El Nino Perpanjang Kemarau, BMKG Ingatkan Risiko Karhutla

  • 12 Agt 2026 14:19 WIB
  •  Fak Fak

RRI.CO.ID, Fakfak – Fenomena El Nino yang aktif di Samudra Pasifik turut memperkuat kondisi musim kemarau di Indonesia, termasuk Papua. Kondisi tersebut menyebabkan curah hujan berkurang dan periode kering berpotensi berlangsung lebih panjang dibandingkan kemarau normal.

Ketua Tim Operasional BMKG Fakfak, Robert A. Kewetare, S.Tr.Met, mengatakan secara normal Juni, Juli dan Agustus merupakan periode musim kemarau di Indonesia termasuk Papua. Namun, intensitas kekeringan dapat meningkat ketika musim kemarau berlangsung bersamaan dengan fenomena El Nino.

“Kalau musim kemarau ini bersamaan dengan El Nino, musim kering itu akan bertambah panjang. Kekeringannya juga bisa lebih tinggi dari kondisi normal,” ujar Robert dalam program “Fakfak Menyapa” RRI Pro 1 Fakfak, Rabu 12 Agustus 2026.

Menurutnya, El Nino merupakan fenomena berskala global yang terjadi akibat perubahan kondisi suhu muka laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik. Dampaknya terhadap Indonesia adalah berkurangnya curah hujan, termasuk di wilayah Papua.

Kondisi minim hujan tersebut dapat menyebabkan pasokan air tanah berkurang dan lahan menjadi semakin kering. Kekeringan juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama ketika kondisi lingkungan diperparah oleh aktivitas manusia.

Robert menyebut kebakaran lahan dapat dipicu berbagai faktor, baik kondisi alam maupun aktivitas manusia. Pembukaan lahan dengan cara membakar untuk berkebun serta membakar sampah dan meninggalkannya tanpa pengawasan menjadi salah satu risiko yang perlu diwaspadai.

Kebakaran yang terjadi di wilayah Bomberai dan Tomage, lanjutnya, tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Asap akibat kebakaran berpotensi mengganggu aktivitas dan kualitas lingkungan di sekitarnya.

Karena itu, BMKG bersama pemerintah daerah mengimbau masyarakat lebih bijak menggunakan air selama periode kemarau. Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas pembakaran yang berpotensi memicu meluasnya kebakaran, terutama ketika kondisi lingkungan sedang kering.

Robert menjelaskan, kondisi musim kemarau ditentukan berdasarkan indikator curah hujan. Salah satunya ketika curah hujan berada di bawah 50 milimeter selama tiga dasarian berturut-turut, dengan satu dasarian terdiri atas 10 hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....