Pameran Mehak Tuni Sajikan Cerita Fakfak Dari Tiga Perspektif Berbeda
- 06 Agt 2026 13:40 WIB
- Fak Fak
RRI.CO.ID, Fakfak - Pameran Seni Visual Mehak Tuni menjadi wadah bagi para seniman lokal untuk mengekspresikan kegelisahan sekaligus merawat ingatan kolektif tentang Kabupaten Fakfak melalui karya-karya seni visual. Pameran yang berlangsung di Gedung Tourism Information Center (TIC) Fakfak ini menghadirkan 15 seniman dengan beragam karya yang mengangkat perjalanan Fakfak dari masa lalu, masa kini, hingga harapan di masa depan.
Ketua Panitia Pameran Mehak Tuni, Costantinus Fakrian Raharusun, mengatakan penyelenggaraan pameran tersebut berangkat dari kegelisahan yang telah lama dirasakan para seniman di Fakfak. Menurutnya, pameran menjadi ruang untuk menyampaikan cerita dan pandangan para seniman mengenai daerah yang mereka cintai.
"Pameran Mehak Tuni ini merupakan kegelisahan dari kami, seniman-seniman yang ada di Fakfak. Kebetulan dalam pameran ini baru tersedia 15 seniman yang hadir di sini," ujar Costantinus saat diwawancarai terkait penyelenggaraan Pameran Seni Visual Mehak Tuni.
Ia menjelaskan, nama Mehak Tuni dipilih karena terinspirasi dari budaya masyarakat Fakfak yang akrab dengan kebiasaan menikmati kopi sambil berbincang. Filosofi tersebut kemudian diterjemahkan sebagai ruang terbuka untuk berbagi cerita melalui karya seni.
"Kenapa kami memakai Mehak Tuni, karena seperti kebiasaan yang ada di Fakfak, baik dalam konteks yang serius maupun sekadar nongkrong, kita butuh kopi untuk lebih mudah bercerita. Melalui konsep itu kami mencoba membuka sebuah ruang yang kami anggap sebagai Mehak itu sendiri, sehingga karya-karya yang ada di sini bisa menyampaikan ceritanya masing-masing," katanya.
Costantinus mengungkapkan, gagasan penyelenggaraan pameran telah lama dipersiapkan dan akhirnya dapat diwujudkan setelah memperoleh dukungan pendanaan melalui Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan dan LPDP. Pameran berlangsung selama 10 hari dan akan ditutup bertepatan dengan peringatan hari jadi Labirin Art pada 15 Agustus 2026.
Dalam pameran tersebut, panitia membagi karya ke dalam tiga tema utama, yakni Fakfak masa lalu, Fakfak masa kini, dan harapan untuk Fakfak di masa mendatang. Melalui pembagian tema itu, pengunjung diajak mengenang sejarah, melihat kondisi saat ini, sekaligus membangun optimisme terhadap masa depan daerah.
"Dalam pameran Mehak Tuni kami membagi tiga topik untuk bercerita tentang Fakfak, yaitu Fakfak masa lalu, Fakfak masa kini, dan harapan kita untuk Fakfak yang akan datang. Ada banyak kisah di sini dan semoga semua orang yang datang bisa berbagi pengalaman yang sama serta saling bertukar cerita," ungkapnya.
Costantinus menambahkan, perjalanan Labirin Art dalam menggelar kegiatan seni telah dimulai sejak 2015, kemudian berlanjut pada sejumlah pameran berikutnya hingga 2025. Pada penyelenggaraan kali ini, panitia melibatkan lebih banyak seniman di luar komunitas Labirin serta mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan, LPDP, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Fakfak, serta sejumlah seniman dari luar Papua untuk memperkuat konsep pameran.
Ia berharap Pameran Seni Visual Mehak Tuni tidak hanya menjadi ajang apresiasi seni, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga memori kolektif masyarakat Fakfak. "Harapan dari pameran ini sangat sederhana, yaitu merawat ingatan, bagaimana cerita masa lalu dapat bertahan di saat ini dan menjadi tujuan atau arah kemajuan yang seharusnya Fakfak miliki," tutup Costantinus.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....