Benteng, Gereja, Masjid: Penjaga Tradisi dan Sejarah Maluku
- 05 Des 2025 07:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Amsterdam di Negeri Hila, tepatnya di Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, berdiri tenang menantang usia yang terus berjalan. Laut biru mengelilinginya, merangkai panorama memikat yang membuat setiap pengunjung terpukau.
Kicauan burung berpadu dengan sebuah pohon di area taman menambah kesan damai. Menghadirkan harmoni alam yang menyejukkan mata dan hati.
Suasana lalu lintas di Kota Ambon, Maluku, dari ketinggian menampilkan ikon Jembatan Merah Putih dan panorama laut luas dihiasi kapal-kapal dan bukit berlapis yang memikat mata, Selasa (2/12/2025) (Foto: rri.co.id/Maulana Ropianto)
Perjalanan menuju Hila dari pusat Ambon menempuh sekitar 55 kilometer. Sepanjang rute, panorama memikat terbentang: laut biru luas dihiasi kapal-kapal muatan besar yang melintas.
Bukit-bukit eksotis menjulang tinggi, diiringi rumah-rumah khas Maluku yang tersusun rapi. Cahaya hangat menebar lembut sepanjang jalan, membuat rumput liar di tepi rute tampak menari mengikuti angin.
Aktivitas warga mulai terlihat perlahan, menambahkan nuansa harian yang memberi warna pada perjalanan. Pemandangan itu seolah menyambut setiap pengunjung sebelum tiba di tujuan
Momen keceriaan sejumlah siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) berjalan kaki setelah pulang dari sekolah di kawasan jalan Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku (Foto: rri.co.id/Rachmad Zein)
Anak-anak sekolah pulang sambil tertawa riang, memenuhi jalan desa dengan langkah lincah. Meski menempuh jarak cukup jauh, kerapian seragam mereka tetap memikat mata.
Semangat belajar tampak jelas terpancar saat kami melewati barisan siswa itu. Setiap gerak dan rapi seragam mereka menyiratkan disiplin yang kuat dalam keseharian.
Sebanyak tiga siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) berjalan kaki setelah pulang dari sekolah di kawasan jalan Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku (Foto: Maulana Ropianto)
Tak jauh dari sana, para ibu menata ikan segar dengan telaten di depan rumah. Sagu dan kelapa tersusun rapi, menghadirkan ritme perdagangan khas pesisir yang fotogenik dan hidup.
Suasana bagian depan Benteng Amsterdam, di Negeri Hila, Kecamatan, Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, Selasa (2/12/2025) (Foto: rri.co.id/Maulana Ropianto)
Sejumlah wisatawan mengunjungi Benteng Amsterdam di Negeri Hila, di Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, Selasa (2/12/2025) (Foto: rri.co.id/Maulana Ropianto)
Perlahan kemudian, Benteng Amsterdam terlihat kokoh di kejauhan. Sunyinya menghadirkan kewibawaan meski berada di tengah permukiman warga.
Saat melewati gerbangnya, nuansa sejarah langsung memeluk langkah kami. Angin sepoi mengantar perjalanan menuju Damiri, sang penjaga cerita budaya.
Perawakan Damiri tampak kuat dengan tatapan khas Maluku yang tegas. Namun, senyumnya segera membubarkan kesan sangar pada pertemuan pertama itu.
“Tak kenal maka tak sayang,” ucapnya sambil menyambut kami dengan ramah, Selasa (2/12/2025), siang. Pepatah itu mengalir lembut dan menuntun percakapan berikutnya.
“Minggu lalu Menteri Kebudayaan Fadli Zon datang ke sini. Ada tiga titik didatangi Benteng, Gereja Immanuel, dan Masjid Wapauwe," katanya perlahan.
Ketua pengelola situs cagar budaya Maluku Damiri (kiri) menyambut hangat tim Pusat Pemberitaan Pro3 RRI/KBRN di area Benteng Amsterdam, Selasa (2/12/2025) (Foto: rri.co.id/Maulana Ropianto)
Damiri menuturkan, awal kehadiran Eropa di Maluku melalui benteng ini. Portugis membangun gudang rempah pada 1512 sebelum Belanda mengambil alih.
“Kerajaan Hitu membantu Belanda mengusir Portugis dari wilayah ini. Gudang itu lalu berubah menjadi Benteng Amsterdam pada 1605," ucapnya dengan nada tenang.
