Grup Band Sukatani, Kritik Sosial yang Terang-terangan

  • 18 Mar 2025 01:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Sejak Iwan Fals menyanyikan lagu Bento dan Bongkar (1989), dunia musik Indonesia terasa sepi dari lagu-lagu dengan tema kritik sosial. Dua lagu itu dianggap mewakili perasaan geram khalayak atas situasi yang ada pada akhir masa Orde Baru itu.

Belakangan ini, ada kelompok musik baru dari kota kecil Purbalingga di Jawa tengah yang bernyanyi dengan lagu-lagu sarat dengan kritik sosial. Kelompok musik ini disebut beraliran punk dengan nama “Sukatani”.

Grup yang terdiri dari dua orang ini telah menyentak jagad musik tanah air. Bukan saja karena irama musiknya yang keras, tetapi syair lagu mereka juga amat menohok.

Adalah lagu yang berjudul Bayar Bayar Bayar yang membuat mereka harus berurusan dengan polisi, karena lagu itu tentang polisi. Namun yang membuat nama mereka naik daun sebenarnya justru ketika mereka membuat pernyataan minta maaf kepada Kapolri atas lagu Bayar Bayar Bayar.

Orang lalu bertanya-tanya, ada apa kok harus minta maaf? Nah ternyata ada dugaan tekanan dan intimidasi kepada personel Sukatani yaitu Alectroguy (Muhammad Syifa Al Lutfi) dan Twister Angel (Novi Citra Indriyati).

Nama Sukatani kemudian melambung bukan hanya di dunia musik namun juga dikancah politik. Dari mahasiswa yang demo di jalanan hingga para petinggi negeri ini dibuat sibuk dengan Sukatani.

Mahasiswa bersukaria dengan lagu-lagu Sukatani ketika unjuk rasa, para petinggi polisi harus klarifikasi. Kapolri Jenderal Sigit Prabowo sempat menegaskan bahwa Polri tidak anti kritik, Polri siap menerima kritik.

Kapolri bahkan mengundang personel Sukatani untuk menjadi duta polisi, namun tawaran yang menarik ini, ditolak. ”Kami menolak dengan tegas tawaran menjadi Duta Kepolisian,” kata Sukatani dalam sebuah postingan di media sosial.

Berbeda dengan lagu Bento dan Bongkar yang sarat dengan symbol dan perlambang, lagu Bayar Bayar Bayar sangat lugas. Lugas kritikanya, lugas siapa yang dikritik.

Ketika Iwan Fals berteriak “Bento!”. Orang bertanya-tanya siapa sebenarnya yang dimaksud dengan Bento? Apakah penguasa? Apakah anak penguasa? Kita tidak bisa menerka siapa Bento.

Bahkan ketika ditanya wartawan musik Soleh Solihun, siapa dan apa yang dimaksud dengan Bento, Iwan menjelaskan bahwa Bento itu adalah nama ayam jago kesayanganya yang pernah ketabrak motor. (Makin kabur, dah…siapa yang dimaksud dengan Bento).

Sementara dalam lagu Bayar Bayar Bayar, Sukatani jelas menyebut polisi, apakah itu oknum atau institusi, obyek yang dikritik jelas yaitu polisi. Apa yang dikritik jugas jelas bahwa banyak hal dilakukan di masyakat harus membayar dulu kepada polisi.

Kritik sosial Sukatani sangat lugas dan sangat mudah dipahami oleh pendengar yaitu yaitu soal polisi dan uang. Inilah yang mungkin menjelaskan mengapa lagu “Bayar Bayar Bayar” cepat terkenal karena mudah dipahami dan mudah ditirukan.

Berikut ini adalah syair lagu Bayar bayar bayar

Bayar Bayar Bayar

Mau bikin SIM, bayar polisi

Ketilang di jalan, bayar polisi

Turing motor gede, bayar polisi

Angkot mau ngetem, bayar polisi

Aduh-aduh ku tak punya uang

untuk bisa bayar polisi

Mau bikin gigs, bayar polisi

Lapor barang hilang, bayar polisi

Masuk ke penjara, bayar polisi

Keluar penjara, bayar polisi

Aduh aduh ku tak punya uang

Untuk bisa bayar polisi

Mau korupsi bayar polisi

Mau gusur rumah bayar polisi

Mau babat hutan polisi

Mau jadi polisi bayar polisi


Aduh aduh ku tak punya uang

untuk bisa bayar polisi

Penampilan Sukatani juga amat menarik, karena tidak biasa. Para penyanyi debutan baru biasanya ingin segera dikenal nama dan wajah mereka.

Namanya ingin banyak disebut di media, wajahnya ingin segera terpampang di media dan di jalan. Tetapi bagi Sukatani, wajah mereka justru dibungkus rapat, seakan mereka malah takut wajahnya dikenali bak agen intelijen.

Banyak yang menyebut tutup kepala mereka seperti Balaclava yaitu topi atau tepatnya topeng penghangat bagi para peman ski di negeri salju. Memang ada berbagai tipe Balaclava, yang dipakai Sukatani adalah tipe tiga lobang untuk dua mata dan mulut.

