Karhutla Meluas, BPBD Fakfak Kerahkan Tim Gabungan
- 30 Jul 2026 14:34 WIB
- Fak Fak
RRI.CO.ID, Fakfak - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Fakfak, Papua Barat, tidak hanya di Distrik Bomberai, tetapi juga Distrik Tomage. Kondisi tersebut telah terjadi sejak Juni 2026 dan hingga 29 Juli 2026 masih dalam penanganan petugas di lapangan.
Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Fakfak, Kery W. Nafisah, mengatakan kejadian pertama tercatat pada 22 Juni 2026 di Kampung Bumi Moro Indah, Distrik Bomberai. Selanjutnya, kebakaran kembali terjadi di Distrik Tomage pada 20 Juli 2026, tepatnya di kawasan yang dikenal sebagai Bukit Teletabis dan kemudian berlanjut ke wilayah SP2.
“Jadi kebakaran hutan dan lahan yang terjadi itu bukan hanya di Distrik Bomberai, tapi juga ada di Distrik Tomage,” kata Kery saat diwawancarai terkait kejadian Karhutla di wilayah tersebut.
Kebakaran kembali terjadi pada 27 Juli 2026 dengan kondisi yang cukup hebat. Peristiwa tersebut melanda Kampung Bumi Moro Indah di Distrik Bomberai, serta wilayah Pinang Agung di SP5. Sementara Bumi Moro Indah berada di SP6 Distrik Bomberai.
Menurut Kery, BPBD Fakfak telah mengerahkan tim ke sejumlah lokasi terdampak untuk melakukan penanganan. Upaya tersebut dilakukan dengan berkoordinasi bersama pemerintah distrik, batalion, Koramil, Polsek, relawan masyarakat peduli api, aparat kampung, serta masyarakat sekitar.
“Penanganan yang kami lakukan terkait dengan Karhutla, yang pertama itu kami mengerahkan tim BPBD untuk turun ke lokasi, melakukan penanganan dengan tetap berkoordinasi dengan pemerintahan distrik,” ujarnya.
Selain melibatkan berbagai unsur, penanganan dilakukan melalui pemadaman api secara langsung. Tim BPBD bersama unsur terkait dan pemadam kebakaran bergerak menuju titik-titik lokasi kebakaran untuk mengendalikan dan memadamkan api yang masih menyala.
Di samping pemadaman, BPBD juga melakukan edukasi kepada masyarakat melalui sosialisasi mengenai bahaya kebakaran hutan dan lahan. Langkah tersebut terus dilakukan bersamaan dengan penanganan di lapangan sejak kejadian pertama pada 22 Juni hingga 29 Juli 2026.
“Kemudian penanganan juga dilakukan melalui pemadaman api. Kami bersama-sama tim yang tadi saya sebutkan, kemudian ada Damkar, menuju ke titik-titik lokasi kebakaran untuk melakukan pemadaman. Di samping itu juga rekan-rekan melakukan edukasi dengan memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya kebakaran hutan dan lahan,” jelas Kery.
Terkait penyebab kebakaran, BPBD hingga kini belum dapat memastikan pemicu utama. Namun, kondisi cuaca panas dan kemarau berkepanjangan di wilayah Bomberai dan Tomage dinilai dapat menjadi salah satu faktor yang memicu terjadinya kebakaran. Selain itu, puntung rokok yang dibuang sembarangan serta kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar juga berpotensi memicu Karhutla.
“Jadi sampai dengan hari ini pun, kami belum tahu penyebab kebakaran itu apa, pemicunya. Namun kondisi di lapangan memang saat ini di Bomberai dan Tomage itu terjadi cuaca panas, kemudian kemarau yang berkepanjangan,” katanya.
Kery menyebutkan, total luas lahan yang terbakar di sejumlah lokasi tersebut diperkirakan mencapai sekitar 35 hektare. Meski demikian, kebakaran sejauh ini tidak sampai membakar permukiman warga karena titik api berada di lahan yang terpisah dan hanya berada di sekitar kawasan permukiman. BPBD bersama seluruh unsur terkait masih melanjutkan pemadaman dan edukasi untuk mencegah meluasnya kebakaran.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....