Menyelamatkan Hutan, Rumah bagi Gajah Sumatra
- 01 Des 2025 01:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Bulan Februari 2025, Museum Tsunami di Aceh menyelenggarakan pameran foto tentang Tsunami Aceh. Meski sudah 21 tahun berlalu, peristiwa tsunami Aceh akan selalu lekat dalam ingatan, utamanya bagi masyarakat Aceh.
Namun ada yang menarik dalam pameran foto itu, ada satu ruangan khusus yang berisikan foto-foto gajah Sumatra. Hewan berbadan besar ini ternyata punya andil dalam penanganan pascatsunami.
Pascatsunami, ketika kota Banda Aceh porak poranda oleh tumpukan puing, dan bantuan alat berat belum datang. Gajah-gajah inilah yang dikerahkan untuk mengevakuasi korban dan membersihkan puing-puing yang menutup akses jalan.
Gajah-gajah itu merupakan gajah-gajah yang dilatih di Conservation Respons Unit (CRU) di Aceh Besar. Foto-foto yang dipamerkan bercerita, betapa gajah sudah membantu kehidupan manusia.
Tetapi, di tempat lain, manusia seringkali berkonflik dengan gajah. Dipicu oleh manusia yang merusak 'rumah' tempat gajah hidup, yaitu hutan belantara.
Gajah seringkali muncul ke pemukiman masyarakat, karena hutan tempat mereka tinggal sudah sedemikian rusak oleh aktivitas manusia. Entah itu untuk pertambangan atau penebangan liar, yang membuat gajah kesulitan mencari sumber makanannya.
Ironisnya, gajah-gajah yang hidup di taman nasional pun bisa terancam hidupnya. Seperti yang terjadi di Taman Nasional Tesso Nilo, Pelalawan Riau.
Tagar Save Tesso Nilo
Tagar "Save Tesso Nilo" Kampanye penyelamatan populasi gajah di Taman Nasional Tesso Nilo (Foto: IG Taman Nasional Tesso Nilo)
Beberapa pekan terakhir, lini massa di media sosial ramai dengan tagar 'Save Tesso Nilo'. Tagar ini muncul menyusul konflik antara Taman Nasional Tesson Nilo (TNTN) yang berada di bawah Kementerian Kehutanan dengan warga setempat.
Berawal dari rencana pemerintah untuk memulihkan sekitar 81.739 hektar kawasan hutan TNTN yang dikelola warga. Namun pemanfaatannya tidak sesuai dengan fungsinya karena digunakan untuk perkebunan sawit.
Upaya penertiban yang dilakukan pemerintah dengan melakukan relokasi ditolak warga, hingga terjadi gesekan. Puncaknya, warga yang menolak relokasi melakukan perlawanan sehingga dengan melakukan pembongkaran pos jaga TNTN.
Terlepas dari konflik pengelolaan hutan yang rumit antara TNTN dan warga, TNTN merupakan tempat konservasi yang penting bagi gajah Sumatra. Penertiban kawasan Tesso Nilo, selain untuk memulihkan hutan juga untuk menyelamatkan 'rumah' bagi gajah Sumatra .
Bagi warganet yang mengikuti akun resmi TNTN di instagram, pasti sudah sangat mengenal gajah-gajah yang ada di TNTN. Contohnya Domang, nama anak gajah dengan tingkahnya yang lucu dan menjadi ikon TNTN.
Pawang gajah atau Mahout di TNTN, seringkali mengunggah video berbagai aktivitas perawatan gajah Serta tingkah gajah-gajah TNTN yang kadang mengundang tawa dan decak kagum warganet.
Itulah sebabnya, begitu banyak dukungan masyarakat ketika krisis lahan di TNTN terjadi. Sebagian besar warganet mendukung upaya konservasi hutan yang dilakukan pemerintah demi menjaga kelestarian gajah Sumatra.
Sehingga muncullah gerakan di media sosial, tagar 'Save Tesso Nilo'. Hingga saat ini, kampanye terus berlangsung, Presiden Prabowo Subianto bahkan ikut bersuara.
