Ko-Hin Andalkan Menu Khas dan Media Sosial Hadapi Persaingan

  • 06 Okt 2026 12:58 WIB
  •  Fak Fak

RRI.CO.ID, Fakfak — Persaingan usaha kuliner yang semakin beragam membuat pelaku UMKM perlu memiliki keunggulan yang membedakan produknya. Bagi Andriansyah, pemilik Bakso Ko-Hin, salah satu cara menghadapi persaingan adalah dengan menciptakan produk yang memiliki nilai tersendiri sehingga usaha tidak terjebak dalam perang harga.

Andriansyah menyampaikan hal tersebut dalam program UMKM Bicara RRI Pro 1 Fakfak. Menurutnya, setiap UMKM memiliki keunikan dan nilai masing-masing yang perlu dikembangkan sejak awal membangun usaha. Karena itu, Ko-Hin berusaha memiliki menu yang menjadi identitas usaha, di antaranya mie ayam jamur dan bakso keju.

“Sebelum buka Ko-Hin, saya sudah mengantisipasi bahwa setiap UMKM itu harus punya ciri khas dan value masing-masing. Jadi harus punya satu menu yang punya value supaya kita bisa terhindar dari perang harga,” jelas Andriansyah.

Selain persaingan, tantangan lain yang dihadapi adalah menjaga konsistensi rasa. Menurutnya, perubahan atau tidak tersedianya salah satu bahan dapat memengaruhi cita rasa produk. Karena itu, evaluasi dilakukan secara rutin dengan meminta pendapat pelanggan sebagai bahan perbaikan.

“Tantangan paling susah itu konsistensi. Ada beberapa produk yang tidak digunakan atau bahan berubah, itu bisa mengubah rasa. Makanya saya selalu minta pendapat pelanggan untuk evaluasi,” ungkapnya.

Kenaikan harga bahan pokok juga menjadi tantangan karena dapat memengaruhi margin keuntungan. Namun, kondisi tersebut dipandang sebagai bagian dari proses menjalankan bisnis. Saat ini, proses produksi Ko-Hin masih dikerjakan bersama sang ibu, dengan penjualan mie ayam dan bakso yang rata-rata mencapai sekitar 40 mangkuk per hari, meski jumlah tersebut dapat berubah karena kondisi usaha tidak selalu ramai.

Di sisi pemasaran, Andriansyah menilai pelaku UMKM perlu mengikuti perkembangan zaman. Media sosial seperti TikTok dinilai memiliki kemampuan menjangkau calon pelanggan secara cepat. Ko-Hin juga berencana memanfaatkan kreator konten untuk membantu memperkenalkan produk kepada masyarakat yang lebih luas.

“UMKM harus mengerti perkembangan zaman. TikTok salah satu platform media sosial yang cepat menjangkau pelanggan dan memperkenalkan produk,” katanya.

Andriansyah menilai pencapaian usaha bukan hanya dilihat dari jumlah penjualan, tetapi juga dari bagaimana produk dapat dikenal dan diterima masyarakat. Ia berharap Ko-Hin terus berkembang, memperbaiki sistem operasional, mampu beradaptasi dengan perubahan harga bahan pokok, serta nantinya dapat membuka lapangan pekerjaan. Bagi pelaku usaha yang baru memulai bisnis kuliner, ia menyarankan agar tidak terburu-buru dan memahami setiap detail operasional sebelum memperbesar usaha.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....