Penyebab dan cara mengatasi Anger Issues

  • 10 Agt 2026 10:48 WIB
  •  Fak Fak

RRI.CO.ID, Fakfak - Apa Itu Anger Issues?

Marah adalah emosi alami manusia yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri. Namun, anger issues terjadi ketika seseorang tidak mampu mengendalikan kemarahannya, sehingga reaksinya berlebihan, impulsif, dan merusak hubungan sosial atau kesehatan fisik/mental,di kutip Indozone.Id.

  1. Penyebab Anger Issues
    Anger issues bukan diagnosis tunggal, melainkan gejala dari masalah yang lebih dalam. Penyebabnya biasanya kombinasi dari faktor berikut:
  • Gangguan Kesehatan Mental:
    • Depresi: Pada beberapa orang, depresi muncul sebagai iritabilitas dan kemarahan, bukan hanya kesedihan.
    • Gangguan Bipolar: Perubahan suasana hati drastis (mania ke depresi) sering disertai ledakan amarah.
    • OCD (Obsessive-Compulsive Disorder): Frustrasi akibat kecemasan yang tidak tertahan bisa memicu kemarahan.
    • ADHD: Kesulitan mengatur impuls membuat penderita mudah meledak secara emosional.
    • PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder): Trauma masa lalu membuat seseorang menggunakan kemarahan sebagai tameng pertahanan.
    • Intermittent Explosive Disorder (IED): Gangguan perilaku impulsif dengan ledakan kemarahan agresif yang tidak sebanding dengan pemicunya.
  • Faktor Lingkungan & Masa Kecil:
    • Dibesarkan di lingkungan yang sering menyelesaikan konflik dengan kekerasan verbal/fisik.
    • Pola asuh yang menekan emosi tanpa memberi ruang ekspresi.
  • Stres Kronis & Gaya Hidup:
    • Tekanan pekerjaan, masalah finansial, atau kurang tidur menurunkan ambang batas toleransi.
    • Penyalahgunaan alkohol atau zat adiktif yang mengganggu fungsi otak dalam mengontrol emosi.
  • Faktor Biologis:
    • Ketidakseimbangan neurotransmitter (seperti serotonin rendah) di otak.
  1. Gejala Anger Issues
    Gejala bisa berupa fisik, emosional, dan perilaku:
  • Fisik: Jantung berdebar kencang, otot tegang (bahu/rahang), napas cepat, berkeringat dingin, sakit kepala, atau tangan mengepal.
  • Emosional: Merasa frustrasi terus-menerus, ingin lepas kendali, mudah tersinggung oleh kritik kecil, cemas berlebihan, atau merasa disalahpahami.
  • Perilaku:
    • Berteriak, memaki, atau sarkasme menyakitkan.
    • Kekerasan fisik (memukul tembok, melempar barang, menyakiti orang lain).
    • Silent treatment (mendiamkan orang lain untuk menghukum).
    • Menyesal mendalam setelah amarah reda.
  1. Cara Mengatasi Anger Issues (Anger Management)

Tujuannya bukan menghilangkan marah sama sekali, tapi meresponsnya dengan sehat.

A. Teknik Segera Saat Marah Muncul

  1. Time-Out (Jeda Sejenak): Jika merasa emosi memuncak, minta izin untuk berhenti berdebat selama 15–30 menit. Gunakan waktu ini untuk menjauh dari pemicu.
  2. Teknik Pernapasan Dalam: Aktifkan sistem saraf parasimpatik dengan menarik napas lewat hidung (4 detik), menahan (7 detik), dan menghembuskan lewat mulut (8 detik). Ulangi hingga detak jantung normal.
  3. Hitung Mundur: Hitung dari 10 hingga 1 sebelum berbicara atau bertindak untuk memberi waktu bagi otak rasional (korteks prefrontal) mengambil alih dari otak emosional (amigdala).

B. Strategi Jangka Panjang

  1. Kenali Pemicu (Triggers): Buat jurnal emosi. Catat kapan kamu marah, apa pemicunya (lapar, macet, dikritik?), dan bagaimana reaksimu. Ini membantu mengantisipasi situasi serupa.
  2. Ubah Pola Pikir (Cognitive Restructuring): Ganti pikiran absolut seperti "Dia selalu menyebalkan" dengan "Situasi ini memang menjengkelkan, tapi marah tidak akan menyelesaikannya."
  3. Ekspresikan dengan Asertif: Sampaikan perasaanmu dengan tegas tapi tidak menyerang. Contoh: "Saya merasa kesal ketika janji ini dibatalkan tanpa kabar," bukan "Kamu tidak pernah menghargai waktu saya!"
  4. Perbaiki Gaya Hidup:
    • Tidur cukup (7–8 jam).
    • Olahraga rutin untuk membakar hormon stres (kortisol).
    • Kurangi kafein dan alkohol.
  5. Latihan Relaksasi: Yoga, meditasi, atau mendengarkan musik menenangkan secara rutin.

Kapan Harus Ke Profesional?

Segera konsultasi ke psikolog atau psikiater jika:

  • Kemarahan berujung pada kekerasan fisik atau merusak properti.
  • Menyebabkan masalah serius di tempat kerja atau hubungan pribadi (perceraian, dijauhi teman).
  • Disertai gejala fisik ekstrem (nyeri dada, sesak napas).
  • Muncul keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain.

Profesional mungkin menyarankan terapi seperti CBT (Cognitive Behavioral Therapy) atau kelas manajemen amarah (Anger Management Class). Jika ada kondisi medis dasar (seperti depresi berat), obat-obatan penstabil suasana hati mungkin diresepkan.

Melampiaskan amarah dengan berteriak atau memukul benda mati (venting) justru terbukti tidak efektif dan dapat memperkuat pola agresif otak di masa depan. Fokuslah pada teknik menenangkan diri dan komunikasi asertif.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....