KBRN, Fakfak : Fotografi (dari bahasa Inggris: photography, yang berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu “Photos”: cahaya dan “Grafo”: Melukis) adalah proses melukis/menulis dengan menggunakan media cahaya.
Fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera. Tanpa cahaya, tidak ada foto yang bisa dibuat.
Dilansir dari situs www.saintd.co. Fotografi memiliki peran yang sangat penting dalam dunia modern. Lewat ilmu yang satu ini, dunia bisa mengabadikan gambar dalam bentuk foto. Lewat fotografi, manusia bisa menemukan cara menghasilkan gambar dengan bantuan cahaya. Beragam alat elektronik modern pun telah dilengkapi dengan prinsip fotografi, termasuk di antaranya adalah smartphone serta kamera digital.
Keberadaan kamera serta smartphone di era modern seperti sekarang, memberi kemudahan dengan bentuk ringkas dan bisa menghasilkan foto yang bagus. Namun, pernahkah Anda berpikir, kalau produk elektronik canggih tersebut merupakan perangkat yang telah melalui banyak pengembangan dalam sejarah fotografi?
Hal yang tak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi fotografi adalah peran filsuf Yunani, Aristoteles serta ilmuwan muslim Ibnu Al-Haytam yang oleh orang Eropa disebut dengan nama Alhazen. Kedua sosok ini menjadi tonggak awal perkembangan sejarah fotografi di masa lalu.
Aristoteles pada 336 Sebelum Masehi, mengungkapkan teknologi yang disebutnya sebagai teknologi lubang jarum. Dalam pemaparannya, Aristoteles mengungkapkan kalau cahaya yang melewati lubang berukuran kecil, bisa menghasilkan gambar. Teknologi ini menjadi prinsip dasar dalam teknik fotografi.
Selanjutnya, Alhazen yang hidup pada rentang antara 965-1039 menulis buku berjudul Al-Manazir yang di dalamnya berisikan teori tentang fenomena optik. Penulis buku “Ibn al-Haytham: First Scientist”, Bradley Steffens mengungkapkan kalau Al-Manazir merupakan buku pertama dunia yang di dalamnya terdapat penjelasan mengenai sistem kerja kamera obscura (kamar gelap).
Kamera ini memiliki bentuk yang sederhana, berupa sebuah ruangan yang dilengkapi dengan lubang kecil sebagai tempat untuk masuknya cahaya. Sejak itu, para ilmuwan pun berlomba-lomba untuk terus mengembangkan kamera obscura. Dunia barat pun menjadi pihak yang begitu getol dalam melakukan pengembangan ini.
Leonardo da Vinci (1452-1519 M) menuliskan dalam catatannya tentang cara kerja kamera obscura. Dia mengatakan, ketika sebuah bangunan memiliki lubang kecil di dindingnya, maka akan diproyeksikan dalam gambar terbalik pada dinding lain yang berada di balik lubang tersebut. Penjelasan lebih rinci kemudian bisa ditemukan pada buku De Radio Astronomica et Geometrica yang ditulis oleh Gemma Frisius pada tahun 1545.
Ahli matematika dari Italia Girolomo Cardano (1501-1576 M) memperkenalkan teknologi yang disebutnya orbem e vitro. Dia menambahkan sebuah lensa bi-convex pada kamera obscura. Terakhir, Joseph Kepler (1571-1630 M), meningkatkan kemampuan kamera ini dengan pemakaian lensa negatif yang ditempatkan di belakang lensa positif.
Pada 1558, Giambattista della Porta menjadi pelopor pemakaian kamera obscura dengan desain yang lebih ringkas. Lewat idenya tersebut, pengembangan kamera obscura yang berdesain portable mulai banyak dilakukan. Awalnya, dibentuk berupa tenda, dan terakhir hadir dalam bentuk kotak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....