"Surga yang Tersisa" Itu Masih Ada

  • 22 Feb 2025 15:16 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Mulyaharja: Karpet hijau bak merayap terkena embusan angin di bawah langit biru itu menjadi pemandangan menyejukkan. Ia mengundang kita berkelana dalam harmoni alam, menghirup kesegaran udara diwarnai aroma unik campuran air dan tanah.

Pemandangan ini akan sulit ditemukan di Kota Bogor, kecuali Anda berkesempatan berkunjung ke Kelurahan Mulyaharja, Bogor Selatan. Betapa tidak, Kota Bogor yang dijuluki Kota Hujan, kini hanya menyisakan sedikit lahan pertanian.

Dan, Agro Eduwisata Organik (Aewo) Mulyaharja menawarkan lebih dari sekadar pemandangan lahan pertanian. Di kejauhan, Gunung Salak berdiri anggun, menyaksikan perjalanan waktu dan pergulatan warga Mulyaharja yang tak lekang ditelan zaman.

Di sejumlah sudut, spot-spot foto berlatar hati diselimuti persawahan, menjadi bingkai kenangan saat jiwa dan alam berkelindan. Huruf-huruf terbuat dari logam tertata megah di tengah sawah bertuliskan "Visit Mulyaharja" dan "Ecobike Agro Eduwisata Organik Mulyaharja".

Hamparan jembatan berbahan papan kayu memudahkan pengunjung menyusuri jalinan-jalinan irigasi yang membentang seperti urat nadi kehidupan. Irigasi-irigasi ini membimbing air untuk menyuburkan setiap batang padi yang disemainya.

Jembatan itu membiarkan kaki-kaki berjalan ringan tanpa merusak tanah yang kaya akan kehidupan. Area persawahan ini dipenuhi padi-padi yang tumbuh sehat tanpa bahan kimia, karena ini semua merupakan sawah organik.

Sawah seluas 10 hektare ini buah dari komitmen warga Mulyaharja, Kota Bogor, terhadap keberlanjutan. Sebuah komitmen yang melewati perjuangan panjang hingga akhirnya menjadi rujukan siswa dan institusi pembelajaran.

Tedy Supriadi, Ketua Agro Edu Wisata Organik (Aewo) Mulyaharja, Kota Bogor, memulai cerita tersebut kepada RRI, Senin (27/1/2025). Ia mengajak kami menyusuri jembatan kayu yang membentang jauh hingga ke ujung pematang sawah lain.

"Sebelum (ada jembatan-red) ini nih, (hanya dipasang-red) paving (block-red) saja," kata Tedy bercerita.

Tedy Supriadi, Ketua Agro Edu Wisata Organik (Aewo) Mulyaharja, Kota Bogor (Foto: RRI/Danang Sundoro)

Ide baru pun berlanjut saat Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bogor menggelar lomba Inovasi Rancang Kampung Tematik. Lomba pada tahun 2015 ini mengajak Tedy dan timnya berpikir keras agar pengunjung dapat merasakan kenyamanan Aewo Mulyaharja.

"Kita mimpilah gimana kalau seandainya ini pake bambu, tadinya mah ya. Alhamdulillah juara satu se-Kota Bogor," kata Tedy dengan logat sundanya yang kental.

"Wah, kita baru rancangan saja udah juara pertama nih. Gimana sekalian kita coba terwujud ini jadi kampung tematik, kampung wisata. Kita makin giat-giat aja," katanya lagi dengan suara bersemangat.

Gayung bersambut. Berbekal dana Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebesar Rp2,8 miliar, mereka mulai mengembangkan area persawahan organik tersebut.

Jembatan kayu tadi hanyalah salah satu dari beragam inovasi yang mengikuti pengembangan area ini. Kawasan persawahan disulap menjadi daerah wisata yang tetap mengedepankan sisi pertanian berkelanjutan.

Namun, ada sesepuh Muhammad Aneng yang berusia 67 tahun di balik inspirasi perubahan positif di Mulyaharja ini. Ketika memutuskan beralih ke pertanian organik pada tahun 2003, keputusan Aneng ini bukan tanpa tantangan.

"Pertama (memulai pertanian-red) organik, tiga musim berturut-turut itu turunnya hampir enam puluh persen lebih. (Hasilnya-red) dua ton setengah atau tiga ton per hektare," kata Aneng saat ditemui di persawahan yang tengah digarapnya.

