Menanam Harapan di Tanah Perempuan Waru

  • 17 Okt 2025 23:23 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

DI antara hamparan sawah yang menghijau dan semilir udara pegunungan yang membelai lembut, tumbuh semangat yang tak kalah subur. Semangat perempuan-perempuan Desa Waru, Parung, Bogor.

Mereka menamai dirinya Kelompok Wanita Tani (KWT) 21, lahir dari benih niat yang sederhana. Menanam harapan, merawat masa depan.

Siti Hapsah, sang ketua, mengenang dengan hangat awal mula kisah ini. Semua bermula dari hal kecil yang menyentuh hati.

Foto-foto tanaman milik Ibu RT Eti Rosmiati yang kerap melintas di linimasa media sosial. Dari sanalah ilham bersemi, menjalar perlahan menjadi gerakan yang kini menumbuhkan banyak hal, bukan hanya sayur dan bunga, tapi juga kebersamaan.

“Setiap lihat postingan tanaman itu, saya jadi ingin bikin kegiatan yang sama di desa,” ia mengenang sambil tersenyum. Dorongan kecil itu tumbuh menjadi gerakan nyata. Ia mulai mengajak ibu-ibu sekitar memanfaatkan lahan kosong untuk menanam sayuran.

Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Waru sedang melakukan pemeliharaan dan bersih-bersih di sekitar kebun bayam brazil (Foto: Dokumentasi KWT Desa Waru)

Seiring waktu, kegiatan kecil di halaman rumah berubah menjadi wadah produktif bagi banyak perempuan. Dukungan pemerintah desa memperkuat langkah mereka untuk menjaga ketahanan pangan keluarga.

Kini, setiap jengkal tanah di Desa Waru bukan sekadar tempat berpijak. Ia menjadi simbol kebersamaan dan kemandirian perempuan desa.

Tantangan dan Dukungan dari Lingkungan

Siti Hapsah mengakui perjalanan KWT 21 tidak selalu mulus. “Kadang ada perbedaan pendapat, tapi semua bisa diselesaikan dengan musyawarah,” ujarnya.

Bagi mereka, kerja sama adalah kunci. Semangat gotong royong menjadi napas yang menghidupkan setiap kegiatan KWT di tengah kesibukan rumah tangga.

Lingkungan sekitar juga memberi dorongan positif. Warga mendukung karena melihat manfaat nyata, terutama saat hasil panen dibagikan untuk kebutuhan bersama.

Para anggota KWT Desa Waru sedang menyiram tanaman di area kebun tanaman pakcoy di KWT Desa Waru, Kecamatan Parung, Bogor, Jumat (17/10/2025) (Foto: RRI/Afriani Respati)

“Pak Kepala Desa sering datang melihat kegiatan kami. Beliau bangga dengan apa yang kami lakukan,” kata Siti.

Kehadiran pemerintah desa membuat KWT tak lagi berjalan sendiri. Mereka kini menjadi bagian dari program desa yang mendukung kemandirian pangan.

Di balik itu, masih ada tantangan yang harus dijawab. Mulai dari keterbatasan alat, dana, hingga regenerasi anggota muda yang belum maksimal.

Namun, bagi mereka, semangat tidak pernah padam. Setiap benih yang tumbuh adalah bukti bahwa usaha tak pernah sia-sia.

Pengurus Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Waru saat melakukan kunjungan rutin ke KWT Desa Waru satu bulan sekali (Foto: PKK Desa Waru/Siti Aisah)

Perempuan dan Makna Bertani

Bagi Siti Hapsah, bertani bukan sekadar menanam dan memanen. Ia menyebutnya sebagai cara perempuan ikut menjaga dapur tetap berasap.

“Dengan menanam, kami bisa mengurangi pengeluaran dapur,” ujarnya mantap. Hasil panen sayur seperti kangkung, cabai, dan tomat kerap membantu kebutuhan rumah tangga.

