Berbagai Jajanan yang Ada di Pernikahan Adat Indonesia
- 30 Jun 2026 09:05 WIB
- Fak Fak
RRI.CO.ID, Fakfak - Pernikahan adat di Indonesia tidak hanya dikenal melalui rangkaian prosesi yang sarat akan nilai budaya dan tradisi, tetapi juga melalui berbagai sajian kuliner khas yang menjadi bagian penting dalam setiap upacara, salah satu elemen yang selalu menarik perhatian adalah kehadiran kue-kue tradisional. Kue tersebut yang disajikan sebagai hidangan bagi tamu maupun dijadikan hantaran dalam prosesi adat, keberadaan aneka kue tersebut mencerminkan kekayaan warisan kuliner Nusantara sekaligus menjadi simbol penghormatan kepada keluarga, kerabat, dan para tamu yang hadir dalam momen sakral pernikahan.
Setiap daerah di Indonesia memiliki jenis kue tradisional yang berbeda-beda sesuai dengan adat istiadat calon pengantin, pemilihan kue tidak hanya didasarkan pada cita rasa yang lezat atau tampilannya yang menarik, tetapi juga mengandung makna filosofis dan doa yang mendalam. Mulai dari harapan akan kehidupan rumah tangga yang harmonis, keberkahan rezeki, hingga ikatan kasih sayang yang langgeng, setiap kue memiliki simbolisme tersendiri. Oleh karena itu, kue tradisional menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pernikahan adat Indonesia karena merepresentasikan nilai budaya sekaligus menyampaikan pesan dan harapan bagi kedua mempelai.
Berikut 10 Jajanan yang ada di pernikahan adat Indonesia yang dikutip dari laman indonesianchefassociation.com :
1. Jenang atau Dodol
Jenang atau dodol merupakan salah satu kue tradisional yang hampir selalu hadir dalam rangkaian pernikahan adat Jawa. Kue ini dibuat dari perpaduan tepung beras, tepung ketan, santan, dan gula yang dimasak hingga menghasilkan tekstur lembut serta lengket. Dalam filosofi pernikahan, sifat lengket pada jenang melambangkan eratnya kerja sama, kekompakan, dan kebersamaan yang harus senantiasa terjalin antara suami dan istri dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
2. Jadah
Jadah menjadi sajian tradisional lain yang identik dengan pernikahan adat Jawa. Kue ini terbuat dari beras ketan yang dimasak menggunakan santan, kemudian dikukus dan dicetak berbentuk persegi. Teksturnya yang kenyal dan lengket serta cita rasanya yang gurih manis mengandung harapan agar hubungan suami istri selalu harmonis, saling melekat dalam kasih sayang, serta tetap bersama hingga akhir hayat.
3. Wajik
Wajik merupakan kue tradisional berbahan dasar beras ketan dan gula merah yang menghasilkan rasa manis khas serta tekstur yang legit. Dalam prosesi pernikahan adat Jawa, wajik tidak hanya disajikan sebagai hidangan untuk para tamu, tetapi juga sering dijadikan sebagai bagian dari hantaran. Kehadirannya menjadi simbol doa agar kehidupan rumah tangga kedua mempelai senantiasa dipenuhi kebahagiaan, kemanisan, dan keberkahan.
4. Roti Buaya
Roti buaya merupakan ikon dalam pernikahan adat Betawi yang umumnya dijadikan sebagai hantaran dari pihak mempelai pria. Bentuk buaya dipilih karena dipercaya melambangkan kesetiaan, mengingat buaya diyakini hanya memiliki satu pasangan sepanjang hidupnya. Setelah prosesi pernikahan selesai, roti ini biasanya dibagikan kepada kerabat atau tamu yang belum menikah sebagai simbol doa agar mereka segera dipertemukan dengan pasangan hidup yang tepat.
5. Kue Lauak
Kue lauak adalah salah satu makanan tradisional yang banyak dijumpai dalam prosesi pernikahan masyarakat Minangkabau. Kue ini dibuat dari campuran tepung beras dan ikan teri, sehingga menghasilkan perpaduan rasa gurih dengan tekstur renyah di bagian luar serta lembut di bagian dalam. Kehadirannya melengkapi sajian khas yang mencerminkan kekayaan kuliner dan tradisi masyarakat Minang.
6. Baruasa
Baruasa merupakan kue khas yang sering disajikan dalam pernikahan adat Makassar, khususnya di kalangan masyarakat Bugis. Bahan utamanya terdiri atas tepung beras, kelapa parut sangrai, dan gula merah yang dipanggang hingga menghasilkan cita rasa gurih dengan sedikit sentuhan manis. Warna cokelat yang khas pada kue ini melambangkan harapan agar ikatan rumah tangga pasangan pengantin tetap langgeng, kokoh, dan bertahan hingga akhir hayat.
7. Bannang-Bannang
Bannang-bannang juga menjadi salah satu kue tradisional yang tidak terpisahkan dari pernikahan adat Bugis-Makassar. Kue ini dibuat dari tepung beras dan gula merah, kemudian digoreng hingga renyah. Namanya berasal dari bentuknya yang menyerupai gulungan benang kusut. Filosofi tersebut menggambarkan harapan agar pasangan suami istri tetap saling terhubung, mampu menjaga kebersamaan, serta terus mempererat hubungan meskipun menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan berumah tangga.
8. Lemper
Lemper merupakan kue tradisional yang cukup populer dalam berbagai upacara adat Jawa, termasuk pernikahan. Kue ini terbuat dari beras ketan yang diisi dengan ayam suwir berbumbu, kemudian dibungkus menggunakan daun pisang. Selain memiliki cita rasa gurih, lemper juga mengandung makna filosofis yang mengajarkan agar kedua mempelai senantiasa bersikap rendah hati, tidak sombong, serta menjaga hubungan baik dengan sesama.
9. Se'ro-Se'ro
Se'ro-se'ro adalah kue tradisional yang kerap hadir dalam pernikahan adat Makassar. Kue ini dibuat dari campuran gula, tepung beras, telur, dan tepung kanji sehingga menghasilkan perpaduan rasa manis dan gurih yang khas. Dalam tradisi masyarakat setempat, se'ro-se'ro melambangkan pentingnya sikap saling melayani, menghargai, dan mendukung satu sama lain sebagai fondasi utama dalam membangun rumah tangga yang harmonis.
10. Kelicuk
Kelicuk merupakan makanan tradisional khas masyarakat Rejang yang berasal dari Sumatera Selatan. Kue ini dibuat dari pisang yang dipadukan dengan beras ketan, kemudian dibungkus menggunakan daun pisang sebelum dimasak. Dalam prosesi pernikahan adat, kelicuk memiliki makna simbolis sebagai lambang kesuburan. Kehadirannya menjadi doa dan harapan agar pasangan pengantin segera dikaruniai keturunan serta membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....