"Makanya orang-orang pada mundur, Pak. Saya (sendirian-red) yang berjuang terus-terusan, ada enam orang kalau gak salah di organik (waktu-red) itu," kata sosok yang memelopori transisi sawah non-organik menjadi pertanian organik di Mulyaharja, Selasa (28/1/2025).

Petani lainnya merasa pertanian organik tidak cukup menguntungkan, kemudian memilih kembali ke cara lama menggunakan pupuk kimia. Memang, dengan menggunakan cara lama, hasil panen padi dapat mencapai 7-8 ton per hektare.

Hasilnya tentu akan lebih menggiurkan secara finansial dibandingkan produksi beras organik yang turun hingga setengahnya. Namun, Aneng tidak menyerah dan menguatkan tekad.

Alih-alih dikonsumsi sendiri sebagaimana petani lain, Aneng menjual hasil panenannya. Harga beras organik yang lebih kompetitif dibandingkan beras normal, membuat Aneng dapat menarik sedikit napas lega.

Ketua Kelompok Tani Dewasa Lemah Duhur Mulyaharja Muhammad Aneng (kiri) saat diwawancarai Reporter RRI Danang Sundoro (kanan) (Foto: RRI/Danang Sundoro)

Guratan-guratan di wajah Aneng menjadi saksi kegigihan yang mengalir bak air yang memenuhi lahan persawahan hijau itu. Diselingi batuk sesekali karena dalam kondisi yang kurang sehat, tidak menghalangi Aneng menceritakan apa yang diraihnya.

"Itu tanahnya kan lebih bagus, lebih subur, tidak menggunakan pupuk apa-apa. Penghasilan, alhamdulillah, semenjak saya (ikut-red) organik, keluar sertifikasi organik, saya bisa setiap panen nyimpen dua juta ke bank untuk melaksanakan ziarah haji," kata pria yang sudah berpengalaman bertani selama lebih dari 15 tahun ini.

Sementara, hasil produksi panenannya pun berangsur meningkat. Dari berkisar 2-3 ton per hektare, Aneng berhasil memanen padi organik hingga hampir delapan ton pada tahun 2024.

Penghasilan pun bertambah karena beras organik kini dijual Rp20.000 per kilogram, bahkan mencapai Rp125.000 untuk lima kilogram. Sebagai perbandingan, beras konvensional dijual sekitar Rp10.000 hingga Rp12.000 per kilogram.

Penjelasan terkait harga tersebut disampaikan Imam Hanafi, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bogor. Imam merupakan salah satu pihak yang turut berperan dalam membantu warga Mulyaharja mengembangkan pertanian organik.

Ia mendampingi petani-petani Mulyaharja selama 16 tahun, sejak tahun 2008. Menurutnya, tahun 2013 menjadi awal beralihnya warga Mulyaharja ke pertanian organik ini.

"Kami mulai mengonversi dari tanaman konvensional menuju ke pertanian organik (di Mulyaharja-red). Namanya konversi, konversi itu adalah pengalihan dari biasa menggunakan pupuk kimia, dikurangin sampai benar-benar murni menggunakan pupuk organik," kata Imam saat dihubungi RRI, Sabtu (1/2/2025).

"Memang berawal dari niatan kelompok tani tersebut. Mereka itu ingin kembali seperti zaman nenek moyang dulu, tidak banyak menggunakan input dari bahan-bahan kimia, ingin kembali ke alam. Sebetulnya garis besarnya sih, mereka ingin bagaimana melestarikan alam, bagaimana menjaga ekosistem yang ada di depan itu biar terjaga, lestari istilahnya," kata Imam.

Pengunjung Aewo Mulyaharja (Foto: RRI/Danang Sundoro)

Edukasi berkelanjutan mengenai cara-cara ramah lingkungan dalam pertanian organik menjadi fokus Imam selama membantu petani-petani Mulyaharja. Ia mengajarkan bagaimana penggunaan pupuk kandang dan jerami yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Para petani juga diajarkan mulai beralih ke penggunaan pestisida nabati, yang dibuat dari bahan-bahan alami. Ia menegaskan bahwa tanah yang mereka olah lambat laun akan semakin subur dan kaya dengan unsur-unsur organik.