Namun kegiatan KWT 21 tak berhenti di sana. Mereka juga memiliki peternakan ayam kecil-kecilan dan tambak lele sederhana yang dikelola bersama. Dari hasil ternak itu, mereka belajar tentang kemandirian pangan dan pengelolaan ekonomi keluarga.

Selain bertani dan beternak, KWT Desa Waru juga kreatif mengelola limbah plastik. Sampah rumah tangga didaur ulang menjadi vas bunga, tas, karpet plastik, hingga busana kreatif yang sering diikutkan lomba tingkat kecamatan.

Ketua KWT Desa Waru, Siti Hapsah sedang menjahit limbah plastik menjadi karya busana wanita di area sekitar perkebunan KWT Desa Waru, Kecamatan Parung, Bogor, Jumat (17/10/2025) (Foto: RRI/Afriani Respati)

Karya tangan itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi para ibu. “Kalau hasil karya kami dipamerkan, rasanya senang sekali. Jadi termotivasi,” kata Siti dengan mata berbinar.

Kegiatan itu membuat perempuan Desa Waru tak hanya produktif, tapi juga berdaya secara ekonomi dan sosial. Di tangan mereka, limbah pun berubah menjadi sumber manfaat dan kebanggaan.

Regenerasi Hijau: Anak Muda Menyapa Tanah

Perempuan muda seperti Dea Apriliani menjadi wajah baru dari semangat hijau Desa Waru. Ia bergabung karena rasa ingin tahu yang tumbuh menjadi kecintaan.

“Awalnya cuma lihat ibu-ibu menanam, lama-lama ikut bantu. Sekarang malah ketagihan,” katanya sambil tersenyum. Dea belajar cara menanam, menyiram, hingga membuat pupuk organik dari limbah dapur.

Baginya, bertani adalah bentuk kepedulian terhadap alam. “Anak muda sekarang bisa mulai dari hal kecil. Tanam di rumah pun bisa,” ujarnya. Ia berharap kegiatan KWT bisa dikemas lebih menarik agar lebih banyak remaja yang ikut serta.

Anggota KWT Desa Waru, Dea Apriliani (pertama dari kiri) melakukan perawatan pada tanaman kangkung di area perkebunan KWT Desa Waru, Kecamatan Parung, Bogor (Foto: (Foto: Dokumentasi Dea Apriliani))Anggota KWT Desa Waru, Dea Apriliani (kanan) berfoto bersama anggota KWT Desa Waru lainnya saat melakukan panen ubi (Foto: Dokumentasi Dea Apriliani)

Melalui keterlibatannya, Dea merasa menemukan nilai baru tentang hidup dan kebersamaan. “Di sini saya belajar sabar, kerja sama, dan menghargai proses,” katanya lirih.

Generasi muda seperti Dea menjadi bukti bahwa semangat bertani tidak lekang oleh waktu. Tanah yang dulu dikelola ibu-ibu kini juga disentuh tangan muda yang ingin melanjutkan warisan hijau.

KWT dan Ketahanan Pangan Desa

Peran KWT tak berhenti di ladang kecil di belakang rumah. Mereka menjadi ujung tombak ketahanan pangan di Desa Waru.

Elsa Safitri, Ketua PKK Desa Waru, menilai kehadiran KWT sangat membantu program desa. “Kami dari PKK selalu mendukung kegiatan mereka,” ujarnya.

PKK dan pemerintah desa rutin memberi pelatihan serta akses pasar untuk hasil pertanian warga. “Dari kegiatan KWT, kesejahteraan keluarga meningkat. Hasil panen bisa dijual dan membantu ekonomi,” lanjut Elsa.

Ketua PKK Desa Waru, Elsa Safitri (tengah) saat melakukan kunjungan ke tambah ikan lele sederhana di area KWT Desa Waru, Kecamatan Parung, Bogor (Foto: KWT Desa Waru)

Ia mengakui, semangat para perempuan ini menjadi contoh bagi kelompok lain di wilayah Bogor.

