Konstruksi Sosial dan Stigma Warna Si 'Hijau Miskin'
- 20 Des 2024 18:44 WIB
- Palangkaraya
KBRN, Palangka Raya: Pernahkah Anda mendengar istilah "hijau miskin"? Ungkapan ini telah begitu melekat dalam masyarakat kita, terutama dikaitkan dengan warna cat dinding rumah atau bangunan. Namun, dari mana sebenarnya asal-usul stigma ini?
Dikutip dari akun youtubers milik @devincahaya, ia menjelaskan jika cat yang berwarna hijau miskin memiliki color palette atau palet warna. Hal ini membuat warna cat menjadi mencolok dan kurang diminati.
Akibatnya, penjualan cat hijau tersebut dijual per kilogram (kg) dengan harga yang lebih murah. Hingga akhirnya, masyarakat yang kurang mampu dapat membeli cat tersebut dengan jumlah yang sedikit.
"Kebetulan, program-program pemerintah pembangunan desa untuk bantu warga miskin menggunakan warga hijau tadi. Nah muncullah istilah hijau miskin," ujarnya.
Salah satu program yang kerap menggunakan cat warna hijau adalah TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD). Program ini bertujuan untuk membantu pembangunan daerah tertinggal, termasuk perbaikan rumah warga.
Dalam pelaksanaannya, TNI sering memilih warna hijau untuk mengecat rumah-rumah yang diperbaiki, karena identik dengan warna seragam TNI. Dengan menggunakan warna tersebut, diharapkan dapat membangun citra positif TNI di mata masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, kode warna hijau muda seperti #9ACD3 atau #66CDAA sering diasosiasikan dengan stigma "hijau miskin". Padahal, penggunaan warna tidak memilki hubungan dengan kondisi ekonomi seseorang.
Pilihan warna cat lebih lebih dipengaruhi oleh faktor selera, ketersediaan, dan harga. Stigma "hijau miskin" hanyalah sebuah konstruksi sosial yang terbentuk akibat berbagai faktor sejarah dan budaya.
Warna hijau juga memiliki makna filosofis yang sering dikaitkan dengan alam, kesuburan, dan harapan. Penggunaan warna ini juga diharapkan dapat memberikan semangat baru bagi masyarakat di daerah yang dibangun.
Stigma warna "hijau miskin" adalah contoh nyata bagaimana bahasa dan warna dapat membentuk dan memperkuat stereotip sosial. Meskipun demikian, masyarakat perlu menyadari bahwa stigma ini tidak memiliki dasar yang kuat dan tidak boleh digunakan untuk mendiskriminasi kelompok masyarakat tertentu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....