Inayah Wahid, Istana dan Kesepian

  • 14 Des 2025 21:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

BAGI sebagian orang, tinggal di Istana Negara adalah puncak kemewahan dan prestise. Namun bagi Inayah Wulandari Wahid, putri bungsu Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, istana justru sempat menjadi ruang yang terasa asing, bahkan menyesakkan.

Saat ayahanda menjabat presiden, Inayah masih remaja. Usianya baru 16 tahun, masih bersekolah di Jakarta Selatan, dan sedang berada di fase hidup yang membutuhkan ruang aman untuk tumbuh.

Tinggal di istana bukanlah impiannya. “Saya nggak nyaman,” kata Inayah dalam Podcast Pro3 Siniar, Minggu (14/12/2025).

Hidupnya yang semula biasa saja, mendadak terasa seperti etalase publik. Setiap gerak-geriknya seolah menjadi milik banyak orang.

Ia merasa kehidupannya “diintropsi”, diamati, dibicarakan, dinilai. Aktivitas sederhana seperti naik angkutan umum pun berubah menjadi pengalaman yang canggung.

“Naik angkot aja salah,” katanya sambil tertawa kecil, mengenang masa itu. Tatapan orang-orang, bisik-bisik, dan jari yang menunjuk membuatnya merasa bersalah hanya karena hadir di ruang publik.

Karena itu, Inayah memilih tetap tinggal di rumah keluarga di Ciganjung. Namun pilihan itu pun membawa rasa lain, ada sepi dan takut.

Di rumah besar itu, ia hanya ditemani satu pengawal. “Lama-lama ketakutan sendiri,” ujarnya jujur.

Akhirnya, Inayah pindah ke Istana Negara. Ironisnya, justru di tempat yang dulu ia hindari, ia menemukan rasa ramai yang menghangatkan.

Banyak orang berlalu-lalang, ada petugas keamanan, staf, dan aktivitas yang tak pernah benar-benar berhenti. “Di sana banyak orang, akhirnya jadi nggak kesepian,” katanya.

Ia bahkan akrab dengan para petugas pengamanan lalu bermain basket bersama, bercengkerama tanpa jarak. Di tengah segala formalitas istana, Inayah menemukan sisi manusiawi yang sederhana.

Salah satu kenangan yang paling ia ingat justru datang dari momen jenaka. Suatu hari, saat bersepeda di area istana, ia ditegur oleh seorang petugas yang tidak mengenalinya.

Alih-alih tersinggung, Inayah justru tertawa. “Lucu banget,” katanya.

"Kalau bapaknya nganggep saya anak kampung belakang, ya kali bisa masuk ke dalam. Tapi logikanya ya masuk aja,” ujarnya sambil terkekeh.

Tawa itu seolah menggambarkan cara Inayah memandang hidup. Ringan, membumi, dan tanpa jarak berlebihan.

Dalam perjalanan menemukan dirinya, Inayah sempat bermimpi menempuh pendidikan teater. Namun keinginan itu tidak mendapat restu orang tuanya.

Bukan penolakan pada seni, melainkan kekhawatiran pada masa depan. Ia pun mengambil jalan tengah.

Sastra Indonesia. Pilihan yang baginya tetap sejalan dengan hasrat berekspresi.

“Karena saya juga suka sastra, dan di situ juga ada teaternya,” katanya. Sastra menjadi fondasi berpikir, merangkai kata, dan memahami manusia, hal-hal yang kelak sangat membantunya di panggung.

Kini, Inayah aktif di dunia teater dan komedi. Panggung menjadi ruang aman sekaligus ruang jujur baginya.

Di sanalah ia menyalurkan kegelisahan, kritik, dan harapan. Ia tak memilih jalur politik seperti ayahnya.

Namun nilai yang ia perjuangkan tetap sama, demokrasi dan kemanusiaan. "Nilainya sama, cuma bentuknya yang berbeda,” ucapnya mantap.

Bagi Inayah, seni adalah cara paling manusiawi untuk berbicara. Tanpa podium, tanpa kekuasaan, tapi langsung menyentuh perasaan.

Dari istana hingga panggung teater, ia memilih jalannya sendiri. Menjadi manusia biasa yang merdeka menertawakan hidup, sekaligus memperjuangkan maknanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....