Perjalanan Viral Singkat ke Sekolah yang Mengubah Hidup
- 23 Okt 2025 16:39 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Makassar: Viral seringkali berhenti sebagai tontonan. Nama Naila (12) sempat memenuhi linimasa, tapi gemuruhnya cepat reda seperti komentar yang hilang ditelan unggahan baru.
Namun baginya, sorotan singkat tersebut menjadi lebih dari sekadar trending. Ia menjadi pintu yang membawanya kembali ke bangku belajar.
Popularitas yang singkat itu membuka jalur bagi Naila untuk menemukan tempat yang lebih penting. Sekolah Rakyat yang menata masa depannya dan anak-anak lain seperti dirinya.
Di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRPM) 23 Sentra Wirajaya, Naila bukan satu-satunya yang sedang menata ulang masa depannya. Ada anak-anak putus sekolah yang kini terbiasa menjemput pagi.
Ada mereka yang dulu sulit diarahkan, kini belajar disiplin lewat pola asrama. Banyak pula, guru-guru yang memilih membangun harapan di ruang yang tak selalu sempurna.
Bagi Naila, sekolah rakyat bukan hanya tentang pelajaran. “Enak tinggal di sini, seru dan nyaman, banyak teman-teman juga,” katanya.
Popularitasnya yang sempat viral tidak membuatnya lengah. Ia tetap fokus pada disiplin dan cita-cita.
“Sekolah di sini bisa menunjukkan cita-citaku. Dengan belajar, disiplin, dan masuk kelas setiap hari, aku bisa persiapkan diri menjadi guru atau polisi," katanya.

Nurkholifahmi (12), salah seorang siswi penerima manfaat Sekolah Rakyat saat ditemui di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (23/10/2025). (Foto: RRI/Alfreds Tuter)
Di sinilah, kisah Naila bercampur dengan cerita lain yang tak pernah terekam kamera, tapi sama-sama berjuang untuk tidak lagi tertinggal. Salah satunya adalah Nurkholifahmi (12), yang pernah berhenti sekolah dua tahun karena keterbatasan biaya keluarga.
"Kurang biaya. Orang tua, ibu rumah tangga, kalau ayah buruh harian," kata Nurkholifahmi saat ditemui RRI di SRMP 23, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (23/10/2025).
Dua tahun ia menunggu di rumah, tanpa kegiatan sekolah, sambil berharap suatu hari bisa kembali belajar. Kesempatan itu datang ketika ia diterima di SRMP 23.
Kini, kehidupan sehari-hari Nur berubah drastis. Ia menjemput pagi dengan semangat, bangun subuh, sholat, senam pagi, hingga persiapan masuk kelas.
"Senang dan lebih semangat lagi belajarnya karena sempat putus sekolah. Sekarang nilainya bagus, pelajaran favoritku Bahasa Inggris dan Matematika," ujarnya, seraya melempar senyum bahagia.
"Aku juga ikut seni budaya, olahraga, dan bermain badminton. Alhamdulillah kembali merasakan indahnya bersekolah," ucapnya.

Nurkholifahmi (12) (tengah), Naila (12) (paling kanan) dan Ibunda Naila, Nurlia (paling kiri) saat ditemui di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (23/10/2025). (Foto: RRI/Alfreds Tuter)
Kehidupan anak-anak di SRMP 23 tak lepas dari pendampingan wali asrama. Ini tentu menjadi pilar penting dalam menumbuhkan kedisiplinan dan tanggung jawab.
Resky Anggrianti, salah satu wali asrama, menceritakan rutinitas harian anak-anak dari bangun tidur hingga malam. Mereka didampingi salat subuh, senam pagi, hingga persiapan masuk kelas.
Anak-anak diajarkan gotong royong, merapikan kamar, menjaga kebersihan. Bahkan, mereka juga diajarkan untuk dapat membantu dan menolong teman.
“Sistem tiket kamar membantu anak-anak belajar disiplin. Anak yang malas terlihat, sementara yang rajin bisa jadi contoh bagi teman-temannya,” kata Reski, menjelaskan.
Tak hanya soal disiplin, wali asrama juga mendukung kesejahteraan emosional anak. Banyak yang rindu orang tua, ada yang menangis diam-diam di sudut kamar.
“Kami fasilitasi komunikasi dengan keluarga. Adapula refleksi malam untuk berbagi perasaan," ujarnya.
Lambat laun, mereka merasa nyaman, bahkan ada yang bilang ‘Ibu, nggak usah tiap Minggu datang, aku betah di sini’. Ini karena mereka sudah menemukan teman dan rumah kedua,” kata Reski.
Sistem ini membuat anak-anak belajar mengelola rindu, membangun empati, dan menumbuhkan kebiasaan positif dalam interaksi sosial.
"Alhamdulillah anak-anak berkembang di sini. Jadi hal-hal kecil pun itu membuat saya merasa sangat bangga, jadi tidak perlu untuk hal-hal yang besar perkembangan itu," katanya.

