Keteguhan yang Tak Tenggelam di Karet Tengsin
- 24 Jan 2026 13:36 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Hujan turun berhari-hari tanpa jeda, membasahi atap rumah dan jalan sempit di Kelurahan Karet Tengsin, Jakarta Pusat. Di tengah suara hujan itu, air perlahan merayap masuk ke rumah warga dan mengubah kehidupan sehari-hari.
Sumarni, warga RT 16 RW 07, menyadari perubahan itu sejak air mulai menyentuh lantai rumahnya. Ia melihat genangan terus naik hingga memaksanya mengambil keputusan meninggalkan rumah demi keselamatan keluarga.
Air bercampur lumpur merendam ruang tamu hingga sepinggang orang dewasa, meninggalkan bau tanah hingga dinding lembap. Perabot sederhana tak sempat diselamatkan, sementara rumah berubah menjadi ruang yang tak lagi ramah.
Sumarni mengungsi sejak Kamis 22 Januari 2026 pagi, membawa tubuh lelah dan pikiran penuh kekhawatiran. Ia melangkah pergi dengan harapan bisa kembali, meski tak tahu kapan rumah kembali aman.
Di posko pengungsian, Sumarni menemukan sedikit ketenangan di antara wajah-wajah lelah sesama warga. Makanan yang datang teratur menjadi penanda bahwa mereka tidak sepenuhnya sendirian menghadapi bencana.
“Alhamdulillah sih ada perhatiannya juga, bantuannya ada. Masalah makanan juga cukup,” ujar Sumarni kepada RRI di Posko Pengungsian PAUD Nusantara, Karet Tengsin, Jakarta Pusat, Sabtu, 24 Januari 2026.

Salah satu warga terdampak banjir, Sumarni saat ditemui RRI di Posko Pengungsian PAUD Nusantara, Karet Tengsin, Jakarta Pusat, Sabtu, 24 Januari 2026. (Foto: RRI/Eliana Zahra)
Tiga kali sehari, nasi dan lauk sederhana hadir di tangan para pengungsi. Ritme makan itu perlahan menjaga daya tahan tubuh sekaligus menenangkan pikiran yang terus gelisah.
Namun posko bukan rumah dan keterbatasannya terasa sejak hari pertama. Warga berusaha beradaptasi dengan ruang seadanya demi tetap bertahan bersama.
“Di sini tidak ada dapur, cuma kamar mandi memang ada di luar. Alhamdulillah lancar,” kata Sumarni.
Air bersih yang tetap mengalir menjadi penghibur kecil di tengah situasi darurat yang melelahkan. Setiap tetes air terasa berharga ketika kenyamanan rumah telah hilang sementara waktu.
Sudah tiga hari Sumarni tidur beralaskan tikar tipis di posko pengungsian. Ia belum pulang karena rumah masih basah, lembap, dan belum sepenuhnya bersih dari lumpur.
Harapan sempat tumbuh ketika air surut, namun hujan kembali memadamkannya. Air datang lagi, memaksa warga menunda kepulangan dan memperpanjang masa bertahan.
“Banjirnya itu sepinggang ya, sepinggang. Saat air sudah surut, datang lagi, banjir lagi,” ucap Sumarni.
Di tengah kelelahan, Sumarni tetap menyisihkan tenaga untuk membantu warga lain. Ia bergerak dari satu sudut ke sudut lain, menguatkan sesama yang lebih dulu kehilangan harapan.
“Saya sih emang udah bersih, karena saya juga ngebantu orang-orang sini. Iya, kan masih ada yang tinggal di sini,” ujar Sumarni.
Keluarganya selamat, dan itu menjadi alasan utama ia tetap tegar. Namun kurang tidur dan pikiran berat perlahan menggerogoti kondisi tubuhnya.
“Alhamdulillah aman, cuma tadi saya sampai tegang, tekanan darah saya sampai 200. Iya, kurang tidur,” kata Sumarni.
Di balik kelelahan, Sumarni hanya menyimpan satu harapan sederhana. Ia ingin kampung kecilnya tak lagi dikejutkan oleh banjir yang datang tiba-tiba.

Petugas Dinas Sosial sedang mencatat kebutuhan warga terdampak di Posko Pengungsian Aula Masjid Jami' Al Muhajirin, Karet Tengsin, Jakarta Pusat, Sabtu, 24 Januari 2026. (Foto: RRI/Eliana Zahra)
Di posko berbeda, Yulia menjaga alur pengungsian tetap berjalan tertib. Sebagai pengelola Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Segas Karet Tengsin, ia mencatat kebutuhan warga satu per satu.
“Ada nasi box dari Dinas Sosial, terus ada dari Palang Merah Indonesia (PMI) juga. Terus dari Puskesmas Tanah Abang, itu untuk kesehatannya ya,” ujar Yulia.
Bantuan datang dari berbagai pihak, meski belum sepenuhnya mencukupi seluruh kebutuhan. Namun pembagian merata menjadi cara menjaga rasa keadilan di antara pengungsi.
“Kalau dibilang mencukupi, belum ya. Tapi kita bagi rata, biar semuanya kebahagiaan,” kata Yulia.
Pada Jumat, 23 Januari 2026 malam, satu per satu warga mulai kembali ke rumah masing-masing. Air surut, namun jejak banjir masih tertinggal di lantai dan ingatan.
Di Karet Tengsin, air akhirnya pergi meninggalkan lumpur dan cerita. Namun kisah bertahan para warga akan lama tinggal di hati kampung itu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....