"Alhamdulillah, ada peningkatan. Kalau menanam padi, tidak begitu setiap panen mulus, kadang bagus, kadang tidak. Kemarin (tahun 2024-red), alhamdulillah agak bagus, ada naik produksinya, biasa mencapai enam ton per hektare, kemarin tujuh ton," kata Aneng.

"Kalau di sini pupuknya bikin sendiri. Per hektare (memerlukan-red) kompos enam ton atau tujuh ton," katanya lagi.

Membuat kompos untuk pertanian organik ternyata bukanlah hal sulit, bahkan bisa dilakukan dengan bahan-bahan yang ada di sekitar. Bahan-bahan alami seperti sisa-sisa tanaman dan kotoran ternak bisa diubah menjadi pupuk yang sangat bermanfaat bagi tanah.

"Prosesnya hampir setengah bulan, dua minggulah. Tapi untuk dasarnya, pupuk yang baru dari kandangnya (juga bisa digunakan-red), diambil langsung disebar di lahan," kata Aneng menjelaskan.

Ia juga menjelaskan kompos dengan kotoran ternak yang sudah mengalami fermentasi akan memberikan kesuburan lebih baik. Namun, ada kalanya petani membutuhkan solusi yang lebih cepat dan efisien.

Aneng beruntung karena menerima bantuan subsidi Pupuk Majemuk Phonska Alam dari Pupuk Indonesia pada tahun 2024. Menurutnya, selain mempermudah proses pemupukan, penggunaan Pupuk Majemuk Phonska Alam juga mempercepat perbaikan kualitas tanah.

"Bantuan pupuk (organik-red) dari Pupuk Indonesia tahun kemarin, alhamdulillah, saya dibantu tiga ton untuk enam hektare. Kan kalau pupuk organik, Pak, makin lama (diberikan-red) makin bagus," katanya.

"Tanahnya, memupuknya gak usah banyak. Biasanya enam ton, sekarang tiga ton, empat ton (sudah cukup-red). (Kebutuhan pupuknya menjadi-red) lebih turun lagi," kata Aneng menjelaskan.

Pupuk Majemuk Phonska Alam, yang digunakan Aneng, merupakan pupuk organik yang diproduksi Petrokimia Gresik, anak perusahaan Pupuk Indonesia. VP Komunikasi Pemasaran Pupuk Indonesia Satya Windranuari membenarkan pihaknya memberikan bantuan subsidi kepada petani-petani organik Mulyaharja.

"Phonska Alam ini memang speknya (spesifikasinya-red) itu kayak NPK. NPK itu kan anorganik ya, yang sebenarnya nggak boleh tuh di pertanian organik kan, karena itu adalah pupuk anorganik," kata Satya menjelaskan kepada RRI saat ditemui di kantornya di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Selasa (11/2/2025).

VP Komunikasi Pemasaran Pupuk Indonesia Satya Windranuari (Foto: RRI/Danang Sundoro)

"Tapi dengan spek seperti itu, dia produknya organik, jadi bisa digunakan untuk pertanian organik. Dan itu sudah tersertifikasi Inofice," kata Satya lagi.

Inofice adalah lembaga sertifikasi organik yang telah diverifikasi Otoritas Kompeten Pangan Organik (OKPO) Kementerian Pertanian. Menurut Satya, Phonska Alam mampu memberikan nilai tambah di tengah kesenjangan produktivitas pertanian organik dan pertanian konvensional.

Menurutnya, perbedaan produktivitas antara pertanian organik dengan pertanian yang menggunakan pupuk anorganik bisa mencapai lebih dari dua ton. Untuk mengejar ketertinggalan inilah diperlukan produk yang dapat menyeimbangkan unsur hara NPK.

"Makanya, Petrokimia Gresik itu punya namanya Phonska Alam untuk bisa mengejar produktivitas untuk yang pertanian organik tadi itu," kata Satya lagi.

Tanah yang subur adalah kunci utama dalam pertanian yang berkelanjutan, apalagi pertanian dengan fokus pada organik. Namun, di Indonesia, tantangan terbesar yang dihadapi para petani adalah terjadinya penurunan kadar bahan organik dalam tanah.

