Garam Biasa dan Garam Himalaya: Apa Sebenarnya Perbedaannya?

  • 17 Sep 2026 07:33 WIB
  •  Fak Fak

RRI.CO.ID, Fakfak - Garam merupakan salah satu bahan yang hampir selalu digunakan dalam memasak. Selain memberikan rasa asin, garam juga berperan dalam proses pengolahan dan pengawetan makanan. Saat ini, masyarakat tidak hanya mengenal garam dapur biasa, tetapi juga berbagai jenis garam, salah satunya garam Himalaya. Lantas, apa perbedaan keduanya?

Dilansir dari beberapa sumber, salah satunya Brain Academy. Garam biasa yang sering digunakan sehari-hari umumnya merupakan garam meja yang telah melalui proses pemurnian. Garam ini sebagian besar terdiri dari natrium klorida dan pada banyak produk ditambahkan yodium. Penambahan yodium dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan yodium tubuh dan mencegah gangguan akibat kekurangan yodium.

Sementara itu, garam Himalaya dikenal karena warnanya yang merah muda hingga merah muda keputihan. Warna tersebut berasal dari sejumlah mineral dan senyawa alami yang terdapat dalam garam. Garam Himalaya umumnya ditambang dari endapan garam batu di wilayah Punjab, Pakistan, bukan langsung dari pegunungan Himalaya seperti yang sering dianggap masyarakat.

Dari segi warna dan tampilan, perbedaan keduanya cukup mudah dikenali. Garam dapur biasanya berwarna putih dan memiliki butiran yang relatif seragam, sedangkan garam Himalaya memiliki warna merah muda dengan variasi warna dan ukuran kristal, tergantung pada produk dan proses pengolahannya.

Perbedaan lainnya terdapat pada kandungan mineral. Garam Himalaya mengandung sejumlah mineral dalam jumlah kecil, seperti zat besi yang turut memberikan warna merah muda. Namun, kandungan mineral tersebut umumnya tidak cukup besar untuk menjadikan garam Himalaya sebagai sumber utama mineral bagi tubuh. Sama seperti garam biasa, garam Himalaya tetap mengandung natrium dalam jumlah tinggi.

Dari sisi kesehatan, anggapan bahwa garam Himalaya jauh lebih sehat daripada garam biasa perlu dilihat secara hati-hati. Kedua jenis garam sama-sama dapat menyumbang natrium. Konsumsi natrium berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah pada sebagian orang dan meningkatkan risiko masalah kesehatan tertentu. Oleh karena itu, yang lebih penting adalah memperhatikan jumlah garam yang dikonsumsi.

Selain itu, tidak semua garam Himalaya mengandung yodium tambahan. Hal ini menjadi salah satu perbedaan penting dengan garam konsumsi beryodium. Jika seseorang mengganti seluruh garam beryodium dengan garam yang tidak mengandung yodium, asupan yodiumnya dapat berkurang.

Pada akhirnya, pilihan antara garam biasa dan garam Himalaya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan selera. Garam Himalaya mungkin menarik karena warna dan tampilannya, sedangkan garam beryodium memiliki keunggulan dalam membantu memenuhi kebutuhan yodium. Apa pun jenisnya, penggunaan garam secara secukupnya tetap menjadi hal yang paling penting.

Kesimpulannya, perbedaan utama garam biasa dan garam Himalaya terletak pada sumber, warna, proses pengolahan, serta kandungan yodiumnya. Meski memiliki beberapa perbedaan, keduanya tetap merupakan sumber natrium sehingga sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah yang wajar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....