Hewan yang Tidak Berdarah Merah dan Alasannya
- 10 Okt 2025 08:54 WIB
- Fak Fak
KBRN, Fakfak : Darah berwarna merah adalah hal yang umum ditemukan pada sebagian besar makhluk hidup, terutama mamalia, burung, dan ikan. Warna merah tersebut berasal dari hemoglobin, protein yang mengandung zat besi dan berfungsi mengikat oksigen di dalam tubuh. Namun, tahukan anda bahwa tidak semua hewan memiliki darah berwarna merah? Beberapa hewan justru memiliki warna darah yang berbeda mulai dari biru, hijau, hingga bening tergantung pada jenis protein atau zat kimia yang terkandung di dalam darahnya.
Fenomena unik ini menunjukkan betapa beragamnya adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungan mereka. Warna darah yang tidak biasa ini bukan sekadar keanehan biologis, melainkan hasil dari evolusi panjang agar hewan-hewan tersebut dapat bertahan hidup dalam kondisi ekstrem, seperti laut dalam atau daerah kutub yang dingin. Dikutip dari bobo.grid.id, berikut ini beberapa contoh hewan yang tidak berdarah merah dan penjelasan ilmiahnya.
1. Gurita
Gurita memiliki darah berwarna biru karena mengandung hemosianin, protein yang menggunakan tembaga sebagai pengikat oksigen, bukan zat besi seperti pada hemoglobin. Hemosianin lebih efisien dalam mengangkut oksigen di suhu rendah dan lingkungan dengan kadar oksigen rendah, seperti dasar laut. Warna biru muncul ketika hemosianin teroksidasi oleh oksigen. Adaptasi ini membantu gurita bertahan di laut dalam yang dingin dan bertekanan tinggi.
2. Ikan Es
Ikan es yaitu Antarctic icefish adalah satu-satunya vertebrata yang tidak memiliki hemoglobin sama sekali, sehingga darahnya tampak bening. Hewan ini hidup di perairan dingin Antartika yang kaya oksigen. Karena suhu air sangat rendah, oksigen dapat larut lebih banyak di dalam air, sehingga ikan es tidak memerlukan hemoglobin untuk mengangkutnya. Sebagai gantinya, mereka menyerap oksigen langsung melalui kulit dan cairan tubuh mereka.
3. Lintah
Lintah memiliki darah berwarna hijau karena mengandung klorokruorin, pigmen pernapasan yang mirip dengan hemoglobin tetapi berwarna hijau muda. Pigmen ini membantu lintah bertahan di lingkungan berlumpur dan kekurangan oksigen, seperti rawa atau sungai. Warna hijaunya menjadi tanda adaptasi unik agar proses pengikatan oksigen tetap efisien meski dalam kondisi minim udara.
4. Ular Laut
Beberapa jenis ular laut memiliki darah berwarna kehijauan karena tingginya kadar biliverdin, pigmen hasil pemecahan hemoglobin. Pada manusia, biliverdin biasanya dibuang oleh hati, tetapi ular laut justru menumpuknya di dalam darah. Warna hijau tersebut bukan hanya efek samping biologis namun juga membantu ular laut menahan infeksi parasit dan melindungi sel dari kerusakan akibat racun laut.
5. Cacing Laut
Cacing laut dari genus Sipunculus atau Echiurus memiliki darah berwarna ungu karena mengandung hemerythrin, pigmen yang mengandung zat besi namun tidak memiliki struktur yang sama seperti hemoglobin. Pigmen ini memberikan warna ungu muda ketika terikat oksigen. Hemerythrin berfungsi baik di lingkungan laut yang miskin oksigen dan sering ditemukan pada hewan tak bertulang belakang yang hidup di dasar laut.
Keberagaman warna darah pada hewan-hewan tersebut menunjukkan betapa luar biasanya adaptasi biologis di alam. Warna yang berbeda bukan sekadar keunikan visual, tetapi juga hasil dari kebutuhan fisiologis untuk bertahan dalam habitat ekstrem seperti laut dalam hingga kutub beku. Alam memang selalu punya cara menarik untuk menjaga keseimbangan kehidupan di muka bumi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....