Sebanyak 66 persen tanah sawah intensif di Indonesia memiliki kadar C-organik kurang dua persen alias rendah. Hasil penelitian Balai Penelitian Tanah Kementerian Pertanian pada tahun 2019 menunjukkan kadar C-organik rata-rata hanyalah sebesar 1,66 persen.

Hasil penelitian ini diungkap Kepala Balai Pengujian Standar Instrumen Tanah dan Pupuk Ladiyani Retno Widowati. Bersama Destika Cahyana, peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan, Badan Riset, dan Inovasi Nasional, ia menjelaskan perlunya mengembalikan kesuburan.

"Hanya 27 persen sawah intensif di Indonesia yang kadar C-organiknya sedang atau pada kisaran 2-4 persen. Memang ada delapan persen sawah intensif dengan kadar C-organik tinggi di atas empat persen, tetapi mereka di lahan gambut, rawa lebak, dan pasang surut sulfat masam yang sebetulnya tergolong marjinal," kata Ladiyani, seperti dikutip dari Antara, Minggu (11/6/2023).

"Artinya, sebetulnya untuk memenuhi tambahan C-organik 0,34 persen ke dalam tanah dibutuhkan pupuk organik sejumlah 29,56 ton per hektare! Tentu bukan upaya mudah membenamkan 29,56 ton bahan organik ke setiap ha sawah," katanya lagi.

Padahal, kandungan organik yang cukup sangatlah penting untuk mendukung kesehatan tanah. Ini akan meningkatkan kapasitas tanah dalam menyerap unsur hara, dan pada akhirnya memperbaiki hasil pertanian.

Salah seorang petani Mulyaharja tengah menanam padi (Foto: RRI/Nugroho)

Ini menjadi perhatian Pupuk Indonesia untuk membantu memberikan solusi mengembalikan kesuburan lahan-lahan pertanian, di antaranya melalui Phonska Alam. Pupuk Indonesia bahkan kini kembali memperkenalkan Pupuk Petroganik untuk mempercepat pemulihan kesuburan lahan-lahan.

"Kebanyakan petani Indonesia itu kan petani penggarap. Mereka maunya itu hal yang instan. Tanahnya nggak dipikirin, Pak," kata VP Komunikasi Pemasaran Pupuk Indonesia Satya Windranuari di ruang kerjanya di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

"Karena tanah itu kan semakin diolah, digunakan, itu nanti jadi rusak. Itu perlu revitalisasi dengan Petroganik tadi itu. Itu yang jadi prioritas kita juga di 2025 untuk bisa mengenalkan lagi," katanya.

Pupuk Petroganik berbeda dengan pupuk konvensional seperti NPK dan Urea yang lebih berfokus pada suplai nutrisi untuk tanaman. Petroganik tidak hanya memberi makan tanaman, tetapi juga memperbaiki struktur tanah agar lebih gembur dan kaya bahan organik.

"Kalau tanahnya sehat, bahan organiknya tinggi, itu tandanya kayak cacingnya jadi banyak gitu. Mikroorganisme sama penyerapan unsur hara dari pupuk itu bisa lebih maksimal. Makanya, kalau secara konsisten diaplikasikan Petroganik ini, pasti akan ada peningkatan produktivitas," ujarnya lagi.

Namun, petani Indonesia juga menghadapi tantangan lain terkait dengan harga pupuk yang kerap menjadi beban tambahan. Seiring dengan kenaikan biaya produksi, banyak petani bakal kesulitan mendapatkan pupuk dengan harga yang terjangkau.

"Banyak-banyak terima kasih atas bantuannya pupuk Phonska Alam yang dari Petrokimia Gresik yang saya alami. Alhamdulillah ada peningkatan (produksi panen-red), walaupun saya belum bisa membeli untuk seterusnya, dikarenakan harganya (tanpa subsidi-red) terlalu tinggi, Pak," kata Aneng kepada RRI.

"Nggak keuber (terjangkau-red) soalnya. Kalau di sini kan, kalau dibeli, tiga belas (ribu rupiah-red) per kilo itu. Habis itu untuk saya (tidak memperoleh untung-red)," kata Aneng saat berteduh di gubuk kecil di tengah sawah garapannya.

"Makanya saya bikin sendiri kompos aja. Kecuali saya diminta mengisi kuisioner (formulir subsidi-red) dari orang Petrokimia Gresik ke rumah, saya minta harganya lima ribu atau tiga ribu, biar ada subsidi harga."

