Panggugunan, Desa yang Luruh Bersama Hujan

  • 09 Des 2025 18:39 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

AROMA tanah basah langsung menyergap ketika saya menapakkan kaki di Desa Panggugunan, Kecamatan Pakat, Sumatra Utara. Hamparan yang dulu berupa sawah dan halaman rumah kini berubah menjadi puing-puing kusut.

Bongkahan batu sebesar mobil berserakan tanpa arah. Beberapa di antaranya tertancap seperti gigi raksasa di tengah tanah yang terbelah.

Sulit membayangkan bahwa tempat yang kini sunyi dan porak-poranda ini dulu adalah desa yang hidup. Penuh suara anak-anak berlari di pematang, dan asap dapur yang melambung dari rumah-rumah kayu.

“Ini dulu sawah, sana rumah,” suara Elmina pecah pelan, seakan masih menimbang apakah pemandangan ini nyata. Ia berdiri memandangi tanah lapang yang tak lagi dikenalnya.

Di titik ia menunjuk, kini hanya ada lumpur dan patahan bambu. “Inilah yang jadi korban.”

Longsor dan banjir bandang yang terjadi pada Selasa, 25 November 2025 itu datang ketika warga masih tertidur. Dalam pekat malam, hanya suara seperti benda besar jatuh yang membuat Elmina terjaga.

Ia sempat mengira ada mobil terguling. Nyatanya, gunung di belakang desa mengirim batu-batu besar yang merangsek turun bersama arus lumpur.

“Hujan tidak berhenti. Lalu ada suara benturan keras, ternyata batu dari atas,” katanya dengan tatapan yang tak pernah benar-benar lepas dari arah pegunungan.

Ia mengaku pertama kali melihat bencana sebesar ini. Meski rumahnya masih berdiri, ia dan keluarga belum sanggup tidur di dalamnya lagi. “Trauma,” katanya lirih.

Di sisi lain lokasi, Kepala Desa Panggugunan, Trinding Naepos, berjalan sambil menunjuk titik-titik di mana warganya ditemukan. Lima orang meninggal dunia malam itu.

Lima lainnya masih dirawat di rumah sakit. Sementara 42 kepala keluarga, sekitar 120 orang mengungsi setiap malam.

“Siang mereka berani pulang sebentar, tapi begitu gelap, semua kembali ke pengungsian,” ujarnya. Nada suaranya datar, seperti seseorang yang kelelahan mengulang kabar buruk.

Desa Panggugunan kini tak hanya kehilangan tanah dan rumah. Ia juga kehilangan rasa aman yang dulu sederhana, tidur di rumah sendiri tanpa takut bumi bergerak.

Dan di tengah batu-batu yang berserakan, saya melihat sesuatu yang tak bisa ditangkap kamera. Ketakutan yang diam-diam menempel di napas setiap orang yang selamat.

Sebuah desa yang berusaha berdiri Kembali. Meski pijakannya kini rapuh.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....