Makanan Tradisional di Hari Raya Waisak dan Maknanya
- 31 Mei 2026 18:43 WIB
- Fak Fak
RRI.CO.ID, Fakfak - Hari Raya Waisak, yang juga dikenal sebagai Trisuci Waisak, merupakan perayaan keagamaan paling sakral bagi umat Buddha di berbagai negara termasuk Indonesia, hari suci ini diperingati untuk mengenang tiga peristiwa penting dalam kehidupan Siddhartha Gautama, yaitu kelahiran, pencapaian pencerahan sempurna, dan wafatnya atau parinibbana. Setiap tahun, umat Buddha merayakan Waisak melalui berbagai rangkaian kegiatan keagamaan yang penuh makna, seperti doa bersama, meditasi, pradaksina atau berjalan mengelilingi candi dan vihara, serta pelepasan lampion sebagai simbol harapan, kedamaian, dan penerangan batin.
Perayaan ini tidak hanya menjadi momen refleksi spiritual, tetapi juga sarana untuk memperkuat nilai-nilai kebajikan, toleransi, dan kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari, selain kegiatan ibadah perayaan Waisak juga identik dengan kebersamaan keluarga dan masyarakat. Salah satu tradisi yang sering mewarnai peringatan hari suci ini adalah penyajian berbagai hidangan khas yang dinikmati bersama setelah rangkaian ritual keagamaan selesai dilaksanakan. Makanan yang disajikan umumnya mencerminkan nilai kesederhanaan, rasa syukur, serta keberagaman budaya yang berkembang di tengah masyarakat Buddha.
Beragam kuliner tradisional tersebut tidak hanya menjadi pelengkap perayaan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga menambah kehangatan dan makna dalam peringatan Hari Raya Waisak. Lalu, seperti apa saja makanan tradisional yang kerap disajikan saat Hari Waisak?, berikut penjelasan selengkapnya diktuip dari laman beautynesia.id :
1. Lotek, Simbol Kesederhanaan dan Keharmonisan
Lotek merupakan salah satu hidangan tradisional berbahan dasar aneka sayuran rebus yang disajikan dengan siraman bumbu kacang yang gurih dan kaya rasa. Sekilas, makanan ini memiliki kemiripan dengan karedok, namun perbedaannya terletak pada penggunaan sayuran yang telah dimasak terlebih dahulu. Pada perayaan Hari Raya Waisak, lotek cukup populer disajikan, khususnya di wilayah Jawa Tengah.
Pemilihan lotek sebagai hidangan Waisak tidak terlepas dari nilai-nilai yang sejalan dengan ajaran Buddha, terutama prinsip welas asih terhadap seluruh makhluk hidup. Karena berbahan dasar sayuran, makanan ini dianggap mencerminkan pola hidup sederhana dan penuh kepedulian. Selain itu, perpaduan berbagai jenis sayuran dalam satu sajian juga melambangkan keseimbangan, keharmonisan, serta rasa syukur atas anugerah kehidupan.
2. Tempoyak, Warisan Kuliner yang Sarat Makna
Tempoyak merupakan makanan tradisional khas masyarakat Melayu yang terbuat dari fermentasi daging buah durian. Hidangan ini banyak ditemukan di wilayah Sumatra dan Kalimantan, serta kerap hadir dalam berbagai perayaan budaya dan keagamaan, termasuk Hari Raya Waisak. Dalam proses pembuatannya, tempoyak dipadukan dengan berbagai rempah seperti bawang dan daun salam yang menghasilkan cita rasa khas.
Kuliner ini biasanya diolah menjadi sambal, campuran gulai, maupun pepes. Rasa asam yang berpadu dengan sentuhan manis dan pedas menjadikan tempoyak memiliki karakter yang unik dan digemari banyak orang. Dalam tradisi Waisak, tempoyak tidak hanya dipandang sebagai makanan, tetapi juga sebagai simbol kesederhanaan, kebijaksanaan, serta penghargaan terhadap proses kehidupan yang penuh perubahan dan pembelajaran.
3. Nasi Lesah, Hidangan Tradisional Penuh Rasa Syukur
Bagi masyarakat di Magelang, nasi lesah menjadi salah satu sajian yang identik dengan perayaan Waisak. Hidangan ini biasanya dinikmati setelah umat Buddha menyelesaikan rangkaian ibadah di vihara. Nasi lesah terdiri atas nasi putih yang disajikan bersama bihun, suwiran ayam, dan kuah santan berwarna kuning yang gurih. Penampilannya yang menyerupai soto membuat makanan ini mudah dikenali.
