Dosen Poltekkes Fakfak: Kesiapsiagaan Bencana Dimulai dari Keluarga
- 02 Sep 2026 13:13 WIB
- Fak Fak
RRI.CO.ID, Fakfak - Kesiapsiagaan menghadapi bencana sebaiknya tidak baru dilakukan ketika bencana terjadi. Setiap keluarga perlu mengenali potensi bahaya di lingkungan tempat tinggal, menentukan jalur evakuasi, mengetahui titik kumpul, serta membagi peran setiap anggota keluarga agar tidak terjadi kebingungan ketika keadaan darurat berlangsung.
Dosen Asisten Ahli Poltekkes Fakfak, Yasni La Harsani, S.Kep., Ns., M.Kep., mengatakan kesiapsiagaan harus dibangun sejak sebelum bencana terjadi. Menurutnya, keluarga perlu mengetahui ancaman yang mungkin terjadi di lingkungan masing-masing sehingga dapat menentukan langkah persiapan yang sesuai.
“Kalau kita tahu tempat tinggal kita memiliki potensi bahaya, kita bisa mempersiapkan diri. Tentukan jalur evakuasi dan tempat evakuasi, kemudian tentukan apa yang harus dilakukan masing-masing anggota keluarga,” kata Yasni dalam program Kentongan di Pro 1 RRI Fakfak.
Menurut Yasni, keluarga juga perlu memiliki family plan atau rencana kesiapsiagaan keluarga. Di dalamnya dapat ditentukan siapa yang bertugas membantu anak-anak, bayi, lansia atau anggota keluarga yang membutuhkan bantuan, jalur yang akan digunakan untuk evakuasi, hingga orang yang harus dihubungi ketika terjadi keadaan darurat. BNPB juga merekomendasikan identifikasi risiko, jalur evakuasi, titik kumpul, kontak darurat, tas siaga, serta latihan berkala sebagai bagian dari kesiapsiagaan keluarga.
Latihan secara berkala dinilai penting karena kepanikan dapat membuat seseorang sulit berpikir dan mengambil keputusan. Dengan simulasi, setiap anggota keluarga dapat memahami perannya dan mengetahui tindakan yang harus dilakukan.
“Kalau dilakukan berulang melalui praktik, kita akan lebih siap. Saat bencana terjadi, kita sudah tahu apa yang harus dilakukan,” ujar Yasni.
Selain rencana evakuasi, masyarakat juga perlu menyiapkan perlengkapan dasar. Kotak pertolongan pertama dapat disesuaikan dengan kebutuhan keluarga, antara lain berisi plester, perban, gunting, cairan pembersih luka, antiseptik, termometer, serta perlengkapan lain yang diperlukan. Obat-obatan pribadi sebaiknya disiapkan sesuai kebutuhan dan penggunaannya.
Untuk tas siaga bencana, Yasni menyarankan masyarakat menyesuaikannya dengan kebutuhan keluarga. Beberapa perlengkapan yang dapat disiapkan antara lain air minum, makanan, senter, baterai, power bank, peluit, perlengkapan kebersihan, uang tunai, serta dokumen penting yang disimpan dalam wadah kedap air. Kebutuhan khusus bayi dan lansia juga perlu dimasukkan apabila ada anggota keluarga yang membutuhkannya.
Yasni berharap kesiapsiagaan bencana menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat Fakfak, bukan sekadar pengetahuan yang disampaikan setelah bencana terjadi. Edukasi melalui penyuluhan, demonstrasi dan simulasi, menurutnya, perlu terus dilakukan oleh perguruan tinggi dan berbagai pihak agar masyarakat semakin tangguh menghadapi kondisi darurat.
“Harapannya masyarakat Fakfak tidak perlu menjadi tenaga kesehatan untuk bisa menolong seseorang. Yang penting memiliki pengetahuan dan kesiapan untuk membantu dengan cara yang benar,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....