Salah seorang warga Mulyaharja menunjukkan sejumlah beras organik kemasan hasil produksi pertanian Aewo Mulyaharja, Kota Bogor (Foto: RRI/Nugroho)

Kabar baiknya bagi Aneng, sejak 2024, pupuk jenis Petroganik telah kembali dimasukkan dalam skema subsidi Pemerintah. Ini berarti harganya akan menjadi lebih terjangkau bagi petani-petani organik seperti Aneng.

"Sekalian juga kita memberitahu khalayak, bahwa Petroganik sekarang itu juga sudah masuk ke skema subsidi lagi. Ini kan sebenarnya sudah vakum sekitar dua tahun lalu, terus kemudian masuk lagi di 2024," kata Satya Windranuari.

"Kalau harga HET di tingkat petani itu Rp800 per kilo. Kalau untuk dosisnya, satu kemasan itu 40 kilogram, satu sak itu 40 kilogram," ujar Satya.

Alokasi subsidi pupuk Petroganik ini diperkirakan akan mencapai 500.000 ton pada 2025. Pupuk Petroganik ini juga akan didistribusikan ke berbagai wilayah, terutama di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan.

Pupuk Indonesia juga menggandeng lebih dari 80 mitra lokal di seluruh Indonesia untuk memproduksi Petroganik. Kerja sama ini tidak hanya meningkatkan produksi pupuk organik, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan mendukung ekonomi lokal.

Tidak hanya itu, upaya mendukung kemandirian petani lokal melalui pertanian berkelanjutan tidak hanya dilakukan di Mulyaharja saja. Banyuwangi, Magelang, serta Indramayu menjadi tiga proyek percontohan Pupuk Indonesia lainnya yang berfokus pada pemberdayaan petani.

Di Banyuwangi, Pupuk Indonesia bekerja sama dengan kelompok tani untuk mendukung kemandirian petani buah naga. Sementara, di Indramayu Pupuk Indonesia membantu para petani mangga menjangkau pasar lebih luas.

VP Komunikasi Pemasaran Pupuk Indonesia Satya Windranuari (Foto: RRI/Danang Sundoro)

Kelurahan Mulyaharja sendiri memiliki keunikan yang berangkat dari ketangguhannya mengembangkan pertanian organik yang berkembang menjadi pertanian eduwisata. Satya menjelaskan Mulyaharja dipilih karena potensi besar dalam pertanian organik dan juga dalam mengedukasi masyarakat tentang pertanian berkelanjutan.

"Di situ adalah daerah desa wisata. Dengan kita masuk di situ, paling tidak untuk kepentingan perusahaan juga bisa meningkatkan exposure. Di situ memang seringkali menjadi objek kunjungan dari stakeholder maupun dari petani maupun masyarakat umum, sekolah termasuk juga," kata Satya.

"Kita coba dampingi bagaimana mereka membuat pestisida organik. Kita coba bantu mendaftarkan atau mendaftar ulang untuk sertifikasi organiknya," katanya lagi.

"Untuk branding-nya, beras organik juga kita redesign supaya bagi konsumen itu lebih menarik dari kemasannya. Kita juga ada bantu renovasi kebun percobaannya."

Angin berhembus lembut, menerpa sebagian padi yang siap dipanen di persawahan Aewo Mulyaharja. Semburat awan-awan kelabu memayungi belasan siswi SMK 1 Bogor yang sibuk menata posisi, merapikan pakaian, dan mempersiapkan diri.

Salah satu di antara mereka menggenggam ponsel pintar mengabadikan rekan-rekannya. Bukan sekadar berswafoto sembari menikmati keindahan Aewo Mulyaharja bersama, mereka tengah menciptakan sesuatu.

"Ini lagi bikin tugas praktik Sunda. Kebetulan kan menyanyikan kawi, tapi menyanyikan kawinya kita itu memilihnya membuat video dibanding langsung menyanyikan di kelas. Jadi harus ada MV-nya (video musik-red) juga, view-nya yang diambil persawahan," kata Kayla kepada RRI saat menanti hujan reda di saung Aewo Mulyaharja yang megah di tengah-tengah persawahan, Selasa (28/2/2025).

