Mengenal Gereja Jawa Pertama di Yogyakarta

  • 25 Des 2024 15:11 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta: Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tepatnya di kawasan Bintaran, terdapat Gereja Jawa Pertama di Indonesia yang dibangun Belanda pada tahun 1933. Gereja ini memiliki nama resmi Santo Yusuf Bintaran.

Ada banyak hal yang menarik dari gereja ini, dari sejarahnya, arsitekturnya, hingga tokohnya yang berkaitan dengan kemerdekaan Indonesia. Salah satu jemaat Gereja Santo Yusuf Bintaran yakni Robertus Arsanto mengatakan gereja ini memang sengaja didirikan oleh Belanda untuk masyarakat Katolik Jawa pada masa itu.

"Dulu itu umat Katolik Jawa beribadahnya di Kidul Loji bersama-sama dengan orang Belanda, karena semakin banyak umatnya lalu dibangunkan di sini di Bintaran oleh Belanda," ujarnya kepada RRI pada Jumat (20/12/2024).

Gereja dengan luas 720 meter persegi dan berdiri di lahan seluas 5.024 meter persegi ini kemudian diresmikan pada 8 April 1934. "Jadi kalau dihitung usianya sudah 90 tahun," kata Arsanto menambahkan.

Sebagai bangunan Belanda, gereja ini memiliki sejumlah ciri khas. Seperti atapnya yang berasal dari beton dan berbentuk melengkung. Sehingga banyak yang menyebut gereja ini seperti pedati.

"Makanya itu ada patung Santo Yusuf di depan menggambarkan seolah-olah menarik pedati," ujarnya.

Di bagian dalam gereja terdapat altar, ruang suci, tempat pengakuan dosa, dan ruang partikur. Semuanya menurut Koster Gereja Alexander Sugeng Waseso, masih mempertahankan ornamen lama yang ada sejak jaman Belanda.

"Ini kursinya juga masih dari jaman Belanda, kecuali pintunya itu sudah baru sama kami tambahkan pegangan untuk memudahkan jemaat lansia," kata Alex.

Menariknya menurut Alex terdapat logam kecil di bagian atas kursi untuk menyematkan nama orang yang boleh duduk di kursi tersebut. "Jadi ini untuk menyematkan nama jemaat sebelum mereka beribadah mereka taruh di sini namanya untuk duduk di kursi ini begitu," ujarnya.

Selain kursi yang masih dipertahankan hingga kini, terdapat pula lukisan tentang kisah penyaliban Yesus pada dinding gereja. Lukisan ini disertai dengan tulisan bahasa Jawa sebagai keterangan.

"Lukisan ini sama dengan yang ada di Gereja Katedral di Jakarta, di Indonesia hanya ada dua ini," kata Alex menjelaskan.

Gereja Bintaran menurut Alex juga sering disebut sebagai Gereja Rosario, karena lubang ventilasi di dindingnya yang rosario. "Itu kan lubang ventilasinya berbentuk lingkaran, memutari bangunan gereja ini bentuknya menyerupai rosario, makanya disebut juga Gereja Rosario," ujarnya.

Tidak hanya bangunannya yang bersejarah, Gereja Bintaran juga menyimpan kisah perjuangan Indonesia. Mgr. Soegijapranata yang pernah memimpin gereja ini merupakan salah satu pahlawan nasional Indonesia. Ia banyak membantu perjuangan Indonesia pada masa kemerdekaan.

"Gereja ini pernah juga digunakan untuk tinggal para tentara dulu itu, Romo Soegija ini juga sangat dekat dengan Presiden Soekarno," kata Alex sambil menunjukkan foto pertemuan Mgr. Soegijapranata dengan Presiden Soekarno.

Berbagai foto aktivitas Mgr. Soegijapranata memang terpampang di aula gereja. Juga sejumlah bukti sejarah pembangunan dan aktivitas gereja pada masa lalu. Alex menyebut di usianya yang ke 90 ini jemaat Gereja Bintaran kurang lebih mencapai 4.500 orang.

"Mayoritas lansia kalau di sini, makanya kami tambahkan pegangan di pintu masuk untuk jemaat," katanya.

Ribuan orang tersebut memadati empat misa yang digelar oleh Gereja pada Natal tahun ini. Yakni sebanyak dua kali pada sore dan malam Natal serta dua kali di hari Natalnya.

"Malam Natal itu jam 17.00 dan 20.30 WIB, kemudian di hari Natal itu jam 06.30 dan 08.00 WIB," kata Alex. (Dev)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....