Sambil berjalan perlahan, Damiri menjelaskan, Gapura utama benteng berdiri sebagai simbol pintu masuk benteng Belanda. Tembok setebal 2,20 meter tetap bertahan sebagai penanda masa lalu.
Di halaman benteng terdapat sumur tua berdiameter dua meter. Sumur itu dibangun Portugis dan airnya masih murni hingga hari ini.
"Bagi penghuni masa lalu, sumur menjadi simbol kelangsungan hidup benteng. Meski sempat ditutup, sumur tetap terawat sebagai saksi sejarah," ucapnya.
Ketua pengelola situs cagar budaya Maluku Damiri (kiri) menunjukkan lokasi sumur tua dibangun Portugis dalam area Benteng Amsterdam, Selasa (2/12/2025) (Foto: rri.co.id/Angga Apriyandi )
Kisah Rumphius, Penyingkap Misteri Alam Maluku
Benteng bercat putih ini memiliki tiga lantai dengan fungsi militer berbeda. Tangga kayu curam menghubungkan lantai dua dan tiga, menambah kesan kokoh.
Karena itu, wisatawan lanjut usia atau yang kurang kuat disarankan berhati-hati saat menaikinya. Rumah blok berukuran 16 x 16 meter menaungi ruang inti benteng dan dinding setebal 47 cm melindungi ruang berukuran 4,57 x 5,3 meter.
Bastion (benteng kecil) berdiri di sudut timur laut dan barat daya bersama satu menara pengawas. Tembok persegi berukuran 52 x 52 meter mengelilingi seluruh kompleks benteng.
Gerbang utama berada di sisi timur sesuai struktur pertahanannya. Dua gerbang kecil tanpa pintu berada di utara dan selatan sebagai akses tambahan.
Sementara itu, lantai pertamanya pernah menjadi gudang amunisi sekaligus penjara tentara Jepang. Lantai kedua berfungsi sebagai ruang tidur para perwira, lengkap dengan meriam asli yang masih tersisa.
Dindingnya memamerkan banyak gambar ikan karya Rumpius yang hidup dengan glaukoma. Seluruh gambar tertata rapi dalam pigora.
Menurut Damiri, pria bernama lengkap Georgius Everhardus Rumphius tersebut meninggalkan jejak panjang di Pulau Ambon. Banyak mahakarya lahir dari tangan pria kelahiran Jerman pada 1627 itu.
"Rumphius dikenal luas melalui bukunya Herbarium Amboinense yang melegenda. Ia juga menuliskan gempa besar yang meluluhlantakkan Pulau Ambon pada 17 Februari 1674," ucap Damiri.
Selain itu, sejarah hampir seluruh negeri adat di Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, ikut tercatat dalam karyanya. Ia merekam flora, fauna, dan kehidupan masyarakat dengan ketelitian khas seorang naturalis.
"Rumphius tinggal menetap di Negeri Hila, tak jauh dari Benteng Amsterdam. Jejak kehadirannya masih terasa," ucap Damiri.
Suasana sekitar Sumur Rumphius di kawasan Benteng Amsterdam, Selasa (2/12/2025) (Foto: rri.co.id/Maulana Ropianto)
Bagian dalamr Sumur Rumphius di kawasan Benteng Amsterdam, Selasa (2/12/2025) (Foto: rri.co.id/Maulana Ropianto)
Damiri menyebut Rumphius sebagai naturalis dan penulis besar dengan karya monumental Herbarium Amboinense. Karya itu memuat deskripsi rinci tanaman dan hewan yang ia temukan di Pulau Ambon.
Diungkapkan, nama Rumphius sendiri sudah lama dikenal di Eropa melalui penelitian flora dan fauna tropis. Namun, keberadaan sumur tempat Rumphius bekerja jarang diungkap ke publik.
Menurutnya, sumur tersebut dianggap penting bagi banyak peneliti. "Di sanalah Rumphius menghabiskan waktu berjam-jam mencatat temuan uniknya dari Pulau Ambon," ucapnya.
Ketua pengelola situs cagar budaya Maluku, Damiri (kiri), memandang pohon yucca schidigera yang ditanam sejak tahun 1994, sambil menikmati laut biru berkilauan dan bukit memukau dari lantai tiga Benteng Amsterdam, Selasa (2/12/2025) (Foto: rri.co.id/Radhmad Zein)Usai menceritakan sosok Rumphius, Damiri kemudian membawa kami naik ke lantai ketiga yang terbuka sebagai ruang pengintai pasukan pengawal benteng. Dari titik itu, kapal terlihat jelas sebelum memasuki perairan Hila.
