Kala Natsepa Bercerita Lewat Kejernihan Airnya

  • 03 Des 2025 18:53 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

PANTAI Natsepa di Desa Suli, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah, Maluku, terasa seperti ruang sunyi yang pandai berkisah. Airnya begitu jernih hingga pasir, ikan-ikan kecil, dan karang tersaji seterang akuarium raksasa yang terbuka bagi siapa saja yang singgah.

Di balik kejernihannya, warga percaya Natsepa menyimpan garam alami yang menyehatkan. Sebagian bahkan meyakini percikan airnya mampu menyegarkan wajah, seolah sentuhan lembut krim pencerah mahal yang hadir dari laut.

Momen keceriaan wisatawan di Pantai Natsepa kawasan Desa Suli, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah, Maluku, Rabu (3/12/2025) (Foto: rri.co.id/Busra)

Aci, pelancong asal Jepara, Jawa Tengah, merasakan cerita berbeda ketika tiba di Natsepa. Ia membandingkannya dengan Karimunjawa, gugusan pantai yang selama ini juga dikenal karena panorama lautnya.

Namun, Natsepa memberinya kejutan yang manis. “Ikan di sini lebih banyak dan bagus, mungkin karena jarang ada orang memancing,” ujarnya sambil menikmati semilir angin sore bersama dua rekannya, Uji dan Tiio.

Di Karimunjawa, kata Aoci, aktivitas memancing kian ramai, sehingga populasi ikan tak lagi seperti dulu. Karena itu, Natsepa dirasakan hadir dengan sensasi lain, laut yang tenang, bersih, dan terasa ‘perawan’, seakan belum banyak disentuh tangan dunia.

Meski begitu, ia mengharapkan, area kuliner UMKM di tepi pantai dapat ditata lebih rapi. Ia membayangkan deretan kios suvenir khas Maluku seperti anyaman, ukiran kayu, hingga gantungan kunci bergambar Natsepa bisa menjadi jejak kecil untuk dibawa pulang.

“Kalau ada penjual oleh-oleh khas, kami bisa sekalian belanja sebelum pulang. Semoga lain waktu datang lagi sudah ada," ucapnya.

Rangga, wisatawan asal Jakarta berenang dengan posisi membentang di Pantai Natsepa, Desa Suli, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah, Maluku, Rabu (3/12/2025) (Foto: rri.co.id/Busra)

Menjelang senja, Natsepa berubah menjadi halaman kisah yang lain lagi. Pengunjung dari remaja hingga keluarga menyebar di bibir pantai, menanti cahaya merunduk perlahan di balik cakrawala.

Rangga, wisatawan asal Jakarta, mendapat pengalaman yang tak diduga. Ia mengaku, tidak bisa berenang, namun tubuhnya langsung terangkat ketika imembaringkan badan di permukaan air.

“Sepertinya kandungan garamnya lebih tinggi daripada Ancol. Badan langsung mengapung, tapi rasa asinnya segar dan tidak lengket,” ucapnya, sambil tersenyum.

Sejumlah wisatawan berenang di Pantai Natsepa kawasan Desa Suli, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah, Maluku, Rabu (3/12/2025)petang (Foto: rri.co.id/Busra)

Sore itu, warna laut bertemu cahaya senja dan siluet bukit berlapis-lapis, menciptakan panorama yang terasa seperti puisi alam. Deretan pohon kelapa yang bergoyang pelan seakan mengiringi alunan lagu-lagu khas Ambon “Ale Rasa Beta Rasa”, berpadu dengan canda riang pengunjung yang larut dalam senja.

Perpaduan itu menegaskan Natsepa sebagai primadona pantai Ambon. Oase yang berkata lembut di dalam batin, meninggalkan alasan bagi siapa pun untuk kembali.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....