Kotagede, Napas Sunyi Awal Mataram Islam
- 30 Des 2025 16:51 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Yogyakarta: Pagi turun perlahan di lorong sempit Kotagede. Sebuah kota lama yang terletak di Yogyakarta bagian selatan, yang secara adminisratif masuk Kota Yogyakarta dan berbatasan dengan Kabupaten Bantul.
Kotagede bukan sekadar kawasan bersejarah, tapi jantung awal Mataram Islam yang berdiri pada 1586. Dari tanah ini, kerajaan besar Jawa pertama kali lahir, menorehkan jejaknya di setiap sudut Nusantara.
Hastono Muzakir, abdi dalem Keraton Kasultanan Ngayogyakartahadiningrat, mengatakan Mataram Islam didirikan oleh Ki Ageng Pemanahan. Kekuasaan dilanjutkan putranya, Panembahan Senopati, dari pusat pemerintahan Kotagede.
Kompleks ini menjadi pusat pemerintahan, pemakaman, dan kehidupan sosial kerajaan awal yang penuh makna. Alun-alun membentang di depan, pasar ramai dengan cerita masa lalu, dan tempat ibadah di barat.
Menurutnya, Mataram bermula sebagai hadiah dari Kerajaan Pajang. “Wilayah ini dulu berada di bawah Pajang sebelum berdiri secara mandiri,” kata Hastono kepada RRI.co.id, belum lama ini.
Pajang kala itu dipimpin Sultan Hadiwijaya setelah konflik kekuasaan di Demak. Konflik berkepanjangan mendorong sayembara menentukan tokoh penerima wilayah baru.
Ki Ageng Pemanahan mengikuti sayembara dan keluar sebagai pemenang. Ia kemudian diberi tanah di Alas Mentaok, kawasan yang kini dikenal dengan nama Kotagede.
/zijawsnzec4qyyq.jpeg)
Abdi dalem Kasultanan Ngayogyakartahadiningrat yang bertugas di kompleks Kotagede, Hastono Muzakir (Foto: RRI)
Dari wilayah itu, Mataram tumbuh menjadi kerajaan berdaulat. Panembahan Senopati memerintah hingga 1601 sebelum digantikan putranya.
Takhta lalu dipegang Prabu Hanyokrowati pada 1601 sampai 1645. Sepeninggalnya, kekuasaan diteruskan Sultan Agung Hanyokrokusumo.
Sultan Agung membawa Mataram mencapai puncak kejayaan politik dan budaya. “Gelar beliau diakui hingga dunia Islam internasional,” ujar Hastono dengan mata yang berbinar saat mengenang sejarah agung.
/gakh3w41noe5fqo.jpeg)
Penunjuk arah menuju ke kompleks pemakaman Raja-Raja Mataram di Kotagede. (Foto: RRI)
Di dalam kawasan Kotagede, terdapat makam khusus Raja-Raja Mataram Islam. Hastono mengatakan, kawasan ini menyimpan filosofi persatuan Nusantara.
Menurutnya, didirikannya kerajaan di Kotagede bukan demi popularitas keluarga. “Di sini pula makam keluarga Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam berada,” katanya, lirih.
Adapun, tujuan utama Mataram adalah menyatukan wilayah Nusantara. Karena jasa itulah, banyak peziarah datang dari luar Jawa dengan penuh penghormatan.
“Pengunjung biasanya datang untuk menghormati dan memahami sejarah. Banyak dari mereka pada akhirnya juga berziarah,” katanya.
Di kompleks makam terdapat 627 pusara keluarga dan pendukung kerajaan. Sebanyak 81 di antaranya merupakan tokoh inti pemerintahan Mataram.
Makam lain berasal dari abdi dalem dan pendukung penyebaran Islam. “Semua mengabdi demi syiar agama dan kerajaan,” katanya, menuturkan.

Di Sedang Seliran terdapat ikan lele 'bule' yang dipelihara sejak dahulu (Foto: RRI/Rini Hairani)
Di bagian belakang kompleks makam raja-raja juga terdapat Sendang Seliran, masing-masing ‘kakung’ dan ‘setri’. Sendang Kakung berasal dari aliran bawah tanah yang mengalir ke makam raja-raja, sementara Sendang Setri untuk menampung air dari akar pohon beringin besar yang tumbuh di gerbang.
Di Sedang Seliran ini terdapat ikan lele ‘bule’. Masyarakat percaya ikan lele albino ini dipelihara sebagai penjaga sendang kakung.
Cara memeliharanya istimewa dan diperlakukan dengan baik. Apabila ikan lele ada yang mati akan diperlakukan seperti manusia, yaitu dikafani dan dikubur di sekitar makam raja-raja.
Pertama ada Between Two Gates atau Lawang Pethuk yang berada di Gang Rukunan, tepatnya di kelurahan Purbayan, Kotagede, DIY. Between Two Gates merupakan area kampung yang dulunya adalah Alun-alun dari kerajaan Mataram Islam.
Sudut menarik lainnya di Kotagede adalah keberadaan ‘Between Two Gates’ atau ‘Di antara Dua Gerbang’. Nama ini berasal dari tim peneliti jurusan Teknik Arsitektur UGM pada 1986.