Di situ, Damiri menjelaskan, bahwa pemugaran besar dilakukan antara 1991 hingga 1993 demi mempertahankan keaslian benteng. Pemerintah hanya memperbaiki atap dan kayu agar tembok kuno tetap berdiri dalam bentuk asli.
Sejak perbaikan selesai, pengunjung terus berdatangan untuk merasakan kembali jejak kekuasaan masa lalu. Wisatawan mancanegara ikut mengapresiasi perawatan benteng yang rapi dan teratur sepanjang tahun.
Wisatawan dari anak-anak hingga dewasa menikmati panorama alam, hamparan laut biru dan bukit hijau, dari area Benteng Amsterdam, Selasa (2/12/2025).(Foto: rri.co.id/Rachmad Zein)Semua sudut di benteng ini nampak memanjakan para pengunjung untuk foto kenang-kenangan. Mulai dari kalangan dewasa hingga anak-anak, semuanya terlihat ceria menikmati pemandangan dari berbagai sisi.
Salah satunya adalah Nursanti, asal Halmahirah Selatan, Maluku Utara. Ia mengaku, tertarik berkunjung karena sering mendengar cerita tentang Benteng Amsterdam dan masjid tua di Maluku.
"Jadi ingin sekali melihat langsung, sebagai bukti cerita masa lalu yang sering kita dengar,” ujarnya. Setelah datang, Nursanti merasa takjub.
Ia mengaitkan, nama benteng dengan sejarah penjajahan dan aset yang ditinggalkan Belanda. “Kesan saya setelah melihat, wow, berarti sejarah ini memang nyata dan terjaga dengan baik,” kata Nursanti.
Ia juga memuji tatanan dan pemandangan benteng, sekaligus pelestarian yang dilakukan pemerintah Kabupaten Maluku Tengah. Saat berfoto di atas benteng, Nursanti mengaku, merasakan sensasi seakan dapat mengintai pulau di seberang.
“Pemandangannya sungguh indah. Kiita merasa luar biasa memiliki bangunan yang terawat dengan baik,” ucapnya bangga.
Tentang harapannya, Nursanti menekankan, pentingnya menjaga kelestarian benteng sebagai bukti sejarah dan identitas bangsa. “Ini salah satu bukti nyata bahwa kita adalah negara yang kuat, peninggalan ini milik kita dan harus dijaga,” ujarnya.
Seorang wisatawan berjalan di kawasan Gereja Immanuel yang sedang direnovasi, dekat Benteng Amsterdam, Selasa (2/12/2025) (Foto: rri.co.id/Rachmad Zein)
Tapak Iman dalam Harmoni Hila
Tak jauh dari Sumurupius,, Gereja Immanuel berdiri tenang sebagai penanda masa kolonial. Portugis membangunnya pada tahun 1514 sebagai kapel sederhana sebelum Belanda memperbesar dan memperkokoh strukturnya pada tahun 1659.
“Masyarakat Hila Muslim menjaga gereja ini sejak lama. Keharmonisan ini menjadi teladan penghargaan lintas agama di Maluku,” ucap Damiri lembut, menegaskan hubungan yang sudah mengakar berabad-abad.
Ia melanjutkan, ibadah rutin memang tidak lagi berlangsung setiap Minggu seperti masa lampau. Namun, kebaktian tetap digelar beberapa kali dan sering dihadiri jemaat asing yang datang belajar sejarah Hila.
Sejumlah pekerja tengah melakukan renovasi Gereja Immanuel, menjaga keaslian bangunan bersejarah, Selasa (2/12/2025) (Foto: rri.co.id/Rachmad Zein)Ketika renovasi sedang berlangsung, Damiri menunjukkan bagian dalam gereja dengan penuh kehati-hatian. “Gereja ini tidak bisa dipisahkan dari sejarah benteng. Ada benteng, ada gereja," ujarnya.
Ia menjelaskan, bahwa benteng berawal dari gudang rempah Portugis. Begitu pula gereja, yang mulanya merupakan kapel Katolik bernama Santo Jacobus sebelum Belanda masuk pada 1605 dan mengusir Portugis dari wilayah ini.
