Tradisi Leluhur Tentukan Awal Puasa Ramadan Kampung Sekru

  • 14 Feb 2026 09:48 WIB
  •  Fak Fak

RRI.CO.ID, Fakfak - Umat Muslim di Kampung Sekru dan Sekru Tuare, Distrik Pariwari, Kabupaten Fakfak, dijadwalkan mulai menjalankan ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah pada Selasa, 17 Februari 2026. Penetapan tersebut dilakukan berdasarkan tradisi leluhur yang telah berlangsung secara turun-temurun dan masih dijaga hingga kini oleh masyarakat setempat.

Imam Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Taib Biarpruga, menjelaskan bahwa penentuan awal Ramadan di wilayah tersebut tidak merujuk pada ketetapan pemerintah maupun organisasi Islam nasional, melainkan berlandaskan tradisi lokal yang telah diwariskan oleh para leluhur. "Sebagaimana setiap tahun, kami menjalankan tradisi leluhur yang berbeda dengan ketetapan Pemerintah maupun Muhammadiyah. Namun, itulah wujud keberagaman dalam Islam,” ujar Taib.

Menurut Taib, penentuan awal Ramadan dilakukan setelah peringatan malam Nisfu Syaban yang diisi dengan kegiatan doa bersama bagi arwah leluhur. Jika sebelumnya tahlilan dilakukan dari rumah ke rumah, tahun ini pelaksanaannya dipusatkan di masjid dan disertai pengamatan tanda-tanda alam sebagai bagian dari tradisi.

“Kegiatan ini bukan sekadar ritual, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan umat,” katanya. Ia menambahkan, perhitungan awal Ramadan juga didasarkan pada hitungan hari puasa tahun sebelumnya.

“Karena Ramadan 2025 dimulai hari Kamis, maka tahun ini dihitung lima hari setelahnya, sehingga jatuh pada Selasa,” jelas Taib. Ia menegaskan bahwa metode ini telah digunakan secara konsisten oleh masyarakat setempat selama bertahun-tahun.

Taib juga mengajak generasi muda Muslim di Kampung Sekru dan Sekru Tuare untuk terus menjaga dan melestarikan tradisi tersebut. “Tradisi ini positif dan sudah diwariskan orangtua kita. Karena itu harus dilanjutkan, agar identitas dan nilai kebersamaan tetap terjaga,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Kampung Sekru, Saban Rumain, menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan tradisi penentuan Ramadan tersebut. Ia menilai tradisi ini tidak hanya bernilai religius, tetapi juga memperkuat toleransi internal umat Islam.

“Imam adalah komando kita. Selama tradisi ini positif, tentu akan kami ikuti,” ujarnya.

Saban juga mengimbau masyarakat agar tidak memperdebatkan perbedaan penetapan awal Ramadan.

“Toleransi bukan hanya antaragama, tetapi juga dalam Islam sendiri. Selama tidak melanggar hal yang haram, perbedaan harus dihargai,” katanya. Pemerintah kampung bersama imam masjid menegaskan bahwa tidak ada paksaan bagi warga Muslim untuk mengikuti tanggal tersebut, dan ibadah puasa tetap diharapkan dijalankan dengan penuh keikhlasan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....