UMKM dan Jejak Harapan Warga Binaan Lapas Garut
- 29 Des 2025 18:11 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Garut: Aktif dan kreatif, itulah kesan pertama saat masuk ke Lapas II A Garut, di Garut, Jawa Barat. Lapas yang saat ini dihuni sekitar 527 warga binaan ini, memiliki banyak program yang melibatkan langsung para penghuninya.
Jarum jam menunjukkan waktu telah memasuki pukul 11.00 WIB, tetapi situasi di lapas ini tampak sibuk dengan berbagai kegiatan yang dilakukan para warga binaan. Di balik tembok lapas ini juga terdapat puluhan warga binaan yang terlihat sibuk menganyam serabut kelapa.
Ini merupakan salah satu produk yang dihasilkan oleh warga binaan Lapas II A Garut sejak 2024. Bahkan, berbagai produk dari bahan baku serabut kelapa ini telah diekspor ke sejumlah negara di Eropa bekerja sama dengan UMKM mitra lapas.
Yudi, warga binaan berusia 53 tahun merupakan salah satu yang tampak telaten dan teliti menganyam tali berbahan serabut kelapa. Pria asal Garut ini mengaku dalam satu terakhir baru menguasai teknik merajut serabut kelapa.
“Belum (memiliki keterampilan-red), setelah masuk di sini saja, kalau masuk rajut baru 1 tahun belajar sampai sekarang. Ya ada juga yang sulit, kalau bikin itu 'pergola' yang seperti sarang seperti itu,” kata Yudi menjelaskan saat ditemui RRI, Sabtu (27/12/2025)
Memiliki kesibukan menjadi perajut serabut kelapa lantas dimaknai Yudi sebagai salah satu pelarian untuk mengusir rasa jenuh. Terlebih, ia mendapatkan upah untuk setiap lembar serabut kelapa berukuran 4x3 meter yang dihasilkan bersama warga binaan lainnya.
“Tergantung banyaknya (upah-red), kalau banyak, satu minggu kadang-kadang satu orang Rp200 ribu. Tergantung lebar-lebarnya, kalau ada yang lima ke tiga, lumayan upahnya, dapat dua juga sudah Rp 100 ribu,” ucapnya.
“Ya, untuk keperluan saya sendiri. Kalau ada lebihnya mungkin dikirim ke keluarga.”
Di sisi lain, pria yang tersandung kasus Pelindungan Perempuan dan Anak (PPA) ini mengaku, memiliki keinginan mengimplementasikan keterampilannya saat kembali ke masyarakat. Selain, memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
“Bisa bikin buat di kampung, bisa dimanfaatin hasil keterampilan dari sini. Tergantung kalau ada modalnya,” ujar Yudi.
Memasuki usia senja di balik jeruji juga tidak meredupkan semangat Yogi, berusia 63 tahun untuk terus semangat dan mengasah keterampilannya. Pria yang divonis 7 tahun 3 bulan akibat kasus penyalahgunaan narkoba ini, memiliki keahlian memangkas rambut yang rupanya telah dimiliki sejak sebelum menjadi warga binaan Lapas II A Garut.
“Kebetulan saya di luar buka salon kecantikan, jadi semua perawatan dari kulit, rambut juga, tidak hanya pangkas saja kebetulan. Iya dasarnya udah,” kata Yogi yang saat ditemui tengah memangkas rambut salah satu pelanggan yang juga merupakan warga binaan.
Bagi Yogi Lapas II A Garut tidak membatasi keterampilan maupun minatnya dalam hal memangkas rambut. Hal itu pun berhasil membuatnya mengusir rasa jenuh, terlebih dengan kebersamaan yang terjalin bersama para warga binaan khususnya mereka yang menjadi langganannya.
“Saya memang di bui ini, tapi untuk saya nyaman-nyaman saja karena hobi saya itu tersalurkan juga disini, jadi rasa-rasa jenuh, rasa-rasa itu mungkin agak-agak hilang. Ada yang ngasih, tergantung, kadang-kadang dikasih kopi gitu kan seperti itu, kita sama-sama saja,” ucapnya.
Selain, selama 3,5 tahun berada di dalam Lapas II Garut telah memberikan dampak positif untuk pribadi Yogi. Ia merasa lebih spiritual dan merenungi berbagai kesalahan di masa lalu.
“Yang paling utama agama, saya sampai benar-benar bisa yang namanya salat khusyuk dan di sini merasa kesalahan-kesalahan yang saya alami di luar itu kerasanya sekarang. Kayak nyuci sendiri gitu kan, aduh benar-benar istri saya itu kayak gimana, malah sampai saya sekarang ngebentak juga saya, sakit gitu,” kata pria yang memiliki cita-cita ingin menjadi peternak saat bebas dari penjara ini.
