Mengembalikan Harapan dan Martabat dari Balik Lapas Garut
- 30 Des 2025 22:32 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Garut: Perjalanan itu RRI tempuh hampir enam jam dari Jakarta. Jalanan padat oleh kendaraan, bergerak perlahan di tengah arus libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Arah tujuan ke Garut, bukan jalur asing. Kota ini kerap menjadi tujuan wisata masyarakat Jawa Barat, bahkan dari luar provinsi.
Menjelang sore, ketika tubuh mulai letih dan pikiran dipenuhi bayangan tentang pagar tinggi serta jeruji besi, RRI akhirnya berhenti di depan Lapas Kelas IIA Garut, di Sukasenang, Tarogong, Garut, Jawa Barat.
Waktu menunjukkan sekitar jam setengah tiga sore ketika itu. Tujuan pergi ke lapas ini sederhana saja, melihat dari dekat kegiatan UMKM yang aktif dijalankan warga binaan.
Namun bayangan tentang lapas yang seram sudah lebih dulu menyelimuti kepala. Gambaran itu ikut terbawa sepanjang perjalanan, karena lapas kadang identik dengan ruang tertutup, waktu yang berhenti, dan stigma yang sulit dihindari.
Baru ketika kendaraan berhenti dan tiba di halaman lapas, bayangan tersebut mulai goyah. Kedatangan RRI disambut Kepala Lapas, Rusdedy, bersama beberapa petugas.
Kami diminta beristirahat sejenak di sebuah kafe kecil yang berada di lantai atas bagian depan lapas. Dari sana, jalanan Garut tampak berjalan seperti biasa: kendaraan melintas, pedagang kaki lima tetap berjualan.
Kami memesan kopi hitam dan kapucino, semuanya diproduksi sendiri oleh warga binaan. Makanan ringan menemani sore itu, rasanya bersih dan hangat seperti pengantar sebelum masuk lebih jauh ke ruang yang selama ini dibayangkan tertutup rapat.
Perjalanan kemudian berlanjut ke areal dalam. Rombongan melewati beberapa pintu besi yang terbuka dan tertutup bergantian, masing-masing menandai lapisan pengamanan yang harus dilalui.
Dinding tinggi mengelilingi kawasan, bagian atasnya dililit kawat berduri. Di satu sisi, sebuah lapangan tenis terlihat.
Tak jauh dari sana, sebuah aula berdiri dengan sisi-sisi terbuka. Di atasnya ada tulisan besar terbaca jelas “Mereka Bukan Penjahat, hanya Tersesat. Belum Terlambat untuk Bertaubat”.
Aula itu bukan sekadar ruang pertemuan. Di sanalah para perajin ‘coir shade’ bekerja sekaligus menyimpan hasil produksi, anyaman tirai peneduh berbahan sabut kelapa.
Kerja manual berlangsung padat, tangan-tangan bergerak nyaris tanpa jeda. Dari ruang terbuka itu, produk dikirim hingga ke Prancis, Spanyol, Kanada, dan Korea.
Tidak semua proses berjalan mulus. Serat kadang putus, anyaman harus diulang, tetapi ritme kerja tetap dijaga.

Aktivitas warga binaan di tempat barber Lapas Garut (Foto: RRI/Rudi Zein)
Setelah melewati pintu berikutnya, terlihat tempat barber menyambut. Warga binaan melayani sesama warga binaan.
Rambut dipangkas, obrolan singkat mengalir. Di ruang kecil ini, perawatan diri menjadi bagian dari keseharian, cara sederhana merawat martabat di tengah rutinitas yang serba teratur.
RRI menyusuri deretan ruang UMKM yang berjejer, masing-masing berdiri sendiri tanpa pintu penghubung. Di ruang konveksi, mesin jahit berdengung pelan.
Arief, warga binaan, tetap menatap kain di hadapannya saat berbicara. Sesekali ia berhenti untuk merapikan lipatan.
“Pesanan luar semua. Kalau tiga hari, bisa sampai dua ratus potong,” katanya. Ia kembali bekerja, seolah waktu tak boleh banyak terbuang.

