Makam Bung Karno: Keridaan Ibunda Hantarkan Indonesia Merdeka

  • 31 Mar 2025 22:59 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Blitar: Ziarah ke makam leluhur merupakan tradisi yang umum dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia setelah melaksanakan ibadah solat id. Selain berziarah ke makam keluarga, warga Blitar akan berziarah ke makam Bung Karno, Senin (31/3/2025).

Dahulunya, makam Bung Karno merupakan makam biasa dimana Bung Karno dimakamkan setelah ia wafat. Hingga berjalannya waktu, pada tahun 1970-an di bangun sebuah mausoleum yang kemudian berkembang menjadi situs ziarah politik.

Juru Kunci Makam Bung Karno, Juni Purnomo mengatakan pada menjelang Lebaran, Makam Bung Karno dikunjungi sebanyak 1.500 peziarah setiap harinya. "Hari Lebaran lu jjur kita fmayan banyak yang datang, jika dibandingkan xxdengan bulan puasa, " katanya kepada Tim Ekspedisi Mudik Lebaran 2025, Blitar, Jawa Timur, Senin (31/3/2025).

Juni mengatakan, pengunjung mulai berdatangan sejak pukul 09.00 WIB. Sebelumnya, para pengunjung akan memadati selasar Bung Karno untuk melaporkan dirinya sebagai tamu.

Juni menyampaikan, peziarah makam Bung Karno yang paling banyak yang berasal dari Jawa Barat dan Lampung. Jika dibandingkan dengan wilayah lainnya, Bung Karno justru memiliki banyak penggemar di wilayah tersebut.

"Biasanya rombongan yang paling banyak dikunjungi adalah wilayah Jawa Barat. Mereka biasanya kesini pagi-pagi sekali kesini, " ucapnya.

Meskipun demikian, jumlah pengunjung ke Makam Bung Karno pada musim lebaran menurun, jika dibandingkan dengan awal tahun baru 2025. Jumlah pengunjung pada tahun baru mencapai 2.000 orang perharinya.

"Selain awal tahun, biasanya yang ramai berkunjung pada hari wafatnya Bung Karno. Hari itu banyak sekali yang datang, mulai dari keluarga besar hingga mantan Presiden Indonesia ke-5, Megawati Soekarnoputri, " ujarnya.

Keridhaan Sang Ibu sampai Indonesia Merdeka

Bagi sebagian warga Blitar, Bung Karno merupakan sosok yang dikagumi karena sangat bersahaja. Selain sebagai mantan pemimpin negara pertama Indonesia, ia merupakan sosok pejuang.

Keteladanan Bung Karno pun kerap disandingkan dengan pengorbanannya memerdekakan Indonesia dari genggaman Belanda. Selain itu, dirinya juga tidak terlepas dari sosok figur pencetus konsep pancasila.

Kedekatan Bung Karno tidak terlepas dari sang Ibunda, Ida Ayu Nyoman Rai atau kerap disapa Nyoman Rai Srimben. Ketulusannya merawat sang proklamator, menjadikan Bung Karno tak gentar berhadapan dengan penjajah.

Sebagai bentuk hormat setinggi-tingginya seorang putra kepada ibunya, Bung Karno kerap melakukan sungkem. "Bung Karno suka sungkem ke ibu, dia selalu minta petunjuk, " ucap Juni.

"Pertama-tama ia bersimpuh, lalu mengatupkan kedua tangannya dihadapan ibu, " kata Juni, menjelaskan. Menurut Juni, kesaktian Bung Karno bukanlah pada tongkatnya, namun dari keridhoan sang Ibunda kepada putranya.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan bahwa sebelum Bung Karno dimakamkan. Ida Ayu Nyoman Rai yang merupakan Ibu Kandung Bung Karno telah lebih dulu dimakamkan dikomplek pemakaman tersebut.

"Sebelum Bung Karno dimakamkan disini, ibunya yang terlebih dahulu yang dimakamkan disini," ujarnya, lagi. Makam Bung Karno yang bersebelahan dengan sang Ibunda menjadi penanda kedekatan mereka berdua.

Bukan Bupati tapi Guru

Obrolan Tim Ekspedisi dengan Juru Kunci Makam Bung Karno pun berlanjut. Juni terlihat antusias menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Tim Ekspedisi tentang masa hidup Bung Karno.

Banyak berita yang simpang siur tentang masa hidupnya Bung Karno hingga keluarga kecilnya. Salah satunya pekerjaan Bung Karno yang merupakan seorang Bupati Kediri.

Namun hal itu dibantah oleh Juni, ia mengatakan bahwa pekerjaan Ayahanda Bung Karno adalah guru. "Tidak benar itu, ayahnya Bung Karno pekerjaannya adalah guru, " ujarnya.

Saat itu, Raden Soekemi Sosrodihardjo atau dikenal Soekemi merupakan Ayahanda dari pencetus pancasila, Ir. Soekarno. Soekemi yang saat itu berprofesi sebagai guru di Bali bertemu dengan Nyoman Rai Srimben hingga mereka menjalin hubungan.

Hubungan asmara itu mengantarkan keduanya dalam ikatan janji suci. Yang kemudian melahirkan pejuang, pemimpin, sekaligus sang Proklamator ke dunia.

Juru Kunci Makam Bung Karno, Juni Purnomo saat menjelaskan masa kecil Bung Karno kepada reporter Tim Ekspedisi RRI, Makam Bung Karno, Blitar, Senin (31/3/2025). (Foto: RRI/Annisa Ramadhannia)

Bung Karno dan Pohon Beringin

Sejak wafatnya Bung Karno, saat itu Soerhato-lah yang menggantikan posisi sang Proklamator untuk memimpin Indonesia. Soerharto dikenal sebagai pemimpin yang cerdas dan juga tegas.

Bisa dikatakan, Soeharto merupakan pemimpin ke-2 yang menjabat sebagai Presiden Indonesia terlama. Ia berhasil memimpin Indonesia sejak tahun 1968 hingga 1998.

Masa kemimpinan Soeharto tidak terlepas dari desas-desus hubungan yang kurang baik dengan Bung Karno. Inilah yang menyebabkan masyarakat menghubung-hubungkan tumbangnya pohon beringin di makam Bung Karno dengan lengsernya Soeharto tahun 1998.

"Betul memang ada pohon beringin setengah tumbang di Makam Bung Karno tahun 1998 bertepatan dengan kerusuhan Mei, " katanya. Namun Juni mengatakan bahwa penyebab pohon beringin tumbang bukan dari masalah hubungan antara Soeharto dan Bung Karno.

Juni menjelaskan bahwa tumbangnya pohon tersebut disebabkan karena umur pohon yang sudah sangat tua. Sehingga menyebabkan kekuatan pohon berkurang.

Makam Dibersihkan Setiap Hari

Makam Bung Karno yang berlokasi di jalan Kalasan ini merupakan destinasi situs ziarah favorit warga Blitar. "Dahulunya ini makam pahlawan, cuman diubah menjadi makam Bung Karno, " ujarnya.

Sebelum jam operasional, para pengelola makam akan membersihkan makam terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan agar para pengunjung bisa berziarah dengan nyaman dan aman.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa Makam Bung Karno buka setiap hari pukul 07.00-18.00 WIB, dengan biaya masuk sebesar Rp4000 perorang. Makam ini juga dilengkap dengan tugu peresmian yang ditanda-tangani oleh Soeharto.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....