Tutup kepala Sukatani kadang juga mirip dengan tutup kepala kaum perempuan di Afganistan yaitu Burkha yang diwajibkan oleh Taliban. Bedanya jika Burkha tutup kepala rapat semua hanya diberi semacam kelambu/strimin dibagian mata dan mulut.

Sementata tutup kepala Sukantani diberi lobang menganga dibagian mulut dan mata. Model tutup kepala Suakatani ini juga mirip dengan tutup kepala yang dipakai oleh para teroris atau perampok atau para anggota polisi anti teroris.

Namun Sukatani tentu saja bukan teroris atau perampok. Sukatani juga bukan polisi.

Soal pakaian ini hanya sekadar fashion yang sensasional belaka. Seniman muda memang banyak gaya.

Sukatani juga suka memamerkan bendera khas mereka. Bendera pedang dan tengkorak yang menambah kesan keras.

Di samping bendera pedang dan tengkorak, juga ada logo grup band Sukatani. Yaitu huruf dengan aksara Arab berbunyi Sukatani

Tampilan tulisan Sukatani sebagai logo ditulis dalam huruf Arab yang merupakan rangkaian huruf Shin, Kaf, Tsa’, Nun dan Ya. Huruf Ya di akhir menunjukan bahwa Nun di akhir dibaca sebagai “Ni”.

Selain tema kritik sosial yang sarkastis, Sukatani juga menggubah syair yang merupakan kepedulian pada alam, lingungan, desa dan pertanian. Syair lagu Sukatani yang bernada kerinduan kepada alam, desa dan dunia pertanian juga di sampaikan kadang dengan cara yang sarkastis.

Di media sosial, mereka yang menyambut band asal Purbalingga itu pada umumnya adalah anak muda, terutama para mahasiswa, tidak banyak kaum petani yang merespon.


Syair Sukatani oleh Sukatani.

Grup band Sukatani dalam album Gelap Gempita, pada lagu urutan kedua berjudul sama dengan namanya yaitu Sukatani. Lagu ini kental dengan kepedulian, keprihatinan dan penghormatan pada Petani.

Di awali dengan monolog dari kata-kata yang diungkapkan oleh seseorang yang menunjukkan bahwa yang berbicara adalah seoranag petani, atau paling tidak memerankan sebagai seseorang petani. Sang petani yang lugu, baik hati berceritera tentang aparat yang semena-mena.

Setelah monolog kemudian diikuti syair yang menggunakana bahasa Jawa Ngapak alias dialek Banyumasan yang khas itu. Warna suara monolog itu dibuat sedemikian rupa seperti sebuah ujaran yang mengesanan natural, tidak dibuat-buat:


Sukatani

Monolog Petani:

Tanaman saya di sawah dicabut

Lah saya dibawa ke Koramil, dikerangkeng lagi

Terus sambil orang Koramil itu berkata

“Jangan lagi-lagi menentang Pemerintah”

Saya diem saja, terus pulang

Pulang sampai di rumah, saya perintah orang lagi

Wis tanem lagi, tanem sampai panen

Setelah panen, saya ngundang Koramil tadi

“Pak saya mau syukuran”

Kesini, datang

Ya saya suguhi minum, sandingi ketan

Terus keluar, makan

Makanya nasi, nasinya masih kemepul Rojo Lele

Lawuhe sambel trasi sama bandeng

“Wah, ini makan seperti ini rasanya nikmat banget”

“Ini baunya nasi enak banget”

“Ya ini dulu tanaman yang bapak cabuti”

…(terdengar suara tepuk tangan kecil dan orang tertawa)

(monolog selesai lalu dikuti dengan dentuman drum dan bass yang menggelegar)

Sukatani seneng karo wong tani

Sukatani pengin dadi wong tani

Sukatani tapi raduwe lemah

Sukatani mayuh pada ngegembor

Maturnuwun wong tani

Dewek dadi teyeng mangan

Maturnuwun wong tani

Sing wis ngejaga lingkungan…4x

Terjemahan

Sukatani, suka dengan orang tani

Sukatani, ingin jadi orang tani

Sukatani, tapi tak punya tanah

Sukatani, ayo pada berteriak

Terimakasih orang tani

Kita jadi kenyang makan

Terimakasih orang tani

Yang sudah menjaga lingkungan

Lagu-lagu tentang suasana desa, kaum tani biasanya digambarkan sebagai lingkungan yang asri, aman, tentram dan damai. Jika kita lihat lagu-lagu Koes Plus tentang desa atau tentang tani, misalnya, selalu tergambar alam desa yang damai.

Lagu Pak Tani yang dinyanyikan Murry jelas menggambarkan suasana damai di desa. Begitupula lagu Desaku yang Kucinta Ciptaan L Manik yang sangat terkenal bagi anak sekolah itu, juga menggambarkan suasana desa yang permai, indah.

Bagi Sukatani, ternyata tidak demikian. Dalam pandangan Sukatani, alam desa dan dunia pertanian adalah dunia yang keras, penuh tekanan, alam yang rusak, lingkungan sosial politik yang menekan.

Mungkin zaman memang telah berubah desa tidak lagi ayem tentrem (aman dan damai). Desa tidak lagi gemah ripah loh jinawi (sejahtera adil dan makmur). Desa telah menjadi obyek perebutan tangan-tangan orang-orang kota.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....