Saung sekitar 50 meter persegi itu tampak nyaman dengan sebagiannya dapat digunakan untuk lesehan. Sejumlah pengunjung lainnya bahkan terlihat menikmati kebersamaan dengan menyantap nasi liwet dan kuliner khas Sunda di saung ini.

"Kita nanti video sekitar. Kita nyanyi, setelah itu mungkin (mengambil video-red) gerakan-gerakan yang beriringan dengan tema yang kita akan bawain," kata Kayla.

Di salah satu bagian jembatan kayu, berlatar belakang persawahan, belasan remaja belia itu menari saat hujan telah berhenti. Mereka mengayun-ayun lengan dan badan selaras lirik lagu, menangkap setiap detik dalam bingkai yang tak lekang oleh waktu.

Gunung Salak yang tersaput awan kelabu, sekali lagi, menyaksikan kreasi baru tercipta dari keindahan alam Aewo Mulyaharja. Sebagian besar dari mereka bahkan baru pertama kali menjejakkan kakinya di sini.

"Bagus sih, karena di Kota Bogor, di bagian kota, nggak ada yang seperti ini. Jadi pemandangannya benar-benar menjernihkan pikiran juga, sekalian healing," kata Kayla.

"Kalau di sini kan lebih ke suasana alamnya, dapat banget. Kalau Kebun Raya Bogor kan lebih kayak... maksudnya alam dapat, tapi nggak se-asri ini, karena masuknya banyak kendaraan," kata Mentari, teman Kayla, yang turut menimpali.

"Tiketnya affordable, kayak buat kantong pelajar, cuma Rp10.000. Masuk view ke sini bagus," kata Kayla lagi.

Padi tengah tumbuh di area persawahan organik Aewo Mulyaharja dengan sejumlah siswi SMK 1 Bogor (kanan) tengah bersiap mengambil gambar (Foto: RRI/Nugroho)

Hari itu, Aewo Mulyaharja menjadi kanvas bagi banyak kenangan yang berpadu dalam keindahan simfoni alam berkelanjutan. Namun, kenangan-kenangan tersebut tidak hanya dibangun dari pematang-pematang sawah, namun juga dari balik bilik-bilik rumah warga Mulyaharja.

"Yang pernah datangi ke rumah ibu itu dari (SMA-red) PB Sudirman, dari (Sekolah Islam Terpadu-red) Insantama, terus juga dari Pupuk Indonesia," kata Ibu Ani Suryani, warga Mulyaharja dan salah satu pemilik homestay, kepada RRI, Selasa (28/2/2025).

Keberadaan homestay menjadi salah satu daya tarik pengunjung, terutama para pelajar dan mahasiswa yang datang untuk kegiatan edukasi. Rumah-rumah penduduk diubah menjadi homestay yang menyediakan pengalaman langsung kehidupan kampung yang sederhana.

Aktivitas homestay yang berjalan sejak tahun 2016 ini bersinergi dengan kegiatan pembelajaran pertanian organik dan kehidupan masyarakat lokal. Menurut Ibu Ani, kegiatan homestay membawa banyak manfaat tidak hanya untuk warga Mulyaharja, tapi juga tamunya, terutama pelajar.

"Apalagi di kampung (mereka menjadi tahu-red) 'oh hidup di kampung seperti ini, oh kemiskinan ini seperti ini', mungkin akhirnya anak-anak menjadi lebih belajar. Kebanyakannya kan (mereka-red) anak-anak orang rumahan," kata Ibu Ani di rumahnya yang tanpa segan menawarkan camilan tempe goreng tepung hangat dan lontong isi saat sarapan pagi.

"Tapi alhamdulillah waktu itu saya mendapatkan anak-anaknya yang benar-benar apa adanya deh, nurut gitu. Jadi nggak manja," kata Ibu Ani menceritakan kembali pengalaman menjalankan homestay.

"Mungkin dari orang tuanya juga udah ditekankan dari rumah, kamu nanti di sana harus ikutin tuan rumahnya, makanya nggak ngeyel-ngeyel. Kalau dibilang ya seneng, sampai saya nangis waktu ditinggalkan."

Homestay di rumah Ibu Ani dan rumah-rumah lainnya di Mulyaharja memang bukan semata-mata menjadi tempat menginap. Bilik-bilik mereka menjadi ruang bagi para pelajar dan mahasiswa belajar tentang kedisiplinan, kemandirian, dan kehidupan pedesaan.