Menurut Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Kepala Negara telah memberi instruksi tegas pada Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH). "Satgas diminta untuk memulihkan Tesso Nilo sebagai habitat gajah Sumatra," kata Raja Juli Antoni saat berkunjung ke TNTN, Sabtu (29/11/2025).
Menurutnya, proses restorasi TNTN akan dilanjutkan dan pemerintah akan menyelesaikan sengketa dengan warga dengan cara yang adil. "Kita terus bekerja dan memastikan Domang dan kawan-kawannya bisa hidup di alam bebas dan tidak terganggu," ujar Raja Juli lagi.
Populasi Gajah Sumatra Makin Berkurang
Gajah Sumatra adalah salah salah satu satwa langka yang dilindungi. Di Indonesia, perlindungan gajah Sumatra mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6 2018.
Peraturan tersebut berisi tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar yang Dilindungi. Perlindungan dilakukan karena populasi Gajah Sumatra yang semakin berkurang.
Di Taman Nasional Tesso Nilo, jumlah populasi gajah Sumatra hanya tersisa 150 ekor. Menurun dibandingkan tahun 2024 yang jumlahnya masih 200 ekor.
Menurut Kepala Balai TNTN, Heru Sutmantoro, gajah-gajah tersebut hidup berkelompok di dua wilayah. Sebanyak 120 ekor gajah hidup di wilayah Tesso Nilo Tenggara, dan sisanya 30 ekor di Tesso Nilo Utara.
Heru mengatakan, ada sejumlah fakto yang menyebabkan menurunnya populasi gajah Sumatra. Diantaranya, karena perambahan hutan, alih fungsi hutan menjadi perkebunan.
Kawasan hutan bukan sekedar tempat hidup dan sumber makanan bagi gajah. Di Tesso Nilo khususnya, hutan juga menyediakan obat-obatan alami bagi gajah.
Karenanya, perambahan dan alih fungsi hutan harus dihentikan. Selain membuat satwa liar seperti gajah terancam punah, juga berbahaya bagi manusia.
Bahaya itu sudah terlihat sekarang, berupa banjir besar dan longsor yang menimpa Aceh, Sumatra Barat dan Sumatra Utara. Ironisnya, ditemukan seekor gajah yang mati terbawa arus banjir dan longsor.
Profil Gajah Sumatra
Pemandu Museum Tsunami, Aceh menjelaskan tentang gajah-gajah yang dilatih di Conservation Respons Unit (CRU) di Aceh Besar (Foto:Magdalena Krisnawati)
Gajah Sumatra merupakan subspesies gajah Asia yang hidup hanya di Pulau Sumatra. Hasil survei tahun 2000, populasi gajah Sumatra yang ada di alam liar, jumlahnya antara 2.000-2.700 ekor.
Sebanyak 65 persen populasi gajah Sumatra mati akibat ulah manusia, dibunuh bahkan diracuni. Sementara itu, 83 persen habitat gajah Sumatra telah berubah akibat perambahan hutan yang masif untuk dijadikan perkebunan.
Gajah Sumatra menjadi mamalia terbesar, dengan tinggi hingga 3,5 meter dan berat bisa mencapai 6 ton. Gajah adalah hewan pemakan tumbuhan atau Herbivora dan dikenal sebagai hewan yang cerdas.
Gajah bisa menunjukkan beragam perilaku yang menggambarkan emosinya, seperti kesedihan, kasih sayang, kerja sama, ingatan dan komunikasi. Para ilmuwan bahkan menyebut gajah sebagai hewan yang memiliki empati yang tinggi.
Gajah, juga menjadi inspirasi bagi musisi dan penyanyi asal Sumatra Barat, Tulus. Album keduanya bertajuk 'Gajah' membuat nama Tulus makin populer, bahkan meraih nominasi dan penghargaan musik.
Lewat lagu berjudul 'Gajah', Tulus ikut menyuarakan hak-hak gajah Sumatra. Dalam liriknya, Tulus menulis pesan yang dalam "Besar dan berani berperang sendiri, yang aku hindari hanya semut kecil."
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....