Warga binaan juga memiliki aktivitas UMKM di bidang konveksi (Foto: RRI/Rudi Zein)
Beberapa langkah dari sana terdapat ruang kopi. Husen menunjukkan mesin sangrai yang masih hangat.
“Biji kopi dari Garut, digiling dan roasting di sini. Sekarang sudah saset, merek sendiri,” ujar Arief.
Saset-saset itu dikemas dengan label ‘Pas Kopi’, diproduksi penuh dari hulu ke hilir di dalam lapas. Tidak semua hari pesanan ramai, tetapi proses tetap berjalan.
Tak jauh dari sana, tampak ruang penyajian roti bakar bekerja dalam ritme yang tenang nan terukur. Meja kerja sempit dipenuhi botol saus, alat potong, dan bahan pelengkap yang disusun rapi.
Pesanan datang bergantian, sebagian pengunjung kafe di halaman depan, sebagian lain untuk kebutuhan internal lapas. Roti dipanaskan sesuai permintaan, disiapkan satu per satu, lalu dikemas.
Di sudut lain kemasan karton bertumpuk menunggu giliran dipakai, menjadi penanda bahwa kerja di sini bukan produksi massal. Melainkan layanan yang mengandalkan ketepatan, kebersihan, dan kesigapan.
Paling ujung, ruang batik. Ghifari menunduk di atas kain dengan canting di tangannya bergerak perlahan.
“Masih batik tulis, tradisional,” katanya. “Satu kain bisa seminggu.” Prosesnya lambat, mengandalkan tangan dan kesabaran, jauh dari logika produksi massal.
Usai dari ruang-ruang itu, RRI diajak ke sisi samping luar lapas tetapi masih dalam areal yang sama. Di sana semua aktivitas lain-lain tersusun rapi.
Ada budidaya ikan air tawar, pengolahan sampah organik, peternakan kambing dan domba Garut, juga ayam, hingga pabrik tahu. Satu kegiatan menyokong yang lain, membentuk ekosistem kerja yang saling terhubung.
Menjelang petang, kunjungan hari pertama diakhiri. Rombongan tim liputan RRI menuju tempat menginap untuk beristirahat, menikmati udara malam Garut yang dingin, menenangkan tubuh setelah perjalanan panjang, dan menyiapkan segala sesuatu untuk esok hari.
Keesokan harinya, Sabtu, akhir pekan kemarin, rombongan kembali ke lapas sekitar pukul 10.00 WIB. Udara Cipanas masih menyisakan dingin ketika kendaraan meninggalkan penginapan.
Prosedur masuk kami jalani kembali seperti hari sebelumnya. Kali ini suasana berbeda. Kedatangan RRI bertepatan dengan waktu kunjungan keluarga warga binaan.
Di sebuah ruangan cukup besar, pertemuan berlangsung sederhana namun hangat. Ada pelukan yang tertahan, tawa kecil, dan raut bahagia yang tak disembunyikan.
Waktu pertemuan terbatas, tetapi cukup untuk melepas rindu. Setelah itu, warga binaan kembali ke aktivitas masing-masing, meninggalkan keluarga dengan langkah yang pelan.
Dari sana RRI menuju aula tempat dialog utama digelar, masih ada beberapa jam sebelum acara dimulai. Semua sibuk menata ruang, menyusun kursi, menyiapkan peralatan, dan menata produk UMKM yang akan ditampilkan.
Tema dialog hari itu jelas dan tegas, ‘UMKM Warga Binaan: Dari Pembinaan menuju Kemandirian’.
Sebagai narasumber utama, Rusdedy membuka dialog dengan satu penekanan: pemasyarakatan adalah proses.
“Pemasyarakatan itu bukan lagi tempat menghukum,” ujarnya. “Hukuman sudah selesai di pengadilan. Di sini mereka menjalani proses peningkatan kualitas, kepribadian, keimanan, dan keterampilan.”
Ia menjelaskan dua inti pembinaan yang dijalankan, kepribadian dan kemandirian. Warga binaan dibina agar sikap dan perilakunya berubah, lalu dibekali keahlian yang kelak diharapkan berguna saat mereka kembali ke masyarakat.
