Strategi Owner Pizzadoel dan Mima’s Cooking Menghadapi Dinamika Ekonomi

  • 14 Mei 2026 09:21 WIB
  •  Fak Fak

RRI.CO.ID, Fakfak - Pelaku UMKM kuliner di Kabupaten Fakfak terus dituntut untuk beradaptasi di tengah dinamika ekonomi yang memengaruhi harga bahan baku hingga biaya kemasan. Hal tersebut dibagikan Owner Mima’s Cooking dan Pizzadoel, Eka Yutikawati, dalam program dialog “Inflasi & Investasi” bertema Langkah Adaptif UMKM Kuliner di Tengah Dinamika Ekonomi di RRI Pro 1 Fakfak, Rabu (13/5/2026).

Eka menceritakan usaha kuliner rumahannya dimulai sejak 2016 dengan belajar secara mandiri melalui tayangan memasak di televisi. Ia mengaku terus melakukan percobaan resep pizza hingga ratusan kali untuk mendapatkan cita rasa yang digunakan hingga sekarang.

“Dulu belum marak media sosial seperti sekarang. Saya belajar dari nonton masak di TV, lalu resep pizza terus saya upgrade sampai berkali-kali,” ujarnya.

Ia menjelaskan, nama Pizzadoel baru digunakan pada 2025 saat proses pengurusan sertifikasi halal. Sebelumnya, usaha tersebut dikenal dengan nama Pizza Mami Kanza. Setelah berdiskusi bersama suami, nama itu kemudian disederhanakan agar lebih mudah diingat pelanggan.

Saat ini Mima’s Cooking menghadirkan berbagai menu kuliner, mulai dari pizza dengan harga Rp50 ribu, mie titi Rp30 ribu, hingga minuman cincau kemasan dengan tiga varian rasa yakni cappuccino, milo, dan cokelat. Untuk minuman, ukuran 200 mililiter dijual Rp10 ribu, ukuran 500 mililiter Rp30 ribu, sedangkan ukuran 1 liter dibanderol Rp50 ribu dan menjadi produk paling diminati pelanggan.

Di tengah kenaikan harga bahan baku dan plastik kemasan, Eka memilih mencari strategi lain dibanding langsung menaikkan harga jual. Ia mengganti sebagian topping pizza dari daging sapi menjadi sosis dan jagung agar harga tetap terjangkau bagi pelanggan.

“Kalau bahan naik kami harus pintar mengakali. Untuk packaging juga kami belanja partai besar sebelum harga naik supaya stok tetap aman,” katanya.

Meski menghadapi tantangan ekonomi, Eka menegaskan kualitas produk tetap menjadi prioritas. Ia tidak mengurangi takaran saus maupun topping karena menurutnya pelanggan sudah mengenal kualitas produknya sejak lama.

“Kalau dus packaging habis, kami pilih tidak jual dulu karena pelanggan sudah kenal produk kami lewat packaging juga,” ucapnya.

Selain pizza dan mie titi, Eka juga bersiap meluncurkan menu baru berupa sop ubi pada 15 Mei mendatang. Ia berharap inovasi menu dan promosi yang konsisten melalui media sosial dapat membantu usahanya terus berkembang di tengah perubahan ekonomi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....