Mengenal Letjen S. Parman, Jenderal Intelijen Menumpas Gerakan Komunis

  • 26 Sep 2024 08:38 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Siapa yang tidak mengenal Jenderal S. Parman? Ia merupakan salah satu pahlawan Revolusi yang gugur saat peristiwa G30S/PKI. Jenderal S. Parman diculik dari rumahnya dan dibunuh oleh pasukan Cakrabirawa yang mendukung Partai Komunis Indonesia (PKI).

Namun faktanya, S. Parman merupakan adik kandung dari salah satu petinggi PKI yaitu Sakirman, anggota politbiro CC PKI. Meskipun demikian, dua bersaudara ini bersebrangan pendapat.

Lalu seperti apakah perjalanan Jenderal S. Parman dalam menjaga ideologi pancasila dari kelompok palu arit merah itu?

•Siapakah Letjen S. Parman?

Memiliki nama lengkap Siswono Parman, ia dilahirkan di Wonosobo, Jawa Tengah pada 4 Agustus 1918. S. Parman merupakan salah satu dari tujuh pahlawan revolusi dan korban kebiadaban PKI.

Mengutip dari Kementeriam Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI), ayahnha bernama Kromodihardjo yang diketahui bekerja sebagai seorang pedagang. S. Parman merupakan anak keenam dari 11 orang bersaudara.

S. Parman mempunyai seorang kakak bernama Sakirman yang menjadi salah satu petinggi partai PKI. Keduanya diketahui saling berbeda pendapat, meskipun demikiam S. Parman membiarkan sang kakak memilih jalannya sendiri.

Sejak kecil, S Parman bersama saudara-saudaranya sering membantu ibunya berjualan dipasar Wonosobo. Ayahnya selalu berusaha keras aga anak-anaknya dapat memperoleh pendidikan yang layak.

•Pernah Mengenyam Pendidikan di HIS hingga STOVIA

S. Parman mengenyam pendidikan di HIS (Hollandsch Inlandsche School) atau Sekolah Dasar Belanda di Wonosobo. Setelah lulus ia kemudian melanjutkan ke MULO (Meer Uitgebried Lager Onderwijs) di Yogyakarta.

Sempat melanjutkan pendidikannya di AMS (Algemeene Middelbare School) namun berhenti 2 tahun karena sang ayah meninggal dunia. Selama tidak bersekolah, S. Parman lebih banyak membantu ibunya berdagang di pasar Wonosobo.

Karena dukungan yang diberikan sang ibunda tidak pernah putus, akhirnya S. Parman melanjutkan pendidikannya di AMS hingga lulus. Setelah lulus, S. Parman memilih masuk Sekolah Tinggi Kedokteran (STOVIA) di Jakarta.

Lagi-lagi kegagalan terjadi, belum sempat selesai menunstaskan pendidikannya, tentara Jepang telah menduduki Indonesia sehingga gelar dokter tidak dapat diraihnya. Selama masa menganggurnya, S. Parman bekerja pada Jawatan Kenpeitai, di sana ia dicurigai Jepang sehingga ditangkap, namun akhirnya dibebaskan.

•Pernah Bekerja Menjadi Jawatan Kempeitai

Sesudah itu, ia malah dikirim ke Jepang untuk mengikuti pendidikan pada Kenpei Kasya Butai. Sekembalinya ke tanah air ia kembali lagi bekerja pada Jawatan Kempeitai. Awal kariernya di militer dimulai dengan mengikuti Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yaitu Tentara RI yang dibentuk setelah proklamasi kemerdekaan.

Pada akhir bulan Desember 1945, ia diangkat menjadi Kepala Staf Markas Besar Polisi Tentara (PT) di Yogyakarta. Selama Agresi Militer II Belanda, ia turut berjuang dengan melakukan perang gerilya.

•Pernah Membongkar Angkatan Peramg Ratu Adil (APRA)

4 tahun kemudian, pada bulan Desember 1949 dia ditugaskan sebagai Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta Raya. Saat itu keberhasilannya membongkar gerakan rahasia Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) dibawah pimpinan Westerling.

Pada Maret tahun 1950, ia diangkat menjadi kepala Staf G. Dan setahun kemudian dikirim ke Amerika Serikat untuk mengikuti pendidikan pada Military Police School. S. Parman dikenal ahli dalam bidang intelijen.

Lima tahun berikutnya yakni pada tahun 1964, ia diserahi tugas sebagai Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) Ahmad Yani. S. Parman saat itu naik pangkat menjadi Mayor Jenderal.

•Menolak Pengusulan Kaum Buruh untuk Dipersenjatai

Dalam perjalanannya, kelompok PKI memiliki kedekatan dengan Presiden Indonesia, Soekarno da sebagian masyarakat pun sudah terpengaruh. Nunggu sebagai perwira intelijen, S. Parman sudah mengetahui kegiatan rahasia PKI.

Maka ketika PKI mengusulkan agar kaum buruh dan tani dipersenjatai atau yang disebut dengan Angkatan Kelima. Ia bersama sebagian besar Perwira Angkatan Darat lainnya menolak usul yang mengandung maksud tersembunyi itu.

S. Parman merupakan perwira intelijen, sehingga banyak tahu tentang kegiatan rahasia PKI. Penolakan yang membuatnya dimusuhi dan menjadi korban pembunuhan PKI.

•Detik-Detik Akhir Hayat Letjen S. Parman

Maka pada pemberontakan PKI atau yang disebut sebagai G30S/PKI, S. Parman menjadi salah satu target yang akan diculik dan dibunuh. Dan pada tanggal 1 Oktober 1965 dinihari, Letjen. TNI Anumerta S. Parman diculik dari rumahnya oleh pasukan Cakrabirawa.

S. Parman gugur sebagai Pahlawan Revolusi untuk mempertahankan Pancasila. Bersama enam perwira lainnya ia dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....