Membekas dari Pesta Kesenian Bali, Ajarkan Makna Menjaga
- 19 Jul 2025 08:04 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jembrana: Cahaya lampu menari di Panggung Terbuka Ardha Candra, Denpasar. Genta Gargita melangkah pasti sebagai Duta Gong Kebyar Jembrana dalam penutupan partisipasi daerah di PKB XLVII.
Mereka datang dari Banjar Anyarsari Kangin, Desa Nusasari, Kecamatan Melaya, Jembrana. Kehadiran mereka menjadi akhir yang kuat dari jejak Jembrana di pentas budaya tahunan Bali.
Tabuh Nem Kreasi bertajuk “Jaladri” membuka malam itu dengan irama laut: hening sekaligus bergemuruh. Komposisinya mengikuti pakem karawitan Bali, namun hadir dengan nuansa eksploratif yang kontemplatif.
Bunyi gamelan menyerupai angin pesisir yang tenang dan membelai lembut kesadaran. Namun, seketika berubah menghentak seperti ombak tak diundang yang merubuhkan kesunyian.
Tabuh ini lahir dari tafsir terhadap laut sebagai ruang luas dan tak terjamah batasnya. Laut digambarkan bukan hanya sebagai elemen alam, tetapi simbol dari kehidupan yang dinamis.
Setelahnya, Tari Kreasi Kekebyaran “Ni Lukat Lakut” hadir menggugah, membawa tubuh jerami menjadi suara alam. Tari ini merepresentasikan filosofi Jagat Kerthi: harmoni antara manusia (buana alit) dan alam (buana agung).
Namun harmoni itu tak lagi utuh saat ladang dibisniskan dan sungai penuh janji kosong. Ni Lukat Lakut berdiri sebagai tubuh jerami yang tak pernah diberi hak untuk hidup.
Ia tak berbicara, tapi tubuhnya membawa beban manusia yang melupakan asal. Ia penjaga simbolis yang dilupakan, disangga oleh tanah yang semakin tak ia miliki.
Dalam tubuhnya, terkandung tanya tentang siapa yang menjaga dan siapa dijaga. Tari ini menjadi peringatan, bahwa harmoni tak datang dari kata, tetapi dari kesadaran dan tanggung jawab.
Suara jegog khas Jembrana mengisi ruang dengan dentum jujur yang mengguncang keheningan batin. Tarian ini tak hanya estetika, tetapi juga kritik terhadap relasi timpang manusia dan bumi.
Sebagai penutup, fragmen Tari “Nusa Sari” mengangkat kisah pemukiman penduduk Nusa Penida ke hutan Jembrana. Sebanyak 121 kepala keluarga dipimpin I Gusti Ketut Tangeb menembus hutan angker yang belum terjamah.
Perjalanan mereka penuh gangguan dari makhluk tak kasat mata dan binatang buas.
Hingga akhirnya sang raja memberi “pakelem” sebagai tumbal agar hutan bisa dibuka.
Setelah ritual itu, barulah perabasan dan pemukiman dapat dilakukan. Warga membangun perahyangan suci untuk memohon perlindungan di tempat yang kini menjadi Desa Nusasari.
Tiga garapan ini membentuk satu napas tentang alam, manusia, dan spiritualitas yang tak bisa dipisahkan. Penonton pun memadati Ardha Candra malam itu, memberi tepuk tangan panjang dan penuh rasa takzim.
Gubernur Bali Wayan Koster hadir bersama Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan dan para pejabat daerah pada, Senin (14/7/2025), malam itu. Bupati Kembang menyebut penampilan ini sebagai jati diri Jembrana yang terus tumbuh dari akar seni tradisi.
“Ini bukan sekadar panggung seni. Ini ruang tafsir budaya, tentang siapa kita, dan apa yang harus kita rawat bersama," ujarnya.
Genta Gargita hadir bukan hanya untuk tampil, tetapi menyampaikan pesan dari generasi yang merawat dan mencipta. Mereka meninggalkan jejak yang tak mudah hilang dari ruang pertunjukan malam itu.
Yang terisa dari PKB malam itu bukan sekadar suara gong atau gerak penari. Tetapi getar yang menetap di dada tentang tanah, tentang tubuh, tentang makna menjaga yang sesungguhnya.
Pesta Kesenian Bali XLVII berlangsung sejak 21 Juni hingga 19 Juli 2025.
Mengusung tema Jagat Kerthi Lokahita Samudaya, PKB tahun ini hadir di 15 panggung di seantero Denpasar.
Agenda mencakup 16 Wimbakara (lomba), 65 pagelaran Rekasadana, parade, sarasehan, pameran, dan tiga lokakarya.
Ardha Candra tetap menjadi jantung pentas, tetapi PKB kini menjelma festival lintas ruang dan lintas suara.
Semua itu menandai satu hal, bahwa kebudayaan Bali tak pernah tinggal diam.
Ia terus bergerak, bertanya, dan kadang menyentuh kita dalam wujud tubuh jerami yang tifak bersuara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....