Asap Karhutla Diduga Pengaruhi Kualitas Udara Kota Fakfak

  • 22 Sep 2026 13:44 WIB
  •  Fak Fak

RRI.CO.ID, Fakfak - Kondisi udara di pusat Kota Fakfak, Papua Barat, mulai mendorong sejumlah warga menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Langkah tersebut dilakukan menyusul kondisi udara perkotaan yang tampak berkabut dan jarak pandang ke kawasan perbukitan serta pulau di sekitar Fakfak berkurang pada Selasa, 22 September 2026.

Salah seorang warga Fakfak, Gemala, mengatakan dirinya mulai mengenakan masker ketika bepergian ke kantor. Menurutnya, kondisi udara di kawasan perkotaan terlihat seperti berkabut meski cuaca sedang panas dengan paparan matahari cukup terik.

"Iya saya sudah mulai menggunakan masker untuk bepergian ke kantor karena memang kondisi udara macam kabut begitu, padahal panas pica (matahari terik)," ujar Gemala.

Kondisi tersebut juga terjadi ketika hasil pemantauan indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) di pusat Kota Fakfak menunjukkan angka 119. Angka tersebut masuk dalam kategori tidak sehat atau unhealthy, sehingga masyarakat, khususnya kelompok sensitif, perlu mengurangi paparan udara luar ketika kondisi memburuk.

Sejumlah parameter pencemar turut tercatat dalam pemantauan, yakni NO₂ sebesar 5, O₃ sebesar 52, PM10 sebesar 62, PM2.5 sebesar 41, CO sebesar 231, dan SO₂ sebesar 0. Kondisi dengan indeks tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok sensitif yang lebih cepat merasakan dampak kualitas udara yang buruk.

Gemala menduga kondisi udara berkabut yang terjadi di kawasan perkotaan berkaitan dengan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah Distrik Bomberai dan Tomage. "Di Bomberai dan Tomage sana kan ada kebakaran besar-besaran, jadi mungkin angin bawa asap ke sini. Makanya berpengaruh di dalam kota juga," katanya.

Ia berharap penanganan karhutla di wilayah tersebut dapat segera dilakukan agar kondisi udara di Kota Fakfak kembali membaik. "Semoga api cepat padam dan udara kembali membaik," ucapnya. Sementara itu, masyarakat diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan apabila tidak diperlukan, terutama ketika kondisi udara kembali menunjukkan kualitas yang kurang baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....