Menjaga MBG dengan Kedisiplinan Dapur di SPPG Cijengkol
- 17 Des 2025 19:21 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Subang: Malam di Desa Cijengkol turun tanpa suara. Jalan menurun yang mengantar ke lokasi dapur lengang, seolah desa sedang menyimpan hari dengan pelan.
Namun di sebuah bangunan dekat jalan raya, cahaya lampu putih justru menyala terang. Jam menunjukkan waktu hampir 10 malam, pada Senin awal pekan ini dan pekerjaan baru saja dimulai.
Begitu pintu ruang pengolahan terbuka, suasana langsung berubah. Lantai biru mengilap, dingin, dan bersih. Setiap orang yang masuk berhenti sejenak.
Alas kaki diganti dengan alas kaki khusus dapur. Masker, penutup kepala, dan sarung tangan dikenakan rapi.
Tidak ada tangan yang langsung menyentuh bahan sebelum tubuhnya sendiri siap secara prosedural. Di dapur ini, disiplin selalu mendahului kerja.
Ini adalah malam pertama dapur SPPG Cijengkol, Kecamatan Serangpanjang, Kabupaten Subang, Jawa Barat, beroperasi. RRI yang berangkat dari Bandung, perjalanan menuju lokasi memakan waktu hampir dua jam, dengan setengah jam terakhir melewati jalan menurun menuju desa.
Malam itu, 1.050 porsi Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai dipersiapkan untuk 19 sekolah dan kelompok penerima manfaat. Perinciannya untuk siswa SD, MTs, MA, hingga balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Sebagian besar relawan SPPG Cijengkol adalah warga sekitar. Mereka bukan datang dengan pengalaman panjang di dunia katering atau jasa boga, melainkan dengan kesiapan untuk dilatih.
Sebanyak 46 orang relawan terlibat dalam operasional dapur. Mereka bekerja dalam pembagian tugas yang jelas dan terpisah.
Adie Putranto, kepala dapur SPPG Cijengkol, memastikan seluruh relawan telah melalui pelatihan penjamah makanan sebelum dapur ini benar-benar beroperasi. Dengan begitu yang tersisa adalah menjalankan sistem dengan patuh, berulang, tanpa improvisasi ceroboh.
Bahan makanan tidak pernah langsung menuju pengolahan. Semuanya berhenti lebih dulu di ruang penerimaan.
Kuantitas dicek, kualitas diperiksa. Setelah itu bahan disortir, dicuci, dikeringkan sebentar, lalu dipisahkan ke gudang basah dan gudang kering.
“Setiap tahap dikerjakan di ruang berbeda, oleh tangan berbeda. Tidak ada lintasan yang saling memotong,” kata Adie.
Di dapur ini, arah juga diatur. Bahan mentah, ompreng kotor, dan makanan siap distribusi tidak pernah bertemu.
Masing-masing memiliki pintu sendiri, jalur sendiri, dan waktu sendiri. Kebersihan, di sini, bukan hanya soal mencuci, tetapi soal memisahkan.
Pemisahan itu bukan sekadar desain ruang, melainkan cara berpikir. Adie Putranto memandang pengawasan harus dimulai sejak bahan pangan pertama datang.
Kualitas diseleksi sejak awal. Sayur diperiksa kesegarannya, yang layak dipilih, yang kurang ditolak sebelum melangkah lebih jauh.
Setiap tahapan diawasi, dari penyortiran, pencucian, hingga pengolahan. Dalam skala produksi ribuan porsi, satu kelengahan kecil tidak pernah berhenti sebagai kesalahan kecil.
Karena itu, pengawasan berlapis diterapkan sampai ke tahap akhir. Ompreng tidak langsung disabuni karena terlebih dahulu disucikan dengan air panas untuk meluruhkan minyak yang menempel, baru kemudian dicuci menggunakan sabun, bukan sekali, melainkan dua tahap.
“Jika masih menyisakan bau amis atau logam, seluruh alur dihentikan untuk diulang. Di dapur tidak ada kompromi, baik di awal maupun di ujung proses,” ujar Adie.

Para petugas di SPPG Cijengkol, Kabupaten Subang, Jawa Barat, berusaha keras menjaga disiplin di dapur demi kualitas MBG yang maksimal (Foto: RRI/Rudi Zein)
Di salah satu sisi dinding ruang pengolahan, poster SOP higienis menempel setinggi mata. Warnanya cerah, bahasanya ringkas.