Selain meningkatkan ekonomi, KWT juga memperkuat rasa percaya diri perempuan desa. “Perempuan punya peran besar dalam ketahanan pangan dan pembangunan desa,” tegas Elsa.

Dengan dukungan berlapis dari pemerintah dan masyarakat, KWT kini bukan hanya kelompok tani. Mereka adalah simbol perubahan sosial di akar rumput.

Momen saat KWT Desa Waru berfoto dengan Kepala Desa Waru, Muchidin (tengah belakang) saat menjadi pemenang dalam lomba pengelolaan limbah plastik dengan mengubah limbah plastik menjadi karya busana wanita di Bogor, Sabtu (1/3/2025) (Foto: Desa Waru)

Sinergi PKK dan KWT: Menanam Kemandirian

Anggota Pokja III PKK Desa Waru, Siti Aisah, menjelaskan hubungan erat antara PKK dan KWT. “Kami bekerja sama di banyak kegiatan, terutama soal kebun PKK dan pengolahan hasil pangan,” ujarnya.

Menurutnya, PKK membantu memperluas dampak KWT lewat pendampingan dan pelatihan keterampilan rumah tangga. Dari membuat pupuk, kerajinan tangan, hingga pengolahan hasil pertanian, semua dikelola bersama.

Momen pengurus KWT Desa Waru bersama pengurus PKK Desa Waru saat menghadiri perlombaan pengolahan limbah di Bogor, Sabtu (1/3/2025) (Foto: Desa Waru)

Ia menambahkan, kegiatan daur ulang menjadi perhatian khusus di Pokja III. “Limbah plastik kami olah jadi barang berguna. Ada tas, vas bunga, bahkan pakaian dari plastik,” ujarnya bangga.

Barang-barang hasil kreativitas itu sering diikutkan lomba tingkat kecamatan hingga kabupaten. “Kalau menang, kami makin semangat. Jadi bukti perempuan desa juga bisa berprestasi,” ia melanjutkan.

Namun, Aisah mengakui masih ada tantangan terutama soal dana dan partisipasi aktif warga. “Kadang ada yang belum sadar manfaatnya. Mereka pikir tidak menghasilkan uang,” ia menjelaskan. Padahal, menurut Aisah, ilmu yang didapat jauh lebih bernilai dari sekadar hasil jual.

Ia berharap, ke depan pemerintah desa memberi perhatian lebih besar. “Kalau bisa ada insentif seperti kader PKK. Biar semangatnya tetap terjaga,” katanya.

Harapan yang Terus Tumbuh di Tanah Waru

Menutup perbincangan, Siti Hapsah menatap hamparan hijau di kebun kecil milik kelompoknya. “Setiap daun yang tumbuh di sini adalah doa,” katanya pelan.

Baginya, KWT bukan hanya wadah menanam sayur, tetapi tempat perempuan saling menguatkan. “Kalau bukan kita yang menjaga tanah ini, siapa lagi?” ujarnya sambil tersenyum.

Anggota KWT Desa Waru sedang mempersiapkan pupuk dan media tanam untuk digunakan menanam tanaman pakcoy di area perkebunan KWT Desa Waru, Kecamatan Parung, Bogor, Jumat (17/10/2025) (Foto: RRI/Afriani Respati)

Dea Apriliani, anggota muda, menambahkan harapan agar kegiatan KWT bisa terus lestari. “Saya ingin generasi muda tidak malu bertani. Ini pekerjaan mulia,” katanya.

Siti Aisah juga menegaskan pentingnya sinergi antarwarga. “Kalau perempuan desa bersatu, banyak hal bisa dilakukan,” tuturnya.

Dari tangan-tangan perempuan Desa Waru, tumbuh lebih dari sekadar tanaman. Tumbuh keyakinan bahwa ketahanan pangan dimulai dari halaman rumah sendiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....