Menanam ‘Pohon Harapan’ di Sekolah Rakyat Ancol
- 01 Nov 2025 18:27 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Masih ada ribuan anak di Indonesia yang kehilangan kesempatan bersekolah karena faktor ekonomi. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, sebagian besar anak yang putus sekolah berasal dari keluarga dengan penghasilan rendah.
Setiap tahun, tak sedikit lulusan sekolah dasar yang terhenti langkahnya bukan karena kurang semangat, tetapi karena biaya dan keadaan. Di Jakarta Utara, cerita itu pernah begitu dekat.
Namun di sudut Pademangan, berdiri tempat yang menolak tunduk pada kenyataan itu. Di balik gerbang besi sederhana di ujung Jalan Ancol Barat 1, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara.
Papan bertuliskan Sekolah Rakyat Ancol menempel di sana. Menyambut siapa pun yang melangkah masuk ke halaman teduh di bawah belasan pohon besar.

Ruangan tempat kegiatan belajar dan mengajar di Sekolah Rakyat Ancol (Foto: RRI/Rudi Zein)
Rindangnya pepohonan meneduhkan bangunan-bangunan sederhana di bawahnya. Suasana itu membuat tempat ini terasa seperti oase kecil di tengah riuhnya Jakarta Utara.
Di dalam area sekolah, ruang-ruang belajar dari peti kemas berdiri berdampingan dengan satu dua bangunan permanen. Ada ruang guru, kantin kecil, dan perpustakaan.
Dinding-dinding peti kemas itu penuh mural ceria, hasil karya siswa dan relawan yang ingin memberi warna pada semangat belajar. Tak jauh dari sana, sebuah ruang belajar semi-terbuka menjadi pusat aktivitas.
Suara guru dan tawa siswa berbaur dengan desir angin. Menciptakan suasana belajar yang hidup tanpa sekat.
Sekolah ini juga telah menerapkan kebiasaan tanpa penggunaan bahan plastik sekali pakai. Botol minum, alat makan, hingga wadah jajanan dibawa sendiri oleh para siswa.
Kebijakan kecil yang lahir dari kesadaran besar bahwa belajar mencintai bumi adalah bagian dari adab. Sama pentingnya dengan belajar menghormati guru.
Adab Dulu, Baru Ilmu
Anak-anak berlari kecil di depan ruang-ruang, menenteng buku dan menyalami guru dengan sopan. Senyum mereka memantul di antara bayangan pohon, menghadirkan rasa hangat yang sulit diabaikan.
Di salah satu dinding tertulis kalimat sederhana namun kuat: “Adab dulu, baru ilmu.” Kalimat itu tidak sekadar semboyan, ia benar-benar dihidupi dalam cara para siswa bersikap, menunduk sopan, dan menyapa siapa pun yang datang.
Sekolah Rakyat Ancol lahir pada 2004, dari hati yang peka terhadap ketidakadilan pendidikan. Saat itu, banyak anak di sekitar Pademangan harus mengakhiri sekolah dasar karena tak sanggup membayar biaya lanjutan.
Dari keprihatinan itu, beberapa guru berinisiatif membuka ruang belajar gratis. Setelah itu dapat dukungan dari PT Pembangunan Jaya Ancol melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.

Bambang Sasongko, S.Pd.I, yang kini menjadi Kepala Bidang Kurikulum (Foto: RRI/Rudi Zein)
Salah satu penggagasnya adalah Bambang Sasongko, S.Pd.I, yang kini menjadi Kepala Bidang Kurikulum. Ia menyiapkan waktu siang itu untuk berbincang bersama RRI di halaman sekolah yang rindang.
“Waktu itu sekolah negeri pun masih berbayar. Banyak anak berhenti sekolah dan bekerja,” ujarnya, mengenang. “Dari situ kami bersepakat membuat tempat belajar gratis yang benar-benar terbuka untuk semua.”
Kini, 21 tahun kemudian tempat sederhana itu tumbuh menjadi sekolah yang diakui secara formal. SRA berafiliasi dengan SMP Negeri 95 Jakarta Utara melalui program SMP Terbuka Tanjung Priok 1.
Kurikulumnya mengadopsi sistem SMP Negeri 95, tetapi dikolaborasikan dengan mata pelajaran tambahan. Contohnya hapalan Al-Qur’an, fikih dasar, dan mahfuzhat.
“Kami tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga adab,” kata Bambang. “Karena kecerdasan tanpa adab itu seperti cahaya tanpa arah.”
Sehari-hari Penuh Keteladanan
Menjelang siang, udara mulai hangat dan suara belajar dari ruang semi-terbuka terdengar bersahut-sahutan. Di antara para siswa yang beraktivitas, Muhammad Riyanul Azka Al-Gifari, pelajar kelas 9, sengaja meluangkan waktu untuk bercengkerama bersama RRI.
Ia masih mengenakan seragam putih biru. Tetap dengan senyum yang ramah dan nada bicara yang tenang.
Riyan aktif di Pramuka, bahkan dipercaya sebagai Pratama Penggalang, sebuah tanggung jawab yang membuatnya kerap pulang telat untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
“Capek sih,” ujarnya sambil tersenyum, “tapi seru, soalnya di Pramuka aku belajar tanggung jawab.” Ia kemudian bercerita tentang cita-citanya menjadi seorang hakim, profesi yang menurutnya bisa menegakkan keadilan dengan hati yang jernih.
“Guru-guru di sini kaya orang tua sendiri,” ia menambahkan. “Kami diajari adab dulu, baru ilmu.”

