Kedai Kopi Sierra Hidupkan Ekosistem Lokal
- 27 Feb 2026 13:10 WIB
- Fak Fak
RRI.CO.ID, Fakfak - Kisah inspiratif datang dari Kampung Tanama, Distrik Pariwari, Kabupaten Fakfak. Seorang dosen Politeknik Negeri Fakfak (Polinef), Wahyudin Abdullah, memilih menekuni dunia usaha dengan membuka kedai kopi di kampung halamannya. Langkah ini menjadi bukti bahwa kalangan akademisi juga mampu berperan langsung dalam menggerakkan ekonomi lokal.
Kedai yang diberi nama Kedai Kopi Sierra tersebut resmi dibuka pada 19 Januari 2026. Nama “Sierra” diambil dari bahasa Spanyol yang berarti rangkaian gunung, merepresentasikan karakter alam Fakfak yang dikelilingi perbukitan. Wahyudin menyebut, pemilihan nama itu sekaligus menjadi identitas yang kuat dan mudah diingat.
Berbeda dari sekadar tempat nongkrong, Kedai Kopi Sierra hadir dengan konsep ruang diskusi dan literasi. Wahyudin ingin kedainya menjadi wadah bertemunya mahasiswa, komunitas, hingga pelaku UMKM untuk berdialog dan berbagi ide. “Saya ingin tempat ini bukan hanya jual kopi, tapi juga jadi ruang bertumbuh,” ujarnya.
Lokasi kedai tergolong strategis karena menjadi titik persinggahan pertama dari arah Bandar Udara Siboru menuju kawasan Tanama–Torea. Dengan desain minimalis bernuansa tenang, ornamen lampu hangat, hiasan dinding, serta sentuhan tanaman hijau, kedai ini menawarkan suasana homie yang nyaman bagi pengunjung.
Untuk menu, Wahyudin menyajikan berbagai varian kopi berbahan dasar full arabica seperti Americano, Café Latte, Cappuccino, hingga Dirty Latte. Selain minuman, tersedia pula mie titi, nasi goreng, mie kuah, dan aneka kue sebagai pelengkap. Ia menegaskan komitmennya untuk menyajikan kopi asli dan segar, bukan sekadar produk instan.
Ke depan, Wahyudin berencana menambah area semi outdoor di lantai atas kedai. Dari lantai tersebut, pengunjung dapat menikmati panorama laut Fakfak yang membentang luas. “Kalau dari atas, view-nya langsung menghadap laut. Itu yang ingin kami tonjolkan sebagai daya tarik,” tuturnya.
Melalui Kedai Kopi Sierra, Wahyudin berharap lahir ekosistem kopi yang kuat di Fakfak, mulai dari petani, peracik, hingga pelaku usaha. Ia juga menggagas pentingnya Festival Kopi sebagai ajang edukasi dan promosi produk lokal. “Kalau pecinta kopi dan pelaku bisnis bersatu, suaranya lebih kencang dan lebih didengar. Ekonomi daerah pun bisa ikut bergerak,” pungkasnya.