Ibu Ani Suryani, warga dan pemilik homestay Mulyaharja (Foto: RRI/Danang Sundoro)

Menempati homestay di Kampung Wisata Mulyaharja tak cuma memindahkan tubuh untuk tidur semalam di lokasi lain. Mereka diajarkan bangun pagi, ikut salat Subuh, bahkan mencuci piring setelah makan.

Mereka juga tidak diistimewakan sebagaimana layaknya pelayanan di hotel-hotel berbintang. Makanan yang mereka konsumsi sama dengan apa yang pemilik homestay konsumsi.

Kegiatan homestay tersebut biasanya berlangsung tiga hari dua malam, dengan peserta terlibat dalam berbagai kegiatan edukatif. Mereka diajak menanam padi di sawah, berinteraksi dengan petani lokal, dan berpartisipasi dalam kegiatan bersih kampung.

"Di hari ketiga sebenernya itu yang paling seru. Si pemilik rumah (dan peserta-red) nangis, karena cuma dua malam nginapnya gitu, tapi udah ngerasa seperti anak sendiri," kata Awe, anak Ibu Ani, turut memberikan penjelasan.

Homestay ini dikelola komunitas setempat dengan sistem yang sudah terorganisir. Untuk menginap, pengunjung dikenakan tarif Rp50.000 per malam per orang.

Jika ditambah dengan makan, biayanya menjadi Rp150.000 per orang. Sebagai pemilik homestay, Ibu Ani berharap ada dukungan lebih dari pemerintah, terutama dalam hal promosi dan pemasaran.

Ia berharap lebih banyak kegiatan edukasi di kampungnya dan lebih banyak orang yang tertarik menginap di homestay. Baginya, meskipun keuntungan finansial tidak besar, kebahagiaan dan kepuasan membantu anak-anak belajar dan tumbuh jauh lebih berharga.

Pengalaman yang diperoleh para peserta homestay tersebut tidak terlepas dari nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Mulyaharja yang tertanam kuat. Guyub dan gotong royong menjadi dua pilar utama yang menopang kehidupan sosial di kampung ini.

"Dan yang utamanya itu ya kearifan lokal yang memang bikin situasi ini seperti ini. Kalau ketika kita bicara Kota Bogor secara umum, ke tengah kota, hampir ke utara, dan Tanah Sareal, sudah metropolitan (semua-red) ini. Tapi lamun di dieu (kalau di sini-red), inilah yang menjadi kekuatannya," kata Taufik Hidayat, Sekretaris Kelurahan Mulyaharja, seraya menjelaskan Kelurahan Mulyaharja masih merupakan bagian pengelolaan administratif Kota Bogor, Senin (27/1/2025).

Ia mengungkapkan betapa pentingnya menjaga keberlanjutan budaya dan kekuatan sosial yang ada di kampung ini. Mulyaharja, meski berada di pinggiran kota yang semakin berkembang, terus berusaha menjaga keseimbangan antara kemajuan dan tradisi.

Taufik menggambarkan keberlanjutan di Kelurahan Mulyaharja tidak terlepas dari keberadaan "local hero" yang bekerja tanpa pamrih dan tetap bersemangat. Komitmen keberlanjutan bukan hanya terlihat dalam pengelolaan kawasan wisata, tetapi juga dalam cara mereka menyelamatkan pertanian ramah lingkungan.

Taufik Hidayat (kanan), Sekretaris Kelurahan Mulyaharja, Kota Bogor (Foto: RRI/Danang Sundoro)

"Yang terakhir, nih, ya Pak, sampai (ada penawaran untuk-red) pembebasan ini semua, hampir Rp10 miliar, ini. Kita keluarin (tunjukkan-red), nih, kita ada di sini yang namanya petani berkelanjutan. Saya bilang gitu," kata Ketua Aewo Mulyaharja Tedy.

"Terus ada lagi yang memang petani tok yang memang dia nggak mau dijual, hasilnya dari situ-situ aja. Mereka akan ke mana nanti?" kata Tedy dengan nada tegas saat menceritakan penolakan mereka terhadap penawaran pembangunan tempat wisata dari pihak swasta.