Muhammad Riyanul Azka Al-Gifari, pelajar kelas 9 Sekolah Rakyat Ancol (Foto: RRI/Rudi Zein)
Kata-kata itu terasa sederhana, tetapi mengandung kedalaman. Di sekolah ini, adab memang menjadi pelajaran pertama, bukan lewat teori, melainkan keteladanan yang hidup dari hari ke hari.
Sebelum meninggalkan sekolah siang itu, Anwar Dwi Satria, siswa kelas 8 yang aktif di paskibra sempat pula berbincang. Kesantunannya terlihat ketika diajak berbincang, matanya sesekali menunduk sopan saat menjawab pertanyaan.
Ia menceritakan pengalamannya menjadi Komandan Pasukan Bendera pada peringatan HUT ke-80 RI di kawasan Ancol. Bersama teman-temannya dari Sekolah Rakyat Ancol yang dipercaya sebagai pasukan pengibar bendera.
“Pendidikan itu penting, karena kita bisa punya masa depan,” katanya pelan namun pasti. Baginya, menjadi bagian dari paskibra bukan sekadar kehormatan, melainkan latihan kepercayaan diri dan rasa tanggung jawab.
Ia bercita-cita menjadi konten kreator, sebuah impian yang tumbuh dari keyakinan bahwa belajar bisa datang dari mana saja. Dari buku, lapangan, atau keberanian berdiri di depan banyak orang.
‘Skema’ Menjadi Jembatan
Langit siang terasa semakin terang saat anak-anak mulai berkemas. Di antara tawa mereka, terselip ketenangan yang langka. Sebuah kebahagiaan yang sederhana, tapi penuh makna.
Namun kisah tentang semangat belajar di SRA tidak berhenti di sini. Sekolah ini memiliki komunitas Skema (Silaturahmi Keluarga Alumni Sekolah Rakyat Ancol). Wadah yang menjembatani para alumni untuk membimbing adik-adiknya.
Dari komunitas itu lahir program SGS, apa itu? SGS adalah Skema Guides to Scholarship, yang telah membantu belasan alumni melanjutkan kuliah lewat beasiswa.
Salah satu penggeraknya adalah Anisa Khumaeroh, alumni angkatan 2007–2010 yang kini menjadi guru Bahasa Inggris di sekolah ini. Di sela pekerjaannya di perusahaan konsultan hak kekayaan intelektual, dia masih setia mengajar di tempat yang dulu memberinya arah hidup.
“Dulu saya tidak tahu mau ke mana, tetapi di sini saya belajar bahwa pendidikan bisa mengubah nasib. Sekarang saya ingin memberi kesempatan yang sama untuk mereka,” ujarnya, lembut.
Anisa dan para alumni kerap mengadakan pelatihan membuat CV, bimbingan wawancara, hingga sesi berbagi semangat. “Tantangan terbesar itu meyakinkan anak dan orang tua, bahwa menunda kesenangan bukan kehilangan tetapi jalan untuk naik kelas dalam hidup,” katanya.

Warlan Suminta, orang tua siswa di Sekolah Rakyat Ancol (Foto: RRI/Rudi Zein)
Siang itu, Warlan Suminta, ayah Riyan, yang juga berbincang bersama kami di halaman sekolah. Ia tersenyum ketika bercerita tentang perubahan anaknya sejak bersekolah di sini.
“Sekolah ini gratis, jadi kami sangat terbantu,” ucapnya. “Buat saya yang bikin senang, anak sekarang jadi rajin, pulang sekolah saja masih cerita terus.”
Warlan adalah satu dari banyak orang tua yang kembali memiliki harapan lewat pendidikan. Di luar sana, data menunjukkan masih banyak anak yang tak bersekolah karena ekonomi.
Namun di Sekolah Rakyat Ancol, angka-angka itu berubah menjadi wajah-wajah yang tersenyum. Mereka bukan statistik, tapi kisah nyata tentang kesempatan kedua.
Menanam ‘Pohon Harapan’

Siswa dan siswi Sekolah Rakyat Ancol (Foto: RRI/Rudi Zein)
Siang masih bertengger di tempat kami berada. Bayangan pohon jatuh panjang di halaman sekolah. Anak-anak satu per satu berjalan menuju gerbang, menyalami guru sebelum pulang.
Di udara yang teduh itu, terasa sebuah keyakinan tumbuh. Keyakinan bahwa tempat sederhana ini sedang menyiapkan masa depan, satu pelajaran, satu senyum, satu harapan setiap harinya.
Sekolah Rakyat Ancol mungkin tak punya laboratorium megah, tapi di sinilah harapan itu ditanam dengan tangan yang tulus. Dari kepedulian lahir pendidikan, dari pendidikan tumbuh kepercayaan, dan dari kepercayaan muncul perubahan.
Di bawah teduh belasan pohon besar, anak-anak belajar bukan hanya untuk naik kelas. Lebih dari itu mereka belajar untuk tidak menyerah pada keadaan.
Seperti pohon-pohon yang menaunginya, Sekolah Rakyat Ancol tumbuh dengan akar yang dalam dan cabang yang lapang. Ia berdiri tenang di tengah perubahan, memberikan keteguhan bagi siapa pun yang belajar di bawahnya, bahwa harapan itu seperti daun yang terus tumbuh, tak pernah benar-benar gugur.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....