istrinya yang menjadi ibu rumah tangga menemani kedua anak mereka yang masih kecil.
"Yang pertama itu kelas 1 SD. Itu cowok. Terus yang kedua itu cewek, baru TK,” kata Soni.
“Istri di rumah Mas, pengennya bantu kerja. (Tapi-red) karena anak-anak itu masih kecil-kecil, masih butuh perhatian," katanya lagi.
Kegembiraan ini tak luput dari pengamatan Dian. Ia merasa turut berbahagia menyaksikan wajah-wajah sumringah para pekerja informal tersebut saat mendapatkan rumah baru mereka.
“Mereka yang mendaftar itu kan harapannya tipis sekali untuk bisa mendapatkan KPR. Tapi dengan program ini, mereka saat survei lokasi, mereka menyatakan senang banget bisa mengambil rumah di sini,” kata Dian.
“Untuk yang bekerja di Gojek mungkin bisa lebih ditelateni lagi pekerjaannya,” kata Dian untuk para pengemudi ojek daring.
“Kalau harapan saya sendiri itu, semoga program Gojek, seperti Swadaya, KPR rumah, dan lain-lain, itu tetap ada dan bisa lebih lama karena banyak mitra lain selain saya yang membutuhkan, Mas,” kata Soni menutup pembicaraannya.
Heri dan Soni bukan akhir dari cerita ini. Masih ada jutaan pengemudi daring dan pekerja informal lain yang sedang menantikan impian mereka terwujud.