Menunggu Pulang di Antara Lantai Lembap Karet Tengsin
- 24 Jan 2026 22:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
LANGIT yang masih muram seakan belum sepenuhnya melepas duka di Kelurahan Karet Tengsin, Tanah Abang. Jejak banjir tertinggal di gang-gang sempit, menyisakan lantai lembap, lumpur tipis, dan bau air yang belum sepenuhnya pergi.
Permukiman padat dengan rumah-rumah berdempetan menjadi saksi bagaimana air perlahan naik dan menutup ruang hidup warga. Posisi rumah yang berada lebih rendah dari badan jalan, membuat genangan cepat masuk dan sulit surut.
Kini air memang telah pergi, namun belum semua warga kembali. Di Posko Pengungsian PAUD Nusantara RW 07, Paima warga RT 16 masih bertahan memilih ruang aman untuk beristirahat.
Ia mengatakan ruang tidur di rumah terlalu sempit dan lembap untuk beristirahat dengan layak. “Di sini untuk tidur nyaman, kalau di rumah kan ga nyaman, lembab,” ujar Paima saat ditemui rri.co.id di posko pengungsian tersebut, Sabtu, 24 Januari 2026.
Ia menyebut kondisi rumahnya belum sepenuhnya layak ditinggali meski air telah surut. Saat banjir datang, air merambat hingga 30 sentimeter di dalam rumahnya, sementara di luar sudah mencapai paha orang dewasa.
Paima menyebut rumah yang telah ditinggikannya membuat dampak banjir tidak terlalu besar. Sejak kepergian suaminya, Paima menjalani hari-hari hanya berdua bersama anaknya. Di pengungsian, Paima merasa kebutuhan dasar terpenuhi.

Warga RT 16 RW 07 Paima saat berbincang bersama rri.co.id di Posko Pengungsian PAUD Nusantara RW 07 Kelurahan Karet Tengsin, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu, 24 Januari 2026 (Foto: RRI/Eliana Zahra)
Fasilitas tidur, kamar mandi, hingga makanan dinilainya cukup membantu warga yang memilih bertahan di posko ini. “Alhamdulillah, makanannya sehat. Kamar mandinya juga bersih,” ucapnya dengan penuh rasa syukur.
Ia juga mengatakan menerima bantuan berupa karpet dan perlengkapan mandi dari Palang Merah Indonesia (PMI). Meski begitu, kondisi kesehatan tetap menjadi perhatian baginya.
Di posko pengungsian, Paima rutin memeriksakan tekanan darahnya pada petugas medis yang datang memastikan kesehatan warga. “Saya selalu periksa tensi, alhamdulillah normal,” kata wanita paruh baya itu dengan senyuman.
Di tengah perbincangan, Paima juga menceritakan peran petugas kebersihan lingkungan sebelum banjir melanda. Ia melihat petugas telah membersihkan sampah kayu di saluran air depan rumahnya.
“Kemarin juga sebelum banjir, oren-oren (warna baju petugas kebersihan) bersihkan di depan got saya, kan saya rumahnya depan got. Got itu pada banyak sampah, kayu-kayu,” ujarnya.
Jika sampah tidak diangkut, Paima yakin banjir akan lebih tinggi. “Kalau nggak diambil kemarin, banjir lebih tinggi, banyak kayu, ada yang 1 meter, ada yang 2 meter,” ucap Paima penuh semangat.
Saat ini, meski air telah surut, Paima belum sepenuhnya kembali ke rumah. Ia mengatakan pembersihan belum tuntas dan masih menyisakan kelembaban.
Kondisi fisiknya yang tidak sekuat dulu membuat Paima berhati-hati kembali ke rumah terlalu cepat. Ia mengaku memiliki radang dan pengapuran yang kerap membuat kakinya kram.
Proses pembersihan rumah dilakukan oleh anaknya secara bertahap. “Saya belum ada pulang, jadi anak saya saja, kemarin ada penyedotan air, jadi rame-rame juga bersihinnya,”
Paima berharap banjir serupa tidak kembali terulang. Ia mengatakan banjir melelahkan, terutama saat harus membersihkan rumah.
Di tengah keterbatasan, Paima tetap bersyukur atas bantuan yang datang. Ia mendoakan pemerintah dan petugas selalu diberi kesehatan dan kelancaran membantu warga RW 07 yang terdampak.
/kifq3h808l7khne.jpeg)
Salah seorang warga, Vita yang membawa bayinya mengungsi di Aula Masjid Muhajirin RW 07 Kelurahan Karet Tengsin, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu, 24 Januari 2026 (Foto: RRI/Namira Kaguma)
Tidak jauh dari sana, di Aula Masjid Muhajirin RW 07, Betty juga masih memilih bertahan di posko. Meski rumahnya telah dibersihkan, kelembapan dan perabot yang belum tertata membuatnya menunda pulang.
“Udah bersih, cuma masih lembap,” kata Betty. Ia berencana kembali setelah kondisi rumah benar-benar aman.
Anaknya, Vita, mengisahkan bagaimana air sempat surut sebelum kembali naik di dini hari. Situasi itu membuat keluarga memilih mengungsi, terutama demi keselamatan bayinya.
Menurut Vita, keputusan bertahan di posko diambil agar keluarga tidak terjebak saat air kembali meninggi. “Iya makanya pengen pulang, takut ya namanya cuacanya masih begini, apa lagi ada bayi, akunya takut,” ucap Vita sambil menimang buah hatinya yang terlelap.
Vita mengatakan selama berada di posko, ia dan keluarganya mendapatkan bantuan makanan secara rutin setiap hari. “Dapat makan juga di sini dari Dinas Sosial, tiga kali sehari,” ucap Vita.
Saat ditanya harapannya, Vita menyampaikan keinginan sederhana. Ia berharap banjir tidak kembali terjadi di wilayah tempat tinggalnya.
“Udah jangan banjir-banjir lagi. Kasian yang punya balita sama bayi,” katanya.
Vita menuturkan, membersihkan rumah setelah banjir membutuhkan tenaga besar. Ia berharap ada solusi dari pemerintah agar banjir tidak terus berulang setiap musim hujan.
/njmoozut1uw4xu2.jpeg)
Potret sebagian warga menikmati makanan, sementara yang lain beristirahat di Posko Pengungsian Aula Masjid Muhajirin RW 07, Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu, 24 Januari 2026. (Foto: RRI/Namira Kaguma)
Sementara itu, warga lain yang telah pulang tampak membersihkan sisa lumpur dan mengumpulkan sampah bekas banjir yang tersisa. Walau banjir berangsur surut, kasur dan perabot belum kembali ke tempatnya, berjaga jika hujan kembali turun.
Langit mungkin akan kembali cerah, namun kewaspadaan masih tinggal di rumah-rumah warga Karet Tengsin. Di antara lantai yang belum kering, mereka belajar bertahan, sembari berharap air tak lagi datang membawa cerita yang sama.