Melirik Makam Tumenggung Endranata, Pembelot Kerajaan Mataram Islam

  • 07 Des 2024 18:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Di sebuah wilayah tepatnya di Pajimatan Imogiri terdapat makan kompleks para raja Mataram Islam. Selain menjadi kompleks makam, tempat ini juga menyimpan sejarah unik yang tidak hanya mencakup kisah raja-raja beserta keturunannya.

Namun tahukah Anda, ada juga cerita kelam seorang pengkhianat bernama Tumenggung Endranata. Sosok ini bernama asli Ngabehi Kertajaya yang dimakamkan tidak hormat seperti keluarga kerajaan lainnya.

Mengutip dari Kementerian Kebudayaan RI, makam tersebut berada di salah satu anak tangga menuju kompleks makam. Lokasi makam yang berbeda, berbentuk tidak rata, menjadi penanda yang menarik pehartiah wisatawan dan peziarah hingga saat ini.


Mengenal Tumenggung Endranata

Bagi Anda yang merasa tidak awam dengan nama tersebut, tidak masalah. Tumenggung Endranata awalnya dikenal sebagai seorang punggawa (perwakilan) Kerajaan Mataram yang berjasa membantu Sultan Agung Hanyokrokusumo

Namun, kesetiaannya hancur setelah ia melakukan pengkhianatan yang berdampak besar pada kekuatan kerajaan. Kisah kelam ini kemudian berakhir dengan hukuman mati yang diberikan langsung oleh Sultan Agung.

Saat itu Sultan Agung menjadi raja ketiga Mataram Islam yang memerintah pada 1613-1645. Menurut cerita lisan dalam Serat Kandha, eksekusi terhadap Tumenggung Endranata dilakukan secara tidak manusiawi.

Tubuhnya dimutilasi menjadi tiga bagian sebagai bentuk penghinaan. Lalu, dibagian kepala dipajang di alun-alun Jayakarta sebagai peringatan bagi Belanda.

Adapun bagian kaki dan tangan dibuang ke laut sebagai simbol pengusiran. Serta badannya dikubur di Imogiri, yang kini diubah menjadi tangga kecil.

Pemakaman di tempat terhormat ini justru dimaksudkan sebagai penghinaan. Yang menegaskan bahwa ia tidak diterima di dunia maupun di akhirat.


Alasan Endranata Memilih Menjadi Pengkhianat

Pengkhianatan Endranata bukan tanpa alasan dijatuhi hukuman berat. Salah satu kesalahan fatalnya adalah ia telah memprovokasi konflik antara Sultan Agung dan Adipati Pragola II.

Provokasi ini memicu perang saudara yang berujung pada kematian Adipati Pragola II pada 4 Oktober 1627. Perang yang kemudian menewaskan lebih dari 350.000 orang dari kedua belah pihak.

Tidak hanya itu, melemahkan Mataram secara signifikan juga menguras sumber daya kerajaan. Ada juga kesalahan besar lainnya adalah dengan membocorkan strategi Sultan Agung dalam penyerangan ke Batavia pada 1628 dan 1629.

Hingga kemudian, rencana matang Sultan Agung untuk menghancurkan VOC dengan mendirikan lumbung-lumbung beras di Karawang dan Cirebob digagalkan. Setelah informasi itu disampaikan Endranata kepada Belanda.

Akibatnya, pasukan Mataram mengalami kekalahan telak. Dan dibuktikan banyak prajurit yang tewas atau tertawan.

Tumenggung Endranata kini dikenang sebagai simbol pengkhianatan yang membawa bencana besar bagi Kerajaan Mataram Islam. Keberadaan makamnya di anak tangga menuju Pajimatan Imogiri seolah menjadi pengingat akan pengkhianatannya.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....