Pemkab Fakfak Perkuat Kolaborasi Jaga Keberlanjutan Pala Tomandin

  • 06 Okt 2026 09:39 WIB
  •  Fak Fak

RRI.CO.ID, Fakfak - Pemerintah Kabupaten Fakfak melalui Dinas Perkebunan memperkuat kolaborasi antar-pemangku kepentingan untuk menjaga keberlanjutan sekaligus marwah komoditas Pala Tomandin sebagai identitas daerah.

Penguatan tersebut dilakukan melalui kegiatan Tindak Lanjut Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Perkebunan Tahun 2026 yang digelar Dinas Perkebunan Fakfak, melibatkan berbagai unsur dalam ekosistem pala.

Kegiatan tersebut mempertemukan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Pala Tomandin Fakfak (MPIG-PTF), penangkar pala, pemilik Blok Penghasil Tinggi (BPT), Brigade Pala Tomandin, serta mitra lembaga masyarakat dan NGO.

Mewakili Bupati Fakfak, Kepala Dinas Perkebunan Fakfak Widhi Asmorojati, ST., MT. menegaskan tindak lanjut Rakornis tidak boleh berhenti pada forum koordinasi, tetapi harus diwujudkan melalui langkah nyata di lapangan.

“Kita tidak sedang membicarakan pala sebagai komoditas biasa. Kita sedang membicarakan jati diri Fakfak, warisan leluhur, sumber penghidupan masyarakat, sekaligus masa depan generasi kita.” ujar Widhi.

Menurut Widhi, pengembangan Pala Tomandin membutuhkan pembagian peran yang jelas. Pemerintah bertanggung jawab pada kebijakan, program dan fasilitasi, MPIG menjaga identitas serta reputasi, penangkar memastikan keaslian dan mutu bibit, sementara Brigade melakukan pendampingan dan respons cepat di lapangan.

Salah satu tantangan yang menjadi perhatian adalah kondisi kemarau panjang dan El Nino yang berdampak terhadap tanaman pala, terutama tanaman muda di sejumlah wilayah sentra perkebunan. Kondisi tersebut membutuhkan penguatan konservasi air, pemeliharaan tanaman, intervensi nutrisi, pengendalian organisme pengganggu tanaman dan rehabilitasi tanaman yang rusak akibat kekeringan.

Widhi mengatakan tanaman pala merupakan investasi jangka panjang karena membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga menghasilkan. Karena itu, kerusakan kebun akibat kekeringan harus menjadi perhatian bersama agar tidak mengancam keberlanjutan produksi.

“Tidak mudah menanam pala. Kita menunggu bertahun-tahun untuk menikmati hasilnya. Karena itu, kebun yang rusak akibat kekeringan harus kita pikirkan bersama untuk direhabilitasi.” ucapnya.

Ia juga mengajak masyarakat menghidupkan kembali kearifan lokal seperti Sasi Kerakera dan Meri Totora sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan alam sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keberlanjutan kebun pala.

Selain perlindungan tanaman, Dinas Perkebunan menekankan pentingnya pembenahan data perkebunan. Data harus mencakup identitas petani, lokasi, luas lahan, koordinat, kelompok tani serta kondisi kebun agar setiap program pemerintah memiliki sasaran yang jelas dan terukur.

“Prinsip kita harus jelas: data akurat, CPCL tepat, program tepat sasaran,” tegasnya.

Kebutuhan data tersebut semakin penting seiring peluang pengembangan sekitar 1.000 hektare pala di Kabupaten Fakfak pada 2026. Kesiapan lahan, petani dan bibit menjadi faktor penting agar dukungan pemerintah dapat memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.

Pada aspek perbenihan, penangkar dan pemilik BPT diminta memastikan sumber benih sesuai ketentuan untuk menjaga keaslian Pala Tomandin. Menurut Widhi, komoditas tersebut bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga melekat dengan identitas geografis dan budaya Fakfak.

“Kita bukan hanya menjual biji pala. Kita sedang menjaga identitas dan reputasi Pala Tomandin Fakfak.” kata Widgi.

Pengembangan juga diarahkan pada hilirisasi melalui pengolahan daging pala menjadi berbagai produk seperti kue, wingko, cookies, pai dan manisan. Langkah tersebut dinilai dapat meningkatkan nilai tambah sekaligus membuka peluang usaha bagi kelompok masyarakat, koperasi, UMKM dan mama-mama Fakfak.

“Pala tidak boleh hanya keluar sebagai bahan mentah. Kita harus mulai mengubah komoditas menjadi produk, produk menjadi nilai tambah, dan nilai tambah menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat.” tambah Widhi.

Dinas Perkebunan juga menekankan pentingnya menjaga produktivitas, mutu dan kontinuitas produksi sebagai dasar pengembangan investasi dan industri pala. Penguatan tersebut harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari pendataan, penyediaan bibit, budidaya, perlindungan tanaman, panen, pascapanen, pengolahan, hilirisasi, pemasaran hingga akses pembiayaan.

Widhi mengingatkan seluruh pelaku usaha agar tidak memanen maupun memperdagangkan pala yang belum cukup umur karena dapat berdampak terhadap mutu dan reputasi Pala Tomandin. Pemerintah, petani, pengumpul dan pedagang dinilai memiliki tanggung jawab bersama dalam menjaga standar komoditas unggulan tersebut.

Melalui tindak lanjut Rakornis, Pemkab Fakfak mendorong Dinas Perkebunan, MPIG, penangkar/BPT, Brigade Pala Tomandin serta mitra lembaga masyarakat dan NGO untuk bergerak dalam satu ekosistem. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat penyelesaian persoalan di lapangan, memperkuat ekonomi masyarakat dan memastikan Pala Tomandin tetap produktif, bermutu, bernilai tambah serta berkelanjutan.

“Pala Tomandin kita jaga, marwah Fakfak kita pelihara, ekonomi masyarakat kita kuatkan, dan masa depan generasi kita siapkan.” tutupnya.

.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....