Menurut Rusdedy, UMKM di Lapas Garut bukan kegiatan tambahan. UMKM dan koperasi menjadi wadah kewirausahaan terintegrasi.
Warga binaan belajar dari hulu ke hilir, mulai perencanaan, produksi, quality control, pemasaran, hingga pengelolaan keuangan. Targetnya sederhana: mereka pulang dengan bekal yang utuh.

UMKM yang dijalankan warga binaan di Lapas Garut juga memberi pemasukan untuk PNBP (Foto: RRI/Rudi Zein)
Ia juga menegaskan kegiatan UMKM telah berjalan sebagai proses bisnis. Dari sana, warga binaan memperoleh upah yang diperhitungkan secara jelas, sekaligus berkontribusi pada PNBP.
Keterlibatan kerja menjadi bagian penting dalam penilaian program asimilasi dan pembebasan bersyarat. Jam kerja diatur, dari pagi hingga sore, ditutup dengan olahraga dan waktu istirahat.
Penjelasan teknis dilanjutkan Asep Supriatna, Kepala Seksi Kegiatan Kerja sekaligus pendamping UMKM. Ia menerangkan pembinaan kemandirian dimulai sejak hari pertama warga binaan masuk.
Bahkan ada seleksi minat dan bakat. Bagi yang belum memiliki keterampilan tetap dilatih, sementara yang membutuhkan pembinaan kepribadian diarahkan lebih dulu.
Standar mutu, menurut Asep, menjadi kunci karena lapas bermitra dengan pihak ketiga untuk kontrol kualitas. Produk yang keluar tidak sekadar jadi, tetapi siap bersaing.
Dialog semakin hidup ketika warga binaan mengambil peran. Deri dan Reza, barista unit kopi, mempraktikkan penyajian kopi.
Mereka menjelaskan tahapan dari memilih biji, menyangrai, menggiling, hingga mengemas. Produk Pas Kopi diperlihatkan, dinikmati pengunjung yang hadir.
Dari unit roti, Sansan dan Pardi memperkenalkan varian titoti Karya Narapidana atau disingkat ‘Kayana’. Mereka berbicara tentang kepercayaan diri yang tumbuh.
Pardi menyebut harapan membuka toko sendiri kelak. Tawa kecil mengiringi pernyataan itu.
Unit batik menghadirkan Juan dan Ripa. Mereka menunjukkan motif Garutan, dari sketsa hingga mencanting. Produksi bisa disesuaikan dari kemeja hingga sarung tanda kerja ini tidak berhenti sebagai latihan.
Dari konveksi, Fajar berbagi rencana membuka usaha jahit sendiri setelah bebas. Sementara Peri dari unit coir shade menjelaskan kerja padat karya yang kini menembus pasar internasional.
Sesi terakhir menghadirkan Ujang, pengelola sampah organik. Ia memaparkan pengolahan puluhan ton sampah setiap bulan melalui magot BSF yang menjadi pakan ternak sekaligus solusi lingkungan.
Dialog siang itu berakhir dengan tepuk tangan panjang, bukan karena retorika melainkan cerita kerja yang nyata. Di aula itu, pembinaan tidak berhenti sebagai konsep tetapi ia terlihat, terdengar, dan dikerjakan.
Lapas kerap dibayangkan sebagai ruang gelap yang hanya menyisakan penyesalan dan waktu yang berhenti. Namun dua hari di Lapas Kelas IIA Garut memberi kesan sebaliknya.
Di balik tembok tinggi dan pintu besi berlapis, kehidupan berjalan dengan ritme kerja yang nyata. Warga binaan tidak hanya dibina tetapi dilatih untuk mandiri, mengolah keterampilan, menghasilkan produk, hingga memperoleh penghasilan yang sah dari keringat sendiri.
Upah yang diterima bukan sekadar angka, melainkan penanda martabat dan kepercayaan diri yang kembali tumbuh. Di tempat yang sering distigmakan sebagai akhir, justru disiapkan awal.
Itulah bekal untuk kembali ke masyarakat dengan tangan kosong. Lebih dari itu mereka kembali dengan tangan terampil, kepala tegak, dan keyakinan ada tempat dalam kehidupan yang lebih luas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....