Pencegahan kontaminasi silang, tata cara penanganan bahan, prinsip keamanan pangan. Poster itu tidak dimaksudkan sebagai hiasan, tetapi sebagai pengingat yang terus-menerus, tiap kali tangan bergerak dan bahan berpindah meja.
Pengolahan makanan dimulai pukul 11 malam. Dapur sengaja memilih jam ini, bukan demi romantika kerja malam, melainkan demi kesegaran.
Pemorsian baru dilakukan sekitar pukul tiga dini hari. Hal ini supaya makanan berada dalam kondisi terbaik ketika distribusi dimulai.
Di balik alur kerja yang sunyi itu, ada hitung-hitungan yang tidak terdengar. Dinda Nurunnisa, ahli gizi dapur SPPG Cijengkol, memastikan setiap menu memenuhi komponen dasar karbohidrat, protein hewani dan nabati, sayur, serta buah.
“Porsi dibedakan. Anak usia dini mendapat porsi kecil, ibu hamil dan menyusui porsi lebih besar,” kata Dinda.
Gramasi menjadi bahasa bersama. Menu boleh berganti, tetapi kandungan gizi tidak boleh bergeser.
Rasa pun dipikirkan, dengan cara yang tenang. Bank menu terus dievaluasi untuk memastikan makanan diterima dengan baik oleh penerima manfaat.
Di dapur ini, enak bukan tujuan akhir. Ia adalah jembatan agar gizi benar-benar sampai.
Keamanan pangan menjadi fondasi yang tidak bisa ditawar. Dr. Wandi Kurniadi, pembina dapur yang berpengalaman di dunia katering skala besar, memandang memasak ribuan porsi sebagai disiplin tersendiri.
Waktu dan suhu bukan detail teknis, melainkan penentu umur makanan. Kesalahan kecil tidak berhenti sebagai kesalahan kecil.
“Karena itu, pelatihan, sertifikasi, dan pengawasan dilakukan berulang. Di dapur kepatuhan pada sistem jauh lebih penting daripada kebanggaan personal,” kata Wandi.
Ketika makanan selesai dan ompreng tertutup, cerita dapur ini belum berakhir. Di bagian belakang alur kerja, limbah mulai muncul.
Enjang Sutarmi, yang menangani pengolahan limbah dapur SPPG Cijengkol, mencatat sumber terbesar justru bukan sisa makanan. Limbah terbanyak justru dari air pencucian.
Limbah pencucian itu berupa air panas bercampur deterjen, minyak, dan lemak dari ompreng. Selain itu juga peralatan masak—yang debitnya terus mengalir dan berpotensi mencemari jika dibiarkan.
“Limbah sisa bahan makanan relatif sedikit. Kulit sayur, sisa nasi, dan potongan bahan dipilah sejak awal dan sebagian dimanfaatkan untuk pakan budidaya ikan milik warga sekitar,” kata Enjang.
Limbah cair dari pencucian ompreng dialirkan ke budidaya cacing, digabung dengan limbah pabrik tahu setempat. Tidak ada klaim teknologi tinggi, hanya upaya agar sesuatu yang berpotensi merusak tidak berakhir sia-sia.
Tidak semua limbah bisa diselamatkan, misalnya plastik dan bahan anorganik tetap berakhir di tempat pembuangan. Dapur ini berusaha tidak menampilkan diri sebagai tanpa cela.
Pelan-pelan, cara pandang kru dapur berubah dengan limbah tidak lagi diperlakukan sebagai sisa yang harus segera disingkirkan, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab. Contohnya makanan yang mereka siapkan malam itu.
Di dapur SPPG Cijengkol, MBG tidak berhenti pada piring yang terisi. MBG ditangani dengan disiplin, dijaga keamanannya, dihitung gizinya, dan dipikirkan dampaknya, bahkan setelah selesai dimakan.
Malam terus bergerak ke pagi, dan dapur itu perlahan kembali senyap. Kini yang tersisa bukan hanya lantai bersih atau ompreng kosong, melainkan jejak cara bekerja.
Di tempat ini, disiplin tidak dipajang, ia dijalani. Ia meresap ke rasa, ke gizi, ke keamanan, hingga ke sisa-sisa yang tidak terlihat.
Barangkali itulah yang paling penting dari sebuah dapur yang melayani banyak orang. Jadi dapur bukan sekadar apa yang dimasak, melainkan bagaimana semuanya dituntaskan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....