Guru BK SRMP 23, Yunike Megawati saat ditemui di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (23/10/2025). (Foto: RRI/Alfreds Tuter)
Guru BK, Yunike Megawati mengatakan, pendekatan personal menjadi kunci keberhasilan. “Awal-awal sulit karena bahasa dan latar belakang anak-anak berbeda-beda," kata Yunike.
Sekarang mereka sudah berani tampil, curhat, dan mulai membangun karakter. Anak-anak datang belajar tanpa fasilitas, tapi mereka mau berjuang untuk berubah,” katanya.
Menurutnya, banyak momen kecil yang mengharukan. Seperti ketika anak-anak mulai berani melipat baju sendiri, menyiapkan tas, atau tampil di depan kelas.
Hal-hal sederhana itu menjadi indikator besar perkembangan karakter mereka. Selain kegiatan harian, SRMP 23 juga menyediakan hari libur yang bermanfaat.
Anak-anak diberi kesempatan untuk melakukan kegiatan rumah tangga. Bahkan, refleksi kelompok, hingga belajar mandiri.
“Kami mengajak mereka menata kamar, menjaga kebersihan diri, dan melakukan kegiatan yang menumbuhkan kedisiplinan. Dengan begitu, mereka belajar tanggung jawab tanpa merasa terpaksa,” ucap Reski.
Kegiatan-kegiatan ini membangun keseimbangan antara belajar akademik, keterampilan hidup, dan pengembangan karakter. "Kami ajarkan cara melipat baju, terus kemarin saya lihat, saya cek kemarinnya sudah tertata rapi," ucapnya.

Para siswa dan siswi tengah mengikuti olahraga futsal di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (23/10/2025). (Foto: RRI/Alfreds Tuter)
Sekolah ini sendiri saat ini memiliki 137 siswa dengan 14 guru. Fasilitas yang tersedia meliputi ruang belajar, laboratorium IPA, perpustakaan, asrama, dan lapangan olahraga.
Meski fasilitas belum sempurna, sekolah tetap menjaga agar anak-anak diterima dengan nyaman. Namun, tetap disiplin yang ditekankan.
PLH Kepala Sekolah, Ashari Kaisnarani mengatakan, sistem reward digunakan untuk memicu semangat belajar. Bahkan, outing ke tempat bersejarah agar belajar lebih menyenangkan.
Adapun tantangan terbesar, menurutnya adalah memberi pemahaman tentang masa pubertas anak-anak. Jika tidak difilter, mereka bisa tergiring ke arus negatif.
"Di sini, kami menanamkan pendidikan Qur’ani dan nilai moral. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar,” katanya.
Cerita Naila, Nur, dan anak-anak lainnya menunjukkan bahwa Sekolah Rakyat Menengah Pertama 23 bukan sekadar tempat belajar. Tapi rumah kedua yang menata masa depan, membangun disiplin, dan menyalakan semangat untuk mengejar cita-cita.

Para siswa SRMP 23 yang tampak riang gembira saat mengikuti sesi makan siang bersama di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (23/10/2025). (Foto: RRI/Alfreds Tuter)
Anak-anak belajar percaya diri, peduli pada teman, dan memahami tanggung jawab. Mereka menatap masa depan dengan optimisme, di tengah keterbatasan yang dulu sempat menghentikan langkah mereka.
Sekolah ini membuktikan bahwa setiap anak yang viral atau tidak memiliki hak dan kesempatan untuk tumbuh, berkembang, dan tidak lagi tertinggal. "Harapan kami tentu anak-anak bisa bersekolah dengan nyaman dan tenang. Tentu anak-anak bisa menggapai mimpi-mimpi mereka," katanya, mengkahiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....