/34vqg423hy658qt.jpeg)
Dua warga binaan tengah membereskan ruang pengolahan kopi di Lapas II A Garut (Foto: RRI/Retno Mandasari)
Optimisme untuk menjadi pribadi yang lebih baik di tengah masyarakat, juga disampaikan Deri yang berusia 34 tahun. Pria asal Garut ini menjadi bagian dari program pengolahan kopi yang juga merupakan binaan di Lapas II A Garut.
Deri yang telah terlibat dalam proses pengolahan kopi selama dua tahun terakhir ini, bahkan memiliki cita-cita untuk menjadi pengusaha kopi. Ia juga menyatakan senang bisa mendapatkan ilmu dan mengasah keterampilan dalam pengolahan kopi justru saat berada di dalam lapas.
“Sebagian ada di luar, tapi aktualisasinya di sini juga dapat dan senang bisa jadi nambah pengetahuan yang baru. Saya ingin jadi pengusaha kopi, karena pada umumnya orang minum kopi jadi prospeknya bagus menurut saya,” ujarnya.
Lapas II A Garut memiliki berbagai program pembinaan yang meliputi, menganyam serabut kelapa, konveksi, pembuatan roti, membatik, pangkas rambut serta pengolahan produk kopi. Kemudian, ternak domba, kambing, bebek, ayam petelur, lele, magot dengan bahan dasar limbah Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga biro perjalanan wisata.

Kepala Lapas II A Garut, Rusdedy saat ditemui RRI, Sabtu (27/12/2025) di Lapas II A Garut, Jawa Barat (Foto:RRI/Retno Mandasari)
Adapun, pembinaan melalui berbagai program dimaksudkan untuk menciptakan budaya kerja warga binaan yang baik. Mereka difokuskan dengan aktivitas serta kegiatan positif.
“Baik untuk menyalurkan minat dan bakatnya, maupun dia juga bisa mendapatkan penghasilan dari kegiatannya itu. Karena, kita juga sudah membuatkan suatu wadah dalam bentuk kewirausahaan, baik itu UMKM maupun koperasi yang dimiliki oleh mereka sendiri,” kata Kepala Lapas II A Garut, Rusdedy.
Menurut Rusdedy, para warga binaan sejatinya memiliki etos kerja tinggi, namun hal itu tergantung dari metode pembinaan yang diterapkan. Rusdedy menambahkan, etos kerja warga binaan yang tinggi itu juga terlihat saat ia memimpin Lapas Gorontalo dan Lapas Kendal.
“Dengan perlakuan yang baik, warga binaan ini sebenarnya punya etos kerja yang baik, itu tergantung bagaimana kita melaksanakan metode pembinaannya. Artinya kita tidak menganggap dia sebagai objek semata, tapi kita libatkan juga bahwa dia punya peranan yang besar dalam proses pembinaan dia sendiri,” ujarnya.
Meski telah memiliki koperasi dan galeri UMKM yang memasarkan langsung berbagai produk warga binaan di luar lapas agar bisa dijangkau langsung oleh masyarakat umum. Namun, Rusdedy menyebut, pihaknya mengharapkan kerja sama UMKM di dalam lapas dengan UMKM yang dikelola masyarakat umum dapat terjalin.
“Secara umum sudah berjalannya baik, hanya memang kita akan lebih tingkatkan lagi kolaborasi antara UMKM di dalam Lapas dengan UMKM di tengah-tengah masyarakat. Jadi, ini supaya bisa terbentuk komunitas yang bersinergi,” ucapnya.
Selain, secara khusus Rusdedy mengharapkan, pembinaan di dalam lapas juga mendapatkan dukungan besar dari masyarakat luas. Utamanya, dalam menghapus stigma mengenai warga binaan yang kerap dicap sebagai penjahat yang hanya menjalani hukuman di balik penjara.
“Karena, bagaimanapun juga warga binaan ini kan dari masyarakat, dibina dalam lapas, kalau stigma itu terus melekat, dia sebagai orang jahat, itu akan sulit untuk bisa berkarya kembali. Dengan begitu harapannya setelah dibina di sini, masyarakat pun bisa menerima keberadaan mereka di luar nantinya,” ujar Kalapas II A Garut menekankan.
Keseriusan seluruh pihak untuk terlibat dan mendukung berbagai upaya memberdayakan para warga binaan, tentunya menjadi hal utama dalam pelaksanaannya. Sebab, sejatinya warga binaan bukan penjahat, hanya tersesat yang belum terlambat untuk bertaubat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....