Lebih dari sekadar sajian kuliner, nasi lesah mencerminkan nilai kesederhanaan dan rasa syukur yang menjadi bagian penting dalam ajaran Buddha. Kehadirannya di meja makan juga menjadi simbol kebersamaan yang mempererat hubungan keluarga maupun komunitas. Melalui hidangan ini, masyarakat merayakan Waisak dengan suasana yang hangat, damai, dan penuh kebahagiaan.
4. Mangut Beong, Kekayaan Rasa dari Sungai Progo
Selain nasi lesah, masyarakat Magelang juga mengenal mangut beong sebagai salah satu hidangan khas yang sering hadir saat Waisak. Makanan ini menggunakan ikan beong, yaitu ikan endemik yang hidup di kawasan Sungai Progo, sebagai bahan utamanya. Ikan tersebut dimasak dengan kuah santan berbumbu rempah yang kaya rasa serta memiliki sensasi pedas yang khas.
Kelezatan mangut beong berasal dari perpaduan santan dan rempah-rempah yang menghasilkan cita rasa gurih dan aroma yang menggugah selera. Hidangan ini umumnya disajikan bersama nasi hangat dan berbagai lauk pendamping. Dalam konteks perayaan Waisak, mangut beong menjadi simbol kehangatan, kebersamaan, dan rasa syukur yang dirasakan saat berkumpul bersama keluarga maupun kerabat.
5. Nasi Gemuk, Lambang Kemakmuran dan Kebersamaan
Nasi gemuk merupakan makanan khas Jambi yang memiliki kemiripan dengan nasi uduk. Hidangan ini dimasak menggunakan santan, daun pandan, serta berbagai rempah pilihan yang menghasilkan aroma harum dan cita rasa gurih. Pada perayaan Waisak, nasi gemuk menjadi salah satu sajian yang banyak dinikmati oleh masyarakat Buddha setelah mengikuti kegiatan keagamaan di vihara.
Sebagai pelengkap, nasi gemuk biasanya disajikan bersama telur rebus atau telur suwir, ikan teri goreng, kacang tanah, timun, sambal, dan kerupuk. Kelengkapan lauk tersebut menjadikan hidangan ini tidak hanya lezat tetapi juga kaya makna. Dalam tradisi setempat, nasi gemuk melambangkan kesejahteraan, kemakmuran, keharmonisan, serta semangat kebersamaan yang tumbuh dalam suasana perayaan Waisak.
6. Kue Burgo, Sajian Tradisional yang Sarat Nilai Persaudaraan
Kue burgo merupakan salah satu kuliner khas Palembang yang cukup populer dan kerap disajikan saat Hari Raya Waisak. Makanan ini dibuat dari campuran tepung beras dan tepung sagu yang diolah menjadi lembaran tipis, kemudian dikukus, digulung, dan dipotong-potong sebelum disajikan.
Kue burgo biasanya dinikmati dengan kuah santan gurih yang terbuat dari kaldu ikan gabus. Teksturnya yang lembut serta cita rasanya yang sederhana menjadikan makanan ini disukai berbagai kalangan. Dalam tradisi masyarakat Buddha setempat, kue burgo melambangkan ketulusan, kesederhanaan, serta penghormatan terhadap warisan budaya leluhur. Hidangan ini juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan sosial dan memperkuat rasa persaudaraan di tengah masyarakat.
7. Bubur Merah Putih, Simbol Keseimbangan dan Keharmonisan
Bubur merah putih menjadi salah satu hidangan yang sering ditemukan dalam berbagai perayaan tradisional, termasuk Hari Raya Waisak di sejumlah daerah di Indonesia. Sajian ini terdiri atas dua warna utama yang memiliki makna simbolis mendalam, yaitu merah dan putih.
Warna merah yang berasal dari gula merah atau gula aren melambangkan keberanian, kekuatan, dan semangat hidup. Sementara itu, warna putih yang dihasilkan dari santan melambangkan kesucian, ketenangan, dan kedamaian batin. Perpaduan kedua warna tersebut mencerminkan keseimbangan dalam kehidupan, harmonisasi antara berbagai unsur yang berbeda, serta harapan akan keselamatan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, bubur merah putih tidak hanya menjadi makanan tradisional, tetapi juga sarana untuk menyampaikan doa dan ungkapan rasa syukur dalam perayaan Waisak.
Beragam hidangan yang disajikan saat Hari Raya Waisak menunjukkan bahwa makanan tidak hanya berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan fisik, tetapi juga memiliki makna budaya dan spiritual yang mendalam. Setiap sajian mengandung simbol-simbol yang mencerminkan nilai kesederhanaan, rasa syukur, keharmonisan, kebersamaan, dan welas asih yang menjadi bagian penting dalam ajaran Buddha. Melalui tradisi kuliner tersebut, masyarakat tidak hanya merayakan hari suci keagamaan, tetapi juga menjaga dan melestarikan warisan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....