Kapel itu kemudian diperbesar oleh pendeta sekaligus Gubernur Jenderal Belanda Bernardus Van Plueren pada tahun 1780 dan beralih fungsi menjadi gereja Protestan. Dialah, lanjut Damiri, yang memberi nama Gereja Immanuel.
"Jadi, kata Immanuel pertama kali terucap di Maluku, bahkan di Indonesia. Di dusun kecil bernama Hila Kristen," ucapnya.
Seorang pekerja berjalan di dalam ruang Gereja Immanuel yang tengah direnovasi, Selasa (2/12/2025) (Foto: rri.co.id/Rachmad Zein)Damiri kemudian menyinggung tentang dua komunitas tua di wilayah itu: Hila Islam dan Hila Kristen. Tragedi 1999 membuat warga Hila Kristen mengungsi, namun jejak sejarah mereka tetap dijaga.
“Sekarang gereja ini dirawat oleh masyarakat Hila Islam. Orang Islam yang menjaga gereja ini, menjaga dan merawatnya," ucapnya.
Ia menegaskan, bahwa siapapun yang datang ke Hila harus belajar dari nilai ini. “Saya selalu bilang, jangan bicara tentang pelagandong, datang dan belajar di Hila bagaimana orang Muslim menghargai gereja ini," ujarnya mantap.
Karena gereja, lanjutnya, adalah saksi sejarah masuknya agama Kristen dan sebuah situs budaya yang harus dilindungi. "Itulah sebabnya, masyarakat Muslim Hila menjaga gereja ini dengan sepenuh hati.”ucap pria muslim itu, dengan penuh keyakinan.
Kubah Masjid Wapauwe terlihat anggun dan kokoh di Desa Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah, Selasa (2/12/2025)(Foto: rri.co.id/Rachmad Zein)
Wisatawan mancanegara mengamati dari luar arsitektur kayu Masjid Wapauwe, terletak tak jauh dari Gereja Immanuel, Selasa (2/12/2025)(Foto: rri.co.id/Rachmad Zein)Dari Gereja Immanuel Menuju Masjid Wapauwe
Dari Gereja Immanuel, kami berpamitan kepada Damiri dan beberapa pekerja mayoritas muslim yang tengah merenovasi bangunan. Mereka melambaikan tangan dengan senyum hangat, seolah mengisyaratkan salam toleransi dan kasih antar-sesama.
Perjalanan kemudian mengarah ke Masjid Wapauwe, masjid tua yang menyimpan banyak kisah. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Gereja Immanuel, seakan dua rumah ibadah itu berdiri sebagai penjaga sejarah yang saling melengkapi di tepi Negeri Kaitetu.
Kami berjalan kaki melewati panorama alami dan pemukiman warga dengan aktivitas sehari-hari. Senyum hangat beberapa warga menyapa, menambah suasana damai sepanjang jalan.
Di pertengahan perjalanan, kami membayangkan sosok yang akan ditemui, Raja Negeri Kaitetu, M. Armin Lumaela. Ia dikenal memahami betul sejarah Masjid Wapauwe.
Ada sedikit keraguan apakah percakapan nanti akan seformal gelarnya sebagai raja? Sempat membayangkan batas tertentu dalam berkomunikasi.
Namun, sesampainya di area masjid yang bersih dan tertata rapi, rasa khawatir itu hilang. Seorang pria berkemeja putih datang menyambut dengan senyum tulus, menjawab salam kami.
“Waalaikum salam. Terima kasih sudah jauh-jauh dari Jakarta sampai ke masjid,” ujar pria yang akrab disapa Upu, panggilan hormat bagi para tetua.
Gaya bicara Upu santai dan ramah. Meski bergelar raja, ia tampak elegan dan rendah hati, membuat percakapan terasa dekat.
Sepasang wisatawan, Adams dan istrinya dari Alaska, Amerika Serikat, memberikan penjelasan saat diwawancarai di Masjid Wapauwe, Selasa (2/12/2025)l (Foto: rri.co.id/Rachmad Zein)
Di sela penyambutan, terlihat beberapa tamu mancanegara tengah membaca keterangan bergambar tentang sejarah masjid. Kami berbincang dengan salah satu di antaranya, Adams dari Alaska, Amerika Serikat, bersama istrinya.
Adams mengaku, menghabiskan dua minggu di Indonesia, termasuk beberapa hari di Ambon dan Saparua. Ia datang untuk melihat langsung masjid tua yang menjadi ikon sejarah lokal.