Penolakan terhadap penawaran tersebut tidak lantas menjadi indikator kapabilitas finansial Aewo Mulyaharja mumpuni. Perjalanan hampir bertahun-tahun tanpa dukungan permodalan kuat dapat dilihat dari sejumlah fasilitas yang mulai tergerus waktu.

Bayang-bayang persaingan raksasa industri pariwisata juga menghantui Kampung Wisata Mulyaharja ini. Namun, benih inspirasi kearifan lokal yang disemai mempertegas fondasi kemandirian yang mereka impi-impikan.

"Terakhir juga saya nyamperin Pak Tedy lagi dinas malam tuh, sampai nangis. Pak, ayo dong kita gimana caranya ya biar benar-benar bertahan ini, benar-benar bisa mengembangkan, dan kita harus berjalan," kata Awe yang juga merupakan salah satu staf pengelola Aewo Mulyaharja, Senin (27/1/2025).

"Terakhir saya yang nangis sama Pak Tedy. Soalnya saya nggak mau Kampung Wisata ini, karena banyak saingan dan nggak ada bantuan atau segala macem, kita bubar, atau kita punahlah kasar katanya," kata Awe dengan suara datar, namun terasa sangat mendalam.

Awe (kiri), staf Aewo Mulyaharja, sedang melayani pembelian tiket masuk pengunjung ke Aewo Mulyaharja, Kota Bogor (Foto: RRI/Danang Sundoro)

Data Pemerintah Kota Bogor menunjukkan total lahan pertanian yang dimiliki wilayah ini seluas 127,42 hektare. Lahan pertanian tersebut tersebar di tiga kecamatan saja, yakni kecamatan Bogor Barat, Bogor Selatan dan Bogor Timur.

Khusus lahan pertanian pangan berkelanjutan, luasnya hanya mencapai sekitar 58,66 hektar. Lahan pertanian pangan berkelanjutan ini hanya mencakup 0,4 persen dari luas 11.850 hektare wilayah Kota Bogor.

"Sementara tiga kecamatan lainnya, lahan pertanian sudah habis untuk pembangunan. Jadi lahan di sini harus tetap dijaga dan dilindungi agar tidak ada lagi pengembang yang menggusur lahan pertanian," kata Bima Arya di ujung masa jabatannya sebagai Wali Kota Bogor pada Desember tahun 2023.

"Saya titip betul, siapa pun wali kotanya jangan pernah ini jadi perumahan. Kita jaga, kita kunci supaya tidak saja ini bertahan tapi juga terus berkembang," katanya, merujuk pada lahan pertanian organik di Mulyaharja, Kota Bogor.

"Bukan hanya ada padi, tapi ada warung kopi, UMKM, kegiatan seni, dan berbagai macam kegiatan yang ujungnya membuat warga sejahtera. Apalagi ini modal Kota Bogor untuk memproduksi padi sebagai sumber kebutuhan hidup," kata Bima lagi menegaskan.

Setelah hampir satu dekade, Aewo Mulyaharja masih tegak berdiri, menyisihkan enam desa wisata lain di Kota Bogor. Di sini, warga tak hanya merawat destinasi, tetapi juga merajut asa kebaikan demi berlanjutnya generasi.

"Ini kan ikon Kota Bogor tadinya. Yang ke sini bukan hanya dari Jawa Barat, dari luar negeri juga udah ke sini," kata Tedy menjelaskan.

"Dulu, (Mulyaharja-red) ini andalan Kota Bogor. Saat awal 2021, Pak Bima Arya (datang-red) ke sini (mengatakan-red) ini adalah 'surga yang tersisa'," kata Tedy mengakhiri.

'Surga yang tersisa'. Kata-kata dengan makna sangat mendalam ini mewakili apa yang RRI saksikan di Mulyaharja, Kota Bogor.

Keberadaan pertanian berkelanjutan yang nyaris hilang di wilayah metropolitan ini muncul dari ketangguhan individu-individunya. Keguyuban warga Mulyaharja di tengah-tengah gaya hidup penuh individualitas pun memberikan berjuta harapan akan meluasnya nilai-nilai kegotongroyongan mereka.

Dan bahwa ... 'surga yang tersisa' itu masih ada.

Mentari terbit di lahan persawahan Aero Mulyaharja, Kota Bogor, dengan dua saung di latar belakang (Foto: RRI/Danang Sundoro)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....