Polinef Perkuat Konservasi lewat Pengembangan Wisata Bahari
- 17 Jun 2026 14:11 WIB
- Fak Fak
RRI.CO.ID, Fakfak - Tim Pelaksana Program Tropical Forest and Coral Reef Conservation Act (TFCCA) terus memperkuat upaya pengembangan ekowisata berkelanjutan di Kawasan Teluk Nusalasi Van Den Bosch, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Melalui pendekatan partisipatif, program tersebut menempatkan masyarakat pesisir sebagai aktor utama dalam pengelolaan potensi wisata berbasis konservasi.
Upaya itu diwujudkan melalui kegiatan sosialisasi dan Focus Group Discussion (FGD) bertema "Model Ekowisata Bahari Berkelanjutan Berbasis Konservasi di Kawasan Pesisir Teluk Nusalasi Van Den Bosch melalui Pemberdayaan Masyarakat Lokal" yang dilaksanakan pada Juni 2026. Kegiatan dipusatkan di dua kampung pesisir, yakni Kampung Maas dan Kampung Tarak, Distrik Karas.
Perwakilan Tim TFCCA, Risma Niswati Tarman, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga kelestarian sumber daya pesisir dan laut sebagai modal utama pengembangan sektor pariwisata. Menurutnya, keberhasilan ekowisata tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga dari keberlanjutan lingkungan dan manfaat ekonomi yang diterima masyarakat.
"Pengembangan ekowisata tidak hanya berorientasi pada peningkatan kunjungan wisatawan, tetapi juga harus memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat setempat. Kami ingin memastikan masyarakat menjadi pelaku utama dalam pengelolaan kawasan wisata," ujar Risma.
Ia menjelaskan, sosialisasi dan FGD melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh adat, pemerintah kampung, pemuda, kelompok perempuan, nelayan, hingga pemangku kepentingan lainnya. Keterlibatan lintas kelompok ini dinilai penting untuk menyusun konsep pengelolaan wisata yang sesuai dengan kondisi sosial, budaya, dan lingkungan masyarakat setempat.
Dalam diskusi, peserta mengidentifikasi sejumlah potensi unggulan yang dapat dikembangkan di Teluk Nusalasi Van Den Bosch, seperti wisata bahari, wisata mangrove, wisata edukasi konservasi, hingga produk ekonomi kreatif berbasis sumber daya lokal. Di sisi lain, mereka juga mengemukakan berbagai tantangan yang masih dihadapi, antara lain keterbatasan infrastruktur pendukung, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, promosi destinasi, serta kebutuhan akan kelembagaan lokal yang kuat dan profesional.
Risma menambahkan, hasil FGD akan menjadi pijakan dalam penyusunan model ekowisata bahari berkelanjutan yang diharapkan dapat diterapkan tidak hanya di Teluk Nusalasi Van Den Bosch, tetapi juga di kawasan pesisir lainnya di Papua Barat. Program TFCCA yang dijalankan Tim Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Fakfak itu diharapkan mampu memperkuat pelestarian ekosistem pesisir sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan wisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....