Menjaga Aroma Buku di Tengah Riuh Blok M

  • 28 Okt 2025 19:33 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

DI tengah riuhnya Blok M yang tak pernah sepi, sebuah toko buku fisik tetap bertahan di lantai bawah pusat perbelanjaan. Meski era digital terus menggoda dengan segala kemudahan, tempat ini masih jadi tujuan bagi pencinta buku sejati.

Sosok di baliknya adalah Mitra Pasaribu, akrab disapa Mitra. Dari hobi membaca, ia menumbuhkan usaha buku fisik yang sudah berjalan dua setengah tahun, menjadi oase bagi mereka yang rindu aroma kertas dan halaman yang bisa disentuh.

“Di Pulau Jawa masih banyak peminatnya. Dari hobi saya, membaca bisa jadi sumber penghasilan,” kata Mitra sambil menata buku di tokonya. Toko yang buka dari pagi hingga malam ini tetap menarik perhatian pengunjung, terutama saat akhir pekan.

Mitra Pasaribu, seorang penjual buku di sebuah toko yang berada di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Sabtu (25/10/2025) (Foto: RRI/Ade Kurnia)

Meski era digital semakin merambah, Mitra juga menyesuaikan diri dengan menjual buku secara daring. Berbagai platform memudahkan para pembeli dari berbagai daerah, mulai dari Sumatera, Kalimantan, hingga Papua, meski sebagian besar tetap dari Pulau Jawa.

Buku-buku yang dijual beragam, mulai dari novel remaja, buku self-improvement, hingga literatur hukum dan sosiologi untuk orang dewasa. “Semua buku masih diminati, tergantung usia pembacanya, ada yang baru, ada juga bekas,” ujarnya.

Di sisi lain, Wiwi, seorang pembaca setia dari Jakarta Timur, kerap mengunjungi toko ini untuk mencari buku edisi terbatas. Ia merasa puas dengan harga yang lebih miring dibandingkan harga asli.

“Saya lebih suka buku fisik karena terasa lebih intim saat membaca,” kata Wiwi. Membaca baginya bukan sekadar hobi, tetapi sarana menambah perspektif kehidupan sehari-hari.

Dua orang pembeli yang sedang berdiskusi dan menanyakan tentang buku-buku kepada penjual di toko buku di kawasan Blok M Square, Sabtu (25/10/2025) (Foto: RRI/Sasa Haniyah)

Buku juga menjadi peneguh arah, memastikan apa yang dilakukan sehari-hari sudah tepat atau memberi pelajaran dari kesalahan yang pernah dilakukan. Bagi Wiwi, pesan untuk generasi muda sangat sederhana: mulailah membaca dari hal yang disukai.

“Belajar tidak harus selalu dari buku, tapi buku bisa jadi pendukung pengalaman hidup,” ujarnya. Dari toko di Blok M ini, terlihat jelas bahwa buku fisik masih mampu menghadirkan pengalaman membaca yang mendalam dan personal.

Tak hanya pembaca dewasa, toko buku ini juga menarik minat generasi muda seperti Vina. Meski sudah beberapa kali berkunjung ke Blok M, Vina baru pertama kali membeli buku di sini.

Dua pasangan yang menjaga toko buku milik mereka dan melayani pelanggan yang hadir di toko mereka di Blok M Square, Sabtu (25/10/2025) (Foto: RRI/Sasa Haniyah)

“Aku beli novel karena sensasi membaca buku fisik berbeda dengan e-book. Selain itu, mengurangi radiasi HP juga,” ujarnya sambil tersenyum. Vina mengaku senang bisa menemukan buku yang dicari, termasuk novel populer ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ karya Brian Khrisna.

Vina mengatakan pelayanannya begitu hangat, dan sang penjaga toko dengan sabar menjelaskan buku-buku non-fiksi yang tersedia. Ia merasa nyaman, membuatnya ingin kembali lagi untuk mencari novel-novel baru yang memikat hati.

Kisahnya menunjukkan bahwa buku fisik tetap punya daya tarik tersendiri bagi siapa pun yang mencintai membaca. Buku fisik juga menjadi teman setia bagi pembaca yang gemar mengoleksi karya favorit mereka.

Di Blok M, toko buku bukan sekadar tempat jual-beli, tapi juga ruang pertemuan antara penjual dan pembaca yang sama-sama mencintai dunia literasi. Buku fisik tetap hidup dan menyimpan pesona yang tidak bisa digantikan layar digital.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....