Karapan Sapi Madura, Arena Gengsi dan Warisan Leluhur

  • 01 Nov 2025 09:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Bangkalan: Di bawah terik matahari Madura, debu bertebaran di lintasan Stadion R.P. Moh Noer, Bangkalan. Sebuah tradisi lama kembali mengukir sejarah panjang pulau garam ini.

Ini bukan sekadar adu cepat antarsapi. Lebih dari itu menjadi panggung harga diri, warisan leluhur, dan gengsi kabupaten-kabupaten di Madura.

Itu adalah gambaran dari pelaksanaan putaran final Karapan Sapi Piala Presiden 2025. Suara saronen memanggil, menandai dimulainya ajang yang ditunggu masyarakat Madura.

Saronen adalah orkes gamelan khas Madura terdiri atas gong, kempul, bonang, kenong, gendang, dan simbal kecil. Saronen biasanya dipakai untuk mengiringi karapan sapi.

“Sangat memuaskan sekali. Bagus, bagus. Apresiasinya dari panitia bagus,” kata Abdul Rojak, penonton yang ditemui RRI di sekitaran tribune stadion.

“Tradisi ini sangat penting. Tidak perlu takut panas. Bahkan Karapan Sapi itu seperti sepak bola,” ujarnya menambahkan.

Jamu dan Mandi Air Hangat

Kecepatan sapi di lintasan tak datang begitu saja. Jauh dari sorak penonton, juara lahir dari perawatan panjang di kandang.

Inilah dedikasi para pelatih yang tak ternilai. Mereka menyatukan tenaga, waktu, dan cinta demi menghasilkan sapi tercepat.

“Rutinitasnya, mandinya minimal dua kali sehari, kadang dengan air hangat,” kata Jarot, pelatih karapan sapi.

“Bahkan bisa ekstra, lebih banyak lagi. Pagi, siang, juga malam,” ujarnya menjelaskan dengan penuh semangat.

“Istilahnya kalau katanya orang menyiksa sapi, sebenarnya kita yang disiksa,” ucap Jarot sambil tertawa kecil.

“Kenapa? Karena ini hobi. Hobi paling mahal dibanding hobi lain,” katanya menegaskan dengan bangga.

“Ramuan jamu itu utamanya kencur, jahe, dan telur. Minimal satu hari satu sapi 75 butir telur mentah,” ujar Jarot.

“Kalau sapi sakit, kita harus peka. Kalau anak saya sakit bisa omong, sapi tidak bisa,” ujarnya.

“Jadi kita ekstra. Selain doa, semua ritual tetap dilakukan demi menjaga stamina sapi,” ujarnya dengan nada serius.

Peserta karapan sapi sedang berlaga di Piala Presiden 2025 untuk menjadi yang terbaik (Foto: Pemprov Jatim)

Sapi Juara

Setiap sapi yang berlaga sudah melewati proses seleksi ketat. Hanya pasangan terbaik dari tiap kabupaten yang tampil di final.

“Ini melalui penyaringan dari tingkat kawedanan, lalu dikirim ke kabupaten,” kata Andrian Lutfi, Ketua Panitia Bakorwil Pamekasan.

“Dari kabupaten diambil enam pemenang: juara, peringkat kedua, ketiga untuk posisi atas dan bawah. Total 24 pasang sapi,” ujarnya.

Adapun hasil akhir dari Karapan Sapi Piala Presiden 2025 adalah sebagai berikut:

Kategori Menang

Juara: Anti Virus I (H. Sugik, Sampang)

Peringkat Kedua: Sonar Muda (H. Faiz, Bangkalan)

Peringkat Ketiga: Sonar Muda (H. Samsudin, Bangkalan)

Kategori Kalah

Juara: King Hajar Bos 88 (Hj. Ova/H. Rozy, Pamekasan)

Peringkat Kedua: Gagak Sakti (H. Tohir, Bangkalan)

Peringkat Ketiga: Ser Naser (H. Rozy, Pamekasan)

Identitas Madura

Karapan Sapi bukan sekadar perlombaan, tapi juga simbol identitas Madura. Ia adalah anugerah budaya yang diakui dunia.

“Tradisi ini satu-satunya di Indonesia dan dunia,” kata Lukman Hakim, Bupati Bangkalan.

“Ini identitas masyarakat Madura. Dalam hal kekompakan dan kebersamaan, tradisi ini menarik bagi wisata,” ujarnya menambahkan.

Nilai ekonomi dari seekor sapi juara juga mencengangkan. Harganya bisa mencapai miliaran rupiah, tergantung prestasinya.

“Dulu belinya sekitar Rp450 juta sepasang. Tapi karena terus juara, bos enggak mau jual,” kata Jarot.

“Meski ditawar Rp900 juta atau Rp1 miliar, tetap tidak dikasih. Ada yang beli Rp900 juta satu ekor,” ujarnya.

Roda Ekonomi Berputar

Di sepanjang stadion, Karapan Sapi juga memutar roda ekonomi rakyat. Pedagang kecil hingga pelaku UMKM ikut merasakan dampaknya.

“Kalau ada Karapan Sapi, alhamdulillah habis,” kata Nashihin, pedagang sate Madura di sekitar arena.

“Kalau dipersentase, omsetnya 30 banding 70 dibanding hari biasa. Harapannya makin banyak acara seperti ini,” ujarnya.

“Potensi ekonomi luar biasa. Dari telur, jamu, hingga UMKM. Menjaga budaya sama dengan menyejahterakan rakyat,” kata Lukman Hakim.

“Bahkan anak sapi yang masih menyusu sudah laku puluhan juta rupiah jika keturunannya bagus,” ujarnya menambahkan.

Bagi masyarakat Madura, Karapan Sapi adalah kebanggaan dan hiburan. Ia menyatukan sportivitas, silaturahmi, dan kebersamaan di tanah leluhur.

“Kalau menonton di YouTube saja enggak cukup. Harus lihat langsung,” ujar Dita dan Fitria, warga Bangkalan yang datang menonton.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....