Di antara dua gerbang ini dahulunya merupakan alun-alun tempat Kerajaan Mataram Islam berdiri. Pada masa kini alun-alun sudah berubah menjadi rumah-rumah tradisional Jawa yang berada di antara dua pintu gerbang.
Rumah yang saling berderet dan berhadapan utara-selatan dan dipisahkan lorong sempit, adalah keunikan dari tempat ini. Tempat ini juga kerap dijuluki dengan gang kerukunan.
/s3s4se5wrckae1x.jpeg)
Pengunjung yang ingin masuk ke kawasan pemakaman di Kotagede menggunakan pakaian sesuai ketentuan keraton (Foto: RRI)
Kawasan makam terbuka untuk umum dengan aturan adat ketat. Pengunjung wajib berpakaian sesuai ketentuan keraton.
Aturan tersebut berlaku sebagai kesepakatan Yogyakarta dan Surakarta. “Perempuan memakai jarik, laki-laki mengenakan busana adat,” ujarnya.
Pengelolaan kawasan dilakukan bersama kedua keraton, yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakartahadiningrat. Petugas piket berasal dari abdi dalem Yogyakarta dan Surakarta.
Ia bersyukur dapat terus mengabdi menjaga warisan sejarah Mataram. “Semua fasilitas ditanggung bersama tanpa perbedaan,” ucapnya pelan, penuh rasa hormat.
/0ab5avdv06diqvp.jpeg)
Masjid utama dan bersejarah di Kotagede bernama Masjid Gedhe Mataram Kotagede, juga dikenal sebagai Masjid Agung Kotagede (Foto: RRI)
Kotagede seakan berbisik tentang masa lalu setiap kali kaki melangkah. Lorong-lorongnya menyimpan jejak kejayaan Mataram Islam yang tak pernah benar-benar pergi.
Erwin dari komunitas Jogja Walking Tour kerap mengajak wisatawan menyelami kisah itu. “Di Kotagede, sejarah tidak hanya dilihat, tapi dirasakan,” ujarnya, pelan.
Jejak Panembahan Senopati hadir lewat Masjid Mataram dan makam raja-raja. Situs Watu Gilang dan Hastorenggo Kotagede menambah lapisan kisah yang sunyi namun bermakna.
Kampung-kampung budaya berdiri setia menjaga denyut tradisi. Purbayan dan Alun-Alun menjadi saksi hidup perjalanan masyarakat Kotagede.
Tak hanya bangunan, warisan tak kasat mata juga terus bernapas. “Kerajinan perak diwariskan lintas generasi sejak masa kolonial,” kata Erwin.
_(1)/nnh6tma5aufic0w.jpeg)
Para pengrajin perak yang merupakan warisan peninggalan dari Kerajaan Mataram di Kotagede, Yogyakarta (Foto: RRI)
Bengkel-bengkel perak berdenting pelan, menempa kenangan dalam logam berkilau. Suvenir dan peralatan rumah tangga lahir dari tangan-tangan penuh cerita.
Aroma kuliner khas menyusup di antara tembok tua. Kipo, Legomoro, dan Kembangwaru hadir sebagai rasa yang tak tergantikan.
Setiap gigitan seperti membuka lembar sejarah yang hangat. “Ke Kotagede rasanya belum lengkap tanpa membawa pulang rasa itu,” ucap Erwin.
Saat hiruk-pikuk Malioboro terasa usai, Kotagede menunggu dengan tenang. “Di sinilah Jogja masa lalu masih bernapas, utuh, dan jujur,” ujarnya.
/gvbd53qlpp6lxs0.jpeg)
Suasana di kawasan Tugu Yogyakarta (Foto: RRI)
Di antara bangunan bersejarah Yogyakarta, wisatawan mencari pengalaman berbeda. Gilang Roshan Fikri datang dari Jakarta untuk menciptakan kenangan khas.
Ia mengaku baru pertama kali mengunjungi kawasan bersejarah tersebut. “Saya ingin merasakan budaya keraton di tengah dunia yang modern,” kata Gilang.
Meski memiliki latar keluarga dari Yogyakarta, Gilang jarang berkunjung. Oleh karena itu, kunjungan ini menjadi pengalaman awal yang berkesan baginya.
Menurutnya, suasana kawasan Kotagede terasa nyaman dan tidak merepotkan. “Masih enak dipakai jalan dan cukup nyaman,” ucap Gilang.
Ia menikmati bangunan yang dinilai tetap organik dan berciri khas lama. “Terasa hawa zaman dulu yang masih terjaga,” katanya.

Kawasan Kotagede, Yogyakarta (Foto: RRI)
Langit Kotagede menutup hari dengan lembut, cahaya senja menempel di tiap bangunan tua. Setiap langkah, setiap aroma, dan setiap denting logam perak menjadi saksi perjalanan sejarah yang hidup.
Gilang berharap pengelolaan wisata budaya semakin profesional dan siap menghadirkan Kotagede ke panggung dunia. “Kalau diliput media internasional, semoga tampil lebih siap,” ucapnya.
Di Kotagede, sejarah bukan hanya dibaca di buku, tapi dirasakan dalam setiap detak langkah dan napas. Bagi siapa pun yang datang, sunyi kota ini berbicara, mengajarkan tentang kejayaan, budaya, dan ketulusan masa lalu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....