Inovasi Dual Track Ekosistem Atasi Persoalan Sampah di Fakfak

  • 21 Sep 2026 13:56 WIB
  •  Fak Fak

RRI.CO.ID, Fakfak - Kelurahan Fakfak Utara dipilih sebagai pilot project penerapan kolaborasi dual track ekosistem dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Program tersebut diarahkan untuk mendorong perubahan pola pikir masyarakat agar pengelolaan sampah dimulai dari lingkungan rumah tangga.

Lurah Fakfak Utara, Muhammad Erwansyah Said Hindom, mengatakan pemilihan wilayahnya sebagai proyek percontohan berkaitan dengan upaya pemerintah mendorong perubahan mindset masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari rumah.

“Terkait dengan Kelurahan Fakfak Utara dipilih sebagai pilot project, bagaimana caranya kita melakukan perubahan mindset terkait dengan pengolahan sampah,” kata Muhammad Erwansyah.

Menurutnya, persoalan sampah menjadi perhatian karena tiga distrik dengan produksi sampah terbesar di Kabupaten Fakfak, yakni Distrik Pariwari, Fakfak dan Fakfak Tengah. Kondisi tersebut turut berdampak pada wilayah Kelurahan Fakfak Utara dan Fakfak Selatan.

Ia menjelaskan, tingginya volume sampah serta kondisi tempat pembuangan akhir (TPA) yang semakin penuh dan tidak mampu menampung seluruh sampah membutuhkan inovasi dalam pengelolaannya. Salah satu langkah yang dilakukan pemerintah melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bersama PUPR adalah menerapkan kolaborasi dual track ekosistem.

“Pengolahan sampah itu dimulai dari dalam rumah. Ketika sampah itu mau diangkut, dimuat dan dibawa ke TPA, itu sudah dipisahkan, sampah organik dan sampah nonorganik,” ujarnya.

Pemilahan tersebut mencakup sampah plastik, kaca hingga sisa makanan yang dipisahkan sejak dari rumah. Dengan demikian, sampah yang dibawa menuju TPA dapat ditekan sehingga volume yang masuk tidak lagi sebesar sebelumnya.

Selain mengurangi beban TPA, Muhammad Erwansyah menyebut program tersebut juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. Sampah plastik dapat dikelola melalui Bank Sampah Fakfak Hijau sehingga masyarakat dapat menukarkan sampah yang dikumpulkan dan memperoleh nilai ekonomi.

“Selama ini kita tahu bahwa sampah itu tidak mempunyai nilai ekonomi, hanya ketika selesai dipakai terus dibuang begitu saja. Tapi sekarang tidak. Sampah plastik itu bisa ditukar, ada nilainya,” jelasnya.

Sementara sampah organik juga dapat dimanfaatkan menjadi pupuk maupun energi setelah melalui proses pengelolaan lebih lanjut. Karena itu, ia berharap kolaborasi tersebut mampu mendorong keterlibatan masyarakat dalam menyelesaikan persoalan sampah, sejalan dengan visi pemerintah daerah melalui program “Bersih Kotaku”. “Mindset-nya harus dirubah, dari ‘buanglah sampah pada tempatnya’ menjadi ‘sampahku tanggung jawabku’. Semua elemen masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda dan tokoh perempuan harus terlibat untuk mendukung program ini,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....