“Ambon berbeda dari tempat lain di Indonesia. Saya ingin menyaksikan langsung kawasan lokal dan masjid tua ini,” ujar Adams. Ia mengaku, terkesan dengan usia masjid yang sudah lama berdiri dan fakta bahwa bangunan itu pernah dipindahkan beberapa kali sepanjang sejarah.
Adams menambahkan, kekagumannya terhadap bangunan yang terbuat dari kayu, bukan plastik atau beton. “Ini sangat keren, masjidnya terawat dengan baik dan sangat menakjubkan,” katanya.
Satu keluarga wisatawan mancanegara, ayah, ibu, dan anak, membaca papan informasi terkait pembangunan Masjid Wapauwe, Selasa (2/12/2025) (Foto: rri.co.id/Rachmad Zein)Ia mengharapkan, situs sejarah ini terus dijaga dan dilestarikan agar generasi mendatang tetap dapat merasakan warisan budaya yang hidup dan autentik. Selama berkeliling masjid, Adams menikmati setiap sudut bangunan dan halaman sekitarnya.
Semua area menjadi spot foto yang memikat sekaligus memberi kesan langsung akan kearifan lokal dan harmoni antara bangunan dengan lingkungan sekitarnya.
Adams menegaskan, pengalaman melihat masjid tua ini memperkuat pemahamannya tentang sejarah Maluku. “Kunjungan ini memberi bukti nyata bagaimana masyarakat setempat menjaga warisan leluhur mereka,” ujarnya sambil tersenyum.
Ia menambahkan, pentingnya pelestarian tempat bersejarah ini untuk generasi muda. “Semoga anak-anak muda juga menghargai dan terus menjaga situs bersejarah seperti ini,” kata Adams
Raja Negeri Kaitetu, M. Armin Lumaela( Upu), menyambut dengan ramah di area Masjid Wapauwe, Selasa (2/12/2025).(Foto: rri.co.id/Rachmad Zein)Setelah menyapa para tamu, Upu mengajak kami mendekati bangunan utama masjid sambil mulai bercerita. Masjid ini berdiri teduh di antara rumpun sagu dan angin pesisir yang tenang.
Usianya lebih dari enam abad. Namun, kehangatan dari kayu-kayu tua dan aroma tanah Maluku masih terasa kuat ketika langkah pertama menjejak halaman.
Bangunan induk pada masjid ini berukuran sekitar 10x10 meter persegi dengan bentuk bujur sangkar yang mampu menampung sekitar 60 jemaah. Di sampingnya terdapat serambi tambahan berukuran 6,35x4,75 meter persegi.
"Sebelum kedatangan Portugis dan Belanda, awalnya bernama Masjid Wawane. Bangunan ini didirikan pada abad ke-15 oleh Pernada Jamilu dari Kesultanan Jailolo, yang menyebarkan Islam ke wilayah ini," ucap Upu.
Masjid kemudian dipindahkan pada 1614 karena ancaman Belanda yang mengusik ketenteraman warga. Lokasi barunya berada di dekat pohon mangga berabu atau wapa.
Raja Negeri Kaitetu, M. Armin Lumaela (Upu), memegang kuncup awal Masjid Wapauwe, Selasa (2/12/2025) (Foto: rri.co.id/Rachmad Zein)Sejak itu, masjid dikenal sebagai Masjid Wapauwe, nama yang melekat sebagai simbol kedekatan masyarakat dengan tradisi leluhur. "Ini kuncup awal masjid tua,” kata Upu, sambil menunjukkan bagian puncak bangunan.
Bagi orang Maluku, kubah dulu tak berbentuk bulat. Yang ada hanyalah 'tiang alif', tegak lurus menghadap langit, melambangkan kesederhanaan dan ketauhidan.
Bahan utamanya adalah kayu kanjoli, kayu pesisir yang unik karena tidak berbubuk meski berusia ratusan tahun. Di bagian atap, daun sagu dan serat pohon aren menyatu dalam konstruksi alami yang diwariskan turun-temurun.
“Atap pemali ini usianya lima puluh tahun. Sakral, tidak semua orang bisa menyaksikan pergantiannya," ucap Upu.
Dijelaskan, pemali mengandung makna larangan adat yang mengikat. Bagian-bagian tertentu tidak boleh diubah sembarangan karena menyangkut kesucian bangunan.
Pelanggaran terhadap pemali bukan hanya soal merusak tatanan. Tetapi, juga menyentuh ranah keyakinan serta membawa konsekuensi adat yang dipercaya turun-temurun.
“Saya bersyukur bisa lihat langsung. Mungkin cucu atau cicit kita nanti baru akan melihat pergantian berikutnya, dua ratus tahun lagi," ucapnya.
Upu bercerita sambil memperhatikan kerah tiang dan balok, dikunci dengan teknik kuno rumah kancing, Selasa (2/12/2025) (Foto: rri.co.id/Rachmad Zein)Konstruksi Tanpa Paku ala Rumah Kancing
Yang membuat masjid ini sulit dibayangkan oleh arsitektur modern adalah seluruh bangunannya tidak menggunakan paku. Tiang dan balok dikunci dengan teknik kuno yang dikenal sebagai rumah kancing, sistem sambungan lidah-kayu dibuat seperti puzzle.
Teknik ini bukan hanya tradisi turun-temurun. Tetapi, juga adaptasi alam.
“Karena kita di jalur gempa, kalau goyang terasa, jika terjadi kerusakan biasanya hanya kecil. Para sesepuh sudah pikirkan jauh sebelum kita lahir," ucap Upu.
Kemudian, empat tiang utama disebut tiang empat. Materialnya kayu nani hitam yang semakin keras saat menua.
“Paku tembok pun mental,” ujar Upu sambil menepuk permukaannya yang halus oleh usia. Nampak, dinding dari pelepah sagu, atap dari daun sagu, dan serat aren sebagai pengikat, semuanya menyatu sebagai bentuk kearifan lokal yang tak lekang.
Upu bercerita sambil memegang beduk tua yang tergantung di dalam Masjid Wapauwe, dibuat tahun 1414 dari kayu lingwa utuh, Selasa (2/12/2025) (Foto: rri.co.id/Rachmad Zein)
Beduk 1414 yang Masih Berdentum
Masuk ke ruang dalam, beduk tua menggantung sebagai penjaga waktu. Usianya sama dengan masjid, dibuat tahun 1414 dari kayu lingwa utuh yang ditatah menjadi tabung besar.
Kulitnya kini sudah berganti beberapa kali, tapi tubuh kayunya tetap orisinal. "Ini masih dipakai lima waktu, Jumat juga begitu. Setelah beduk, baru azan," kata Upu.
Dulu panjangnya mencapai tiga meter sehingga gaungnya sampai ke benteng. Karena terlalu kuat, para leluhur akhirnya memotongnya agar suaranya lebih ramah di perkampungan.
Upu bercerita sambil memegang pintu asli Masjid Wapauwe yang masih tersimpan, Selasa (2/12/2025) (Foto: rri.co.id/Rachmad Zein)Mimbar, Pintu, dan Tongkat Khotbah dari Tanah Arab
Sementara itu, Upu menunjukkan mimbar yang sederhana, mengingatkan pada mimbar di Masjid Nabawi, Arab Saudi. Ada pahatan bertulis “Bismillahirrahmanirrahim”, tidak rumit namun kuat maknanya.
Pintu aslinya juga masih tersimpan. Menampilkan simbol bulus yang lazim dijumpai di Jawa dan turut hadir pada Masjid Demak serta Keraton Surakarta.
Pengaruh jalur rempah dan mobilitas budaya Nusantara terasa jelas. Namun, yang paling mencengangkan adalah dua tongkat khotbah Jumat kuno.
Salah satunya berwarna hitam pekat. “Materialnya tidak ada di Nusantara,” kata Upu, merujuk hasil penelitian LIPI.
Tongkat itu ditengarai berasal dari Hadratul Ma'ud di wilayah Arab. “Ini bukti bahwa penyebar Islam pertama di Maluku datang langsung dari Tanah Arab," ucapnya.
Upu bercerita tentang Al-Qur’an tulisan tangan tahun 1500, sekitar abad ke-16, yang dimiliki Masjid Wapauwe, Selasa (2/12/2025) (Foto: rri.co.id/Rachmad Zein)Al-Qur’an Abad 16, Cengkeh Pelindung Warisan
Di salah satu ruang kecil, tersimpan Al-Qur’an tulisan tangan tahun 1500 sekitar abad 16. Sepuluh lembarnya memiliki hologram kertas berbeda, Belanda, Inggris, Turki menandai kuatnya pengaruh rempah dan perdagangan global masa itu.
Untuk menjaga keutuhan manuskrip tua ini, masyarakat menaburkan cengkeh kering “Aromanya keras, jadi rayap tidak mau masuk,” kata Upu.
Perlindungan sederhana namun efektif. Meski pada akhirnya usia kertas tetap tak bisa dilawan.
Upu duduk bersila sambil berbincang tentang harapannya di dekat mimbar, dengan bendera di sisi kanan dan kiri Masjid Wapauwe, Selasa (2/12/2025) (Foto: rri.co.id/Rachmad Zein)Toleransi dan Warisan Maluku
Di Saparua, Maluku, ada tiga saksi sejarah yang berdampingan, Masjid Wapauwe, Gereja Immanuel, dan Benteng Amsterdam. Tapi di sini, hubungan antarwarga lebih dari sekadar toleransi.
Mereka seperti satu keluarga besar, ikatan yang sudah terjalin sejak abad ke-17. Saat orang-orang Saparua tiba bersama Belanda dan menetap di wilayah ini.
“Banyak yang kawin masuk muslim, kawin masuk jemaat, jadi hubungan itu bukan cuma beda agama. Sudah satu keluarga,” ucap Upu.
Bahkan, sebelum tragedi 1999, pergantian atap masjid atau gereja selalu dilakukan bersama, menegaskan kebersamaan lintas iman. Tradisi saling kunjung saat Natal juga masih hidup.
“Rumah pasti siapkan kue dibawa ke sebelah dan sebaliknya. Itulah hidup orang saudara," ucap Upu.
Kegiatan sederhana ini menunjukkan bahwa persaudaraan di sini bukan sekadar adat. Tetapi gaya hidup sehari-hari.
Masjid Wapauwe juga menarik perhatian wisatawan asing karena arsitekturnya unik. Meski demikian, ada aturan adat yang harus dihormati.
Ruang luar masjid dijadikan area belajar dan pengunjung diberi sarung serta penutup kepala agar tetap sopan. “Masjid ini milik umat, jadi muslim, non-muslim, semua boleh belajar sejarah, asal hormati aturan adat," ujar Upu.
Anak muda juga diberi ruang untuk membuat cenderamata dan menata area luar. “Anak muda kita jangan sampai tidak peduli dengan jati diri sendiri," ujar Upu.
Karena itu, Upu menegaskan, Masjid Wapauwe bukan sekadar bangunan tua. Setiap daun sagu, tiang nani hitam, dan detak beduk tua mengingatkan generasi kini untuk melestarikan warisan itu.
Bangunan ini adalah bukti perjalanan Islam di Maluku. Tetapi, saksi persaudaraan lintas agama, sekaligus simbol harmoni dengan alam yang diajarkan leluhur mengajarkan harmoni dengan alam.
"Setiap daun sagu, setiap tiang nani hitam, dan setiap detak beduk tua memanggil generasi hari ini untuk menjaga warisan itu. Ini bukan hanya milik orang kampung sini, tetapi, milik umat, milik Indonesia," ujar Upu dengan tatapan hangat dan senyuman penuh makna.
Wisatawan dan warga menikmati senja sambil berenang di Pantai Natsepa, Maluku Tengah, Maluku, Rabu (3/12/2025) (Foto: rri.co.id/Rachmad Zein)Melintasi Benteng Amsterdam, Gereja Immanuel, hingga Masjid Wapauwe, perjalanan ini terasa lebih dari sekadar menyibak sejarah. Setiap bangunan menyimpan cerita hidup, meneguhkan warisan leluhur yang terus dijaga.
Harmoni antara warga, budaya, dan alam terasa seperti melodi Michael Jackson, 'Heal the World''(Sembuhkan dunia). "Heal the world / Make it a better place / For you and for me and the entire human race."(Sembuhkan dunia / Jadikan tempat lebih baik / Untukmu, untukku, dan seluruh umat manusia).
Lagu itu mengalun lembut dalam benak kala senja menyapa. Suaranya seirama dengan ombak tenang Pantai Natsepa, kebanggaan Maluku, di mana airnya jernih dan pasirnya putih lembut.
Di sana, alam dan kehidupan warga seolah berpadu dalam satu simfoni damai. Mengingatkan bahwa menjaga warisan dan menghargai sesama adalah bagian dari identitas Indonesia yang tak ternilai.
(Tim liputan: Pusat Pemberitaan Pro3 RRI/